NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 49. BONUS MANIS


__ADS_3

Kekakuan dalam hubungan Milley dan Dylan semakin terlihat. Sejak pernyataan cinta dari Dylan, Milley seolah memberi jarak. Bukannya ia menolak tetapi ia belum siap.


Ada ketakutan di dalam hatinya saat ini. Apalagi awal hubungan mereka adalah semata-mata karena kontrak dan bukan karena sudah saling mengenal.


"Aku belum siap dengan hubungan yang lebih serius Dylan. Saat ini, aku belum sepenuhnya mengenalmu, lagi pula masa lalumu belum sepenuhnya selesai. Aku takut jika orang-orang itu akan semakin menyakitimu."


Milley merasakan dilema di dalam pikirannya. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti aturan main Dylan dan Tuan Chryst.


Ponsel yang biasanya selalu menemani Dylan kali ini sama sekali tidak disentuhnya begitu pula dengan Milley. Mereka sama-sama menjadi salah tingkah.


Milley teringat akan janjinya pada Michael. Dengan mengambil ponsel ia mengirim pesan kepadanya, mengatakan jika ia tidak bisa keluar malam ini.


Saat ponsel Michael menyala, ia segera mengecek hal tersebut. Berharap Milley akan ikut bersamanya malam ini.


"Maaf Kak, malam ini sepertinya aku tidak akan ikut. Mungkin kita bisa keluar lain kali."


Saat ini Milley tidak jadi keluar. Pikirannya masih berkelana, takutnya ia akan semakin khilaf jika terus bersama Michael. Meskipun sebenarnya ia juga mencintai Michael, tetapi ia tidak enak pada Dylan.


"Beginikah rasanya terjebak di dalam dua hati?"


Milley mengacak rambutnya dengan gemas.


"Kapan hari saat Evan nembak gue, rasanya biasa saja. Atau mungkin karena ia sudah aku anggap sebagai best friend gue, ya?"


Milley menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tetapi gerak-gerik Milley masih diperhatikan oleh Dylan dari tempat tidurnya.


"Kenapa jadi seperti ini, sih? Apa betul aku bukan tipe Milley? Haruskah aku menjelma menjadi Michael, si dosen yang sok kegantengan itu?"


Mulut Dylan sudah mengerucut sama persis seperti mulut ikan. Sayang Milley tidak melihatnya, kalau tidak ia pasti sudah mengolok-ngolok Dylan.


"Entahlah, wanita memang susah dimengerti!"


Dylan kesal segera menutup kepalanya dengan bantal. Rasanya ia tidak memiliki banyak waktu lagi saat ini. Hari-harinya akan lebih disibukkan dengan skripsi dan pekerjaan kantor.


"Pasti waktu bersama Milley akan berkurang setelah ini. Astaga ...."


"Hidup gue jadi rumit seperti ini dan sangat menyebalkan."

__ADS_1


Dylan benar-benar kebingungan dengan wanita tipe Milley. Belum pernah ada wanita se-unik dia. Sayangnya, rasa cinta yang terlanjur tumbuh itu kian menyiksa batinnya. Jauh lebih besar dan berbeda ketika ia mencintai Rose dulu.


"Mencintaimu ternyata butuh pengorbanan besar, Milley, tetapi aku akan berusaha. I Love You Milley."


Setelah berceloteh panjang kali lebar, akhirnya Dylan dan Milley terlelap dalam mimpi indahnya. Entah sejak kapan keduanya mulai tertidur tetapi tingkah mereka sempat diintip oleh Tuan Chryst dari cctv yang terpasang dari kamar Dylan dan Milley.


🍂Di sisi lain.


Rose yang kecewa dengan ucapan pedas dari Dylan mengeluarkan kekesalannya pada minuman keras. Musik yang berdentum sangat keras, sama sekali tidak mengusiknya.


"Wanita itu sungguh menggoda, apa kau tidak ingin mencicipinya?" tanya salah seorang pengunjung di bar tersebut.


Bahkan ia semakin terbuai dengan hadirnya lelaki bayaran. Lelaki yang dipilih Rose malam itu, adalah pekerja baru di bar tersebut. Baru tadi sore ia diterima di sana, maka dari itu ia sama sekali belum berpengalaman.


Kini Rose terbaring lemah di atas ranjang. Beberapa kancing bajunya terlepas dan membuat bagian tubuh Rose terekspose.


Tampak sekali jika Ryo sempat menelan ludahnya secara berulang kali. Jiwa laki-lakinya ingin sekali menerkam Rose. Namun, ia tidak ingin mengambil untung saat Rose masih belum siuman dan berada di bawah pengaruh alkohol. Jika ia menginginkan dalam keadaan sadar, mungkin Ryo tidak akan menolak.


Lelaki mana yang tidak tergoda dengan tubuh seksi milik Rose. Belum lagi tambahan uang yang sudah dibayarkan padanya membuatnya bebas melakukan apa pun pada tubuh clien.


Ucapan dari teman-temannya membuatnya semakin khilaf.


Ryo memandangi tubuh Rose dari atas sampai bawah. Ia sampai menelan ludah berkali-kali karenanya.


Tubuh Rose kini berbaring di atas ranjang, ia sudah kebanyakan minum malam itu. Ryo bingung harus melakukan apa kali ini. Salah satu tangannya memeluk tubuh Rose.


"Anggap saja aku sudah memenuhi tugasku," gumam Ryo sambil memeluk tubuh Rose.


"Lagi pula aku tidak berani melakukan hal yang lebih di sana. Kalau dia hamil bagaimana?"


Perang batin terasa sangat menyiksa di dalam hati Ryo. Akhirnya ia pun pasrah dan meneruskan aksinya dengan pura-pura tidur di samping Rose.


🍂


🍂


Keesokan harinya di Kediaman Tuan Chryst.

__ADS_1


Milley dengan sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. Ia tidak mau bertatap muka dengan Dylan yang menyebalkan itu. Lebih baik ia menghindari dia untuk beberapa waktu sampai pikirannya kembali tenang.


"Semoga saja Dylan belum bangun," ucap Milley sambil berjinjit ke kamar mandi.


Saat Milley ke kamar mandi, Dylan sudah bangun. Melihat Milley yang sedang mandi, Dylan berfikir untuk pergi dari kamar. Ia tidak bisa mengusai dirinya jika melihat Milley yang selesai mandi.


"Lebih baik gue pergi. Oh, ya, agar ia tidak curiga sebaiknya aku ke sana saja."


Namun, apa yang dipikirkannya salah. Dylan juga melakukan hal yang sama dengannya. Sama-sama bangun pagi, bedanya ia hanya pindah tempat tidur. Ternyata tatanan tempat tidur yang rapi sengaja dilakukan oleh Dylan, agar Milley tidak terganggu karena kehadirannