
"Bu-bukan tetapi dokter Richard sedang mengecek kondisi seorang Dylan sekali lagi. Baru setelahnya ia akan mendapatkan pertolongan dan melakukan persiapan untuk menikah."
"Ha-ah, maksudnya?"
Tidak lama kemudian tampak Kakek dan dokter Richard turun ke lantai satu.
"Selamat siang Rose." sapa dokter Richard.
"Siang dokter."
Sorot mata kakek sama sekali tidak ramah pada Rose, apalagi ia baru saja pulang. Merasakan hawa tidak nyaman, Rose memilih untuk melenggang pergi dan menuju ke kamar Dylan.
"Kalau begitu saya permisi dokter."
Dokter Richard hanya membalasnya dengan senyuman. Sementara kakek tampak sudah tidak sabar untuk memarahi Ross setelah ini.
Benar saja sesaat setelah dokter Richard pergi, kakek segera memanggil calon menantunya tersebut.
"Rose ....!"
Merasa terpanggil, dengan terpaksa Rose meninggalkan Dylan yang masih terbaring lemas. Rose memegangi perutnya dan sesekali membuat jika Dylan punya andil di dalam hidupnya. Sesuai perkiraan, Rose memang bersekutu dengan dokter palsu yang membuat ia sering kali tersenyum sendiri.
"Bulan depan, kira-kira usia kandungan kamu masih lama?"
"Empat bulan, Kek."
"Setelah Dylan sehat dan pulih, maka kalian akan menikah."
"Baik, terima kasih banyak, Kek."
Kakek Chryst menoleh ke arah cuci perempuannya. Ia memandanginya dari ujung kaki sampai ke kepala.
"Usiamu berapa?"
"Ha-ah?"
"Aku tanya sekali lagi, usiamu berapa?"
Meski merasa ambigu dengan pertanyaan kakeknya ia tetap menjawabnya dengan jujur.
__ADS_1
"Dua pulih satu tahun, Kek."
"Bagus, mungkin saat ini, memang lebih baik menikah."
"What's menikah?"
Rose mengubah mimik wajah dengan dekolasi yang digunakan oleh warga di sana.
"Iya, kalau mereka keluar, sekarang dengannya lagi."
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih banyak, Tuan.
Setelah mendakwa calon menantu Kakek Chryst segera meninggalkan. Ruang keluarga dan pergi menjauh. Ia sengaja mendidik Rose lebih keras dari pada mendidik anaknya sendiri, karena nanti pasti banyak lelaki yang lain agar mengantri di depannya.
.
.
Di dalam mimpi, Milley kembali mendapatkan mimpi yang sama itu lagi.
Sementara itu Milley mulai mendapatkan kesadarannya kembali. Ia mengerjapkan matanya sekali lagi melihat apakah apakah ia masih selamat atau sudah berpindah ke dunia lain.
Ia menyandarkan tubuhnya di dashbord ranjang, mengedarkan pandangannya untuk mencari siapakah yang telah menyelamatkan dirinya sekali lagi, tetapi siapa pun orang yang menyelamatkan dirinya sangat berhutang budi padanya.
Tiba-tiba pintu kamarnya dibuka, muncullah seorang wanita memakai pakaian pelayan khas eropa datang menghampirinya, pelayan itu tersenyum ramah kepada Virgo.
"Nona sudah siuman?"
"Iya, maaf saya di mana ya?"
"Ini kediaman rumah Tuan Chryst, tadi pagi beliau yang membawa Nona ke rumah ini dan memanggil dokter. Oh ya, perkenalkan nama saya Mia, pelayan yang ditugaskan untuk Nona."
"Ha-ah! Pelayan pribadi? Lalu siapa Tuan Chryst?"
Seketika kepala Virgo kembali berdenyut kencang dan ia kembali pingsan. Karena terlalu panik, ia pun segera keluar kamar dan mencari keberadaan Tuan Chryst.
"Tuan ... Tuan ...."
"Kenapa Mia?" tanya Dylan yang masih sibuk memijat keningnya.
__ADS_1
"Nona itu kembali pingsan."
"Nona siapa?"
"Nona yang tadi pagi ditemukan Tuan Besar."
"Seperti apa sih wajahnya, aku jadi penasaran."
Tanpa ragu, Dylan segera naik ke kamar atas untuk melihat wanita itu dan betapa terkejutnya saat ia mengetahui siapa wanita yang ditolong kakeknya tersebut.
"Di ... dia ...."
Setelah mendapatkan mimpi tersebut, Milley mengusap keningnya yang penuh dengan keringat sebesar biji jagung. Matanya baru saja terpejam. Namun, ia harus segera kembali lagi.
Dengan cepat Milley bangun dari tempat tidurnya lalu menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Dibasuhnya wajah dan tidak lupa untuk sikat gigi.
"Kenapa aku bisa bermimpi seperti tadi?" ucapnya sambil bercermin.
Milley mendudukkan dirinya di bathub, sebentar lagi ia akan menikah, seharusnya tidak ada lagi Dylan di dalam hatinya. Belum sempat Milley beranjak, pintu kamarnya di ketuk dari luar.
"Sebentar."
Milley lalu ke luar dari kamar mandi dan membukakan pintu.
"Happy birthday gadis cantik," ucap Michael sambil membawakan kue ulang tahun untuk Milley.
"Lah, aku ultah, ya. Wkwkwk, maaf suka lupa."
"Make a wish dulu, baru tiup lilin."
"Oke."
Setelah mengucapkan doa di hari ulang tahunnya, Milley segera meniup lilin dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Terima kasih."
"Sama-sama, jangan lupa mandi trus kita jalan-jalan keluar."
"Siap."
__ADS_1