
Mendengar penuturan dari Jord membuat kepala Dylan berdenyut kencang. Seketika ia kembali terbayang oleh kehadiran Laura.
"Bagaimana dengan laporanmu?"
"Begini, Nyonya jadi kemarin Nona Laura bertemu dengan seorang lelaki. Sepertinya ia sangat menyukai laki-laki itu. Hanya saja, lelaki itu tidak merespon Nona Laura sehingga ia pun memutuskan untuk membuat Nona malu."
Kening Ibunda Laura berkerut. "Sepertinya dia baru saja merasakan jatuh cinta, tetapi siapa lelaki itu?"
"Kalau begitu cepat selidiki siapa lelaki itu?"
"Baik, Nyonya."
"Jangan kembali sampai kamu menemukan fakta siapa lelaki itu sebenarnya. Kenapa bisa membuat ia sampai mengacak-acak kamarnya hingga membuat kapal pecah seperti ini."
"Baik, Nyonya. Kalau begitu saya permisi."
Setelah memastikan semuanya, Ibunda Laura segera kembali ke kamarnya. Sedangkan Laura bersiap untuk pergi ke luar kota karena ada jadwal pemotretan di sana.
"Kamu boleh menolakku kemarin, akan tetapi kamu tidak akan bisa menghindariku setelah ini."
Merasa jika hari ini situasinya sangat mendukung, Dylan bersiap untuk mengantarkan sebuah pesanan kue ulang tahun di sebuah perumahan. Berbekal sebuah alamat yang diberikan oleh Rain, ia bergegas menuju rumah tersebut.
Namun, kini ia memakai masker dan topi untuk menutupi wajahnya. Hal ini ia maksudkan agar tidak ada yang bisa mengenali dirinya kembali.
Sambil membaca secarik kertas Dylan menengadahkan wajahnya ke sebuah rumah.
"Ya, ini rumah tersebut!" gumamnya.
Beberapa kali memastikan hal itu, akhirnya ia menekan bel rumah. Seorang asisten rumah tangga membuka pintu gerbang.
"Apakah betul ini kediaman Nyonya Kirana?"
"Betul, ada perlu apa, ya?"
__ADS_1
"Ini ada pesanan kue ulang tahun untuk suaminya."
"Oh, silakan masuk!"
Asisten rumah tangga tersebut segera mempersilakan Dylan untuk masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
"Gila, di sini ada rumah mewah juga, sepertinya kalau Milley dan Jord aku ajak pindah ke sini tidak jadi mengapa?" gumam Dylan sambil melihat sekeliling.
Karena terlalu asyik menikmati suasana, Dylan sampai terkejut saat mendengar deheman sang Tuan Rumah.
"Ada apa ke sini, Mas?" sapa Nyonya Kirana pada Dylan.
"Ini pesanan kuenya, Nyonya."
"Tumben yang nganter bukan Mas Rain?"
"Iya, Nyonya kebetulan saya kurir baru."
Setelah berhasil menyerahkan kue tersebut, Dylan permisi. Dari arah halaman rumah terdapat sebuah mobil yang sangat ia kenali masuk ke dalam halaman.
"Mobil gadis itu? Semoga saja perkiraanku salah!" gumam Dylan sambil melangkah pergi.
Belum sempat Dylan keluar halaman, Laura menghentikan langkahnya.
"Hei ... hei ... Mas Kurir mau kemana?"
Dylan menghentikan langkahnya karena mendengar panggilan Laura. Namun, belum sempat Laura melangkah untuk mendekatinya, ternyata mamanya memanggil.
"Laura ke sini cepat, bantu Mama!"
"Sebentar, Ma."
"Nggak pake sebentar, cepat kemari!" ucap Nyonya Kirana hampir kesal.
__ADS_1
Akhirnya dengan kesal, Laura mendekati ibunya dan membiarkan Dylan pergi.
"Untung banget ada ibunya, dah lah cepetan cabut, atau bakal nggak bisa pulang, nih!" ucapnya lirih.
Mengetahui jika Laura sudah tidak memperdulikan dirinya, Dylan bergegas pergi.
Beruntung Nyonya Kirana segera memanggil putrinya agar masuk ke rumah dan tidak memperdulikan keberadaan kurir barusan.
Setelah sampai depan, Dylan segera menaiki sepeda motor yang sudah dikemudikan Kean dengan cepat.
"Cepat jalan, Kean."
"Memangnya kenapa sih, Boss?"
"Sudah diem, nggak usah banyak nanya!" pekiknya kesal.
Bagaimana ia tidak kesal jika setiap hari harus berhadapan dengan gadis yang menyebalkan dalam hidupnya.
"Perasaan gue kok nggak enak, ya? Apa karena sebentar ... Astaga itu tadi mobil yang kapan hari dinaiki oleh gadis aneh itu?" gumam Kean senang.
"Pasti Boss takut kebongkar nih? Wkwkwk."
Mendapati punggung Kean bergetar, membuat Dylan curiga.
"Kamu menertawakan aku, Kean! Sudah bosan hidup apa!"
"Ampun, Pak Boss. Saya tidak berani. Lagi pula saya belum kawin, gimana dengan garis keturunan saya dong!" ucap Kean seolah mengiba.
"Kalau begitu, jangan sekali-kali menertawakan saya, atau kalau kamu masih kurang a-jar sama saya ...."
"Jangan dikirim ke Amazon ya, Boss. Saya nggak sanggup, suer!"
Obrolan absurd akhirnya terjadi. Namun, karena hal itulah persahabatan bos dan asistennya bisa berlangsung dengan awet.
__ADS_1