
Meskipun Dylan mengambil konsep prince dan princess, tetapi ada satu konsep kejutan pada pernikahannya nanti. Dylan sudah menghubungi beberapa teman geng motor Milley.
"Bagaimana paman, apakah semuanya berjalan dengan lancar?"
"Alhamdulilah sudah beres, Tuan Muda tinggal menunggu kabar terbaru dari saya saja."
"Baiklah, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih banyak karena Paman Jo sudah menghabiskan banyak waktu untuk mengabdi kepada keluarga besar saya."
"Sama-sama Tuan, tidak ada hal lain lagi yang lebih membahagiakan saya kecuali pengabdian."
"Baiklah, kalau begitu saya tutup telepon dari saya. Terima kasih banyak, Paman Jo."
"Sama-sama Tuan, semoga perjalanan Anda lancar."
"Aamiin."
Kenapa yang dilakukan Dylan semuanya terlihat mudah dan lancar? Semua ini karena campur tangan dari Jo, asisten sang kakek yang selalu setia kepadanya.
Peran beliau terlalu banyak sehingga semuanya terasa lebih mudah. Ia memang membantu Dylan sesuai permintaan dari Tuan Chryst. Hampir semua perintah yang diberikan kepadanya selalu berjalan lancar.
Sementara itu, rasa bahagia yang terpancar diwajah Dylan dan Milley. Hal itu sama sekali tidak bisa disembunyikan. Banyak hal yang dilalui Dylan dan Milley di tempat ini. Davin juga sangat bahagia, akhirnya Dylan bisa menemukan kebahagiaannya saat ini.
"Bro, selamat ya, aku percaya jika Milley memang yang terbaik untukmu saat ini. Tidak ada hal lain lagi yang mampu membuat dirimu terlihat sempurna."
"Jangan keras-keras nanti dia bangga," ucap Dylan sambil melirik Milley.
Tentu saja Milley menengok ke arah Dylan.
"Perasaanku kok nggak enak, ya. Apalagi telingaku terus berdengung sedari tadi."
Saat ini Milley sedang berkacak pinggang di belakang Dylan. Dylan yang tadinya memang sengaja menggoda Milley merasa jika bulu kuduknya sudah berdiri karena kehadiran Milley. Seketika Dylan menoleh ke belakang begitu pula dengan Davin.
Daripada mendapatkan auman dari Milley ia lebih memilih untuk melarikan diri.
"Bro, gua dapat telepon dari customer, gue pamit dulu, oke. Bye ... bye ... Milley yang cantik."
Setelah berpamitan dengan cepat, Davin segera berlari menuju teman-temannya. Sementara itu Dylan menelan salivanya dengan sangat susah.
"Sa-sayang, a-aku cuma ...."
"Cuma mau bilang kalau calon istrimu ini galak dan susah diatur?"
"Enggak kok, suer, nggak ada maksud aku untuk bilang begitu."
"Nggak percaya!" ucap Milley sambil melangkah pergi meninggalkan Dylan.
__ADS_1
Pada saat yang sama, ternyata Milley salah menginjak batu dan ia terpeleset hingga masuk ke dalam sungai. Tidak mau melihat Milley terluka ia segera pergi menghampirinya.
"Nggak, kamu nggak boleh kenapa-napa."
Dylan segera menyusul Milley untuk masuk ke dalam sungai. Beruntung arus sungai tidak terlalu besar sehingga Dylan bisa menemukan Milley dengan cepat.
Milley memang tidak bisa berenang, ia akan menjadi panik ketika hal seperti ini terjadi. Oleh karena itu Dylan dengan cepat segera menyusulnya.
Davin dan para kru segera mengepung Dylan untuk melihat apakah ia bisa menyelamatkan Milley atau tidak. Saat mereka sampai terlihat jika Milley pingsan. Akan tetapi Dylan segera memberikan nafas buatan untuknya.
Milley yang pura-pura pingsan, tersedak saat Dylan hendak menciumnya kembali. Tanpa sepengetahuan Dylan sebenarnya Milley sudah berlatih renang saat bersama Michael dulu.
Michael memang mengajari semua hal yang belum dikuasi Milley. Termasuk mengajari Milley untuk menyetir mobil. Semua itu ia lakukan tanpa sepengetahuan Dylan.
