
"Sekali lagi kau teriak, akan kupatahkan semua tulang-tulangmu!" gertak Tomy pada Milley yang sejak tadi meronta.
Milley bukanlah sosok wanita lemah. Ia pernah berada di posisi seperti ini beberapa bulan yang lalu, jadi untuk melakukannya sekali lagi ia sama sekali tidak takut.
Tomy tidak hanya sekali mencoba merobek baju Milley. Ia sudah melakukannya berulang kali bahkan sampai saat ini hanya tinggal pakaian dalam yang masih menempel di tubuhnya.
Kaki dan tangan Milley sudah terikat di sisi kanan dan kiri ranjang. Sementara itu kakinya masih dalam keadaan bebas.
"Hm, tubuhmu begitu sempurna Milley, kenapa kamu tidak menyerahkannya secara suka rela kepadaku?" tanya Tomy tanpa rasa malu.
Milley sama sekali tidak mengenal Tomy, yang ia tau mungkin ini berkaitan dengan hutang-hutang ayahnya, tetapi entah kenapa ia merasa semakin dijebak oleh ayah dan urusan hutang piutang.
Saat hendak meraba kaki jenjang Milley tiba-tiba pintu kamar Tomy didobrak dari luar. Tampillah sosok Dylan di sana.
Dengan deru nafas yang masih belum teratur, Dylan segera meraih tubuh Tomy dan memukul wajahnya secara berulang.
Karena tanpa persiapan, Tomy sempat terhempas ke sisi ranjang. Melihat situasi yang menguntungkan, Dylan segera melepas satu ikatan di tangan Milley, tetapi belum sepenuhnya ikatan itu terlepas, Dylan sudah kembali diserang dari belakang.
"Dylan ....!" pekik Milley saat melihat Dylan mengeluarkan darah dari mulutnya.
Tomy tertawa menyeringai, "Dasar bocah ingusan! Mau mencoba melawanku rupanya?"
Ia tertawa senang akan hal itu. Dengan sengaja ia menindih tubuh Milley untuk kedua kalinya. Tidak mau tinggal diam, kaki Milley sengaja ia tekuk hingga membentur barang terlarang milik Tomy.
Tentu saja pemiliknya mengerang kesakitan. Telurnya seolah retak saat ini, betapa nyerinya bagian itu. Melihat Tomy tidak berdaya, Milley melepas salah satu tangannya yang lain dan mencoba membantu Dylan.
Melihat tubuh Milley polos, Dylan melepas jas miliknya lalu menutupi tubuh Milley.
__ADS_1
"Kamu nggak kenapa-napa?" tanya Dylan khawatir sambil membelai wajah Milley.
"Nggak apa-apa ...."
Belum sempat melanjutkan ucapannya, Tomy sudah mulai berulah lagi. Beruntung sesaat kemudian terdengar suara sirine mobil polisi.
"Kita selamat, Milley."
Milley mengangguk. Kaki Tomy berhasil kena satu tembakan dari polisi, dan ia berhasil dibekuk aparat kepolisian.
Tidak mau tubuh Milley terekspose oleh lelaki lain, Dylan meraih sprei dan menutupinya sekali lagi. Tentu saja hal itu membuat Milley sesak nafas. Sudah pengap, masih ditutup rapat pula. Sontak saja Milley mendorong tubuh Dylan.
"Pengap, ogep!" peliknya.
"Wkwkwk, sorry ...." ucap Dylan tidak mau kalah.
"Sama-sama."
Setelah Tomy berhasil dibekuk, tinggallah Dylan dan Milley di ruangan itu. Keduanya terdiam, merasa kikuk dengan keadaan yang ada. Bibir Dylan terasa nyeri, akibat pukulan Tomy tadi. Namun, ia begitu gengsi jika harus terlihat lemah dihadapannya.
"Hei ...." ucap Milley membuka obrolan.
Dylan menoleh, "Apa?"
"Cariin baju dong, gue geli pake sprei kayak gini."
Bukannya menuruti ucapan Milley, Dylan malah dapat ilham untuk mengerjainya. Dengan segera ia membungkus tubuh Milley sekali lagi lalu menggendong ke bawah ala bridal style. Sontak saja ia malu, mana di bawah masih banyak aparat kepolisian.
__ADS_1
"Lu, ya, bisa nggak sih pakai cara lain biar gue nggak terlalu malu?" tanya Milley sambil membenamkan wajahnya di dada bidang Dylan.
"Enggak, gue pikir, ini cara paling efektif yang gue punya."
"Awas aja Lu ambil kesempatan dari gue, gue tonjok Lu!"
"Aduh, gue takut!" ucap Dylan seolah pura-pura.
Milley yang gemas hanya bisa memukul dada Dylan, tetapi Dylan sama sekali tidak jera. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah melindungi Milley yang entah sejak kapan mulai mencuri perhatian darinya.
Sementara di rumah Tuan Chryst, kakek itu tersenyum senang saat mendengar kedua cucunya selamat.
"Selamat Tuan, Nona dan Tuan Muda berhasil selamat."
"Iya, jangan kau ganggu suasana hatiku, sana pergi istirahat! Aku lagi pengen sendiri."
"Baik Tuan, selamat malam menjelang pagi."
"Hm."
Akhirnya insiden tersebut mengingatkan Tuan Chryst untuk benar-benar melindungi Milley dan Dylan. Hal-hal sederhana bisa memancing para musuhnya untuk mencelakai mereka.
Tanpa Dylan sadari, Milley ternyata terlelap dalam perjalanan ke rumah. Sebuah senyuman terbit di sana, meski bibirnya sakit tetapi hatinya bahagia.
Yeay, akhirnya mereka selamat, mana pendukung Milley dan Dylan nih? Dukung terus karya ini ya, makasih banyak.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1