Michael berpesan agar Milley mengunakan hal tersebut di saat terdesak. Setidaknya jika ada yang berniat jahat pada mereka semua itu tidak dapat diprediksi oleh musuh.
.
.
Kondisi Rose sudah sedikit membaik saat ini. Sedangkan Milley sedang menyiapkan sarapan untuk Dylan di hotel. Mereka memang tidak langsung pulang karena hari ini mereka harus menjalani pemotretan untuk pre wedding season kedua.
Mereka memilih untuk melakukan pemotretan di sebuah sekolah dengan memakai seragam sekolah dan motor balap. Milley sudah memakai baju lengkap dengan helm untuk persiapan balap, begitu pula dengan Dylan.
"Kalau jalan lihat kanan kiri, takutnya kamu kesambet orang, nanti gue yang susah."
"Ya, maaf sayang. Aku tuh sangat mencintai kamu, makanya jadi over protektif kayak gini."
Milley tersedak akan gombalan Dylan yang baru saja dilancarkan olehnya.
"Sejak kapan kamu jadi perayu ulung kayak gitu?"
"Milley, tatap mata aku," ujar Dylan setengah memohon.
Tentu saja Milley langsung melihat ke arah Dylan.
"Sayang kamu tidak perlu takut dengan gombalan receh dariku, karena sebenarnya aku menutupi rasa gugupku kepadamu."
"Kenapa gugup?"
"Meskipun aku pernah pacaran, tetapi aku tidak pernah sebanyak ini dalam mencintai seorang gadis. Mungkin karena itu aku jadi sering tertinggal dalam urusan cinta."
Milley memegang kedua tangan Dylan. Melihatnya dalam-dalam lalu tersenyum ke arah Dylan.
"Mau kamu tidak pernah bersikap romantis atau suka gombal kaya lelaki lain. Rasa cinta di hatiku ini tidak akan pernah berubah. Jadi, kamu tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain agar mendapatkan perhatian dariku."
__ADS_1
"Betul begitu, Milley?"
Milley mengangguk, lalu ia mendekapnya kembali.
"Love you Virgo Anastasya Virginia."
Milley semakin mengeratkan pelukannya karena tenyata Dylan masih mengingat nama aslinya.
.
.
"Bagaimana kondisi perusahaan?" tanya Tuan Chryst pada Jo.
"Ini laporan bulanan yang Anda minta."
Jo menyodorkan beberapa berkas tentang laporan keuangan selama beberapa bulan. Sejak Dylan dirawat membuat Tuan Chryst harus kembali lagi ke kantor. Posisi CEO tidak boleh kosong, atau orang luar akan mencoba mengambil paksa darinya.
Lagi pula kondisi perusahaan sedang dalam keadaan tidak stabil saat ini, sehingga banyak orang yang bersiap untuk merongrong posisi CEO.
"Ada kabar terbaru dari Dylan dan Milley?"
"Ada Tuan. Menurut orang kepercayaan saya, mereka sangat bahagia melakukan serangkaian kegiatan sebelum acara pernikahan tiba."
"Bagus, lalu Rose?"
"Masih menjalani perawatan di Rumah Sakit saat ini."
"Kenapa?"
"Sepertinya Nona Rose mengalami pen**rahan, sehingga ia harus dirawat di Rumah Sakit."
"Oh, ya sudah kalau begitu, karena semua laporannya sudah beres semua, kamu boleh pergi."
"Maafkan saya Tuan, masih ada satu hal lagi yang mengoperasikan rumah ini seperi dulu sedang berada satu kamar dengan kekasihnya di Bali."
Tuan Chryst terlihat sangat marah akan hal itu. Ia pun memutuskan jika semua batu kerikil yang menghadang harus dibersihkan agar jalanan mereka lempeng dan nyaman.
Tuan Chryst segera menyelesaikan semua pekerjaannya. Hanya satu tujuannya kali ini yaitu pergi ke Bali.
"Jo persiapkan semuanya! Hari ini kita akan berangkat ke Bali."
"Baik Tuan, semuanya akan saya persiapkan sebaik mungkin."
Jo lalu undur diri untuk menyiapkan semua itu. Lalu setelahnya Tuan Chryst menurunkan kaca matanya.
__ADS_1
"Semoga kakek, bisa menemani kalian?"
"Nggak usah, kita udah dekat dengan Ibu Kota, jadi kakek tidak usah khawatir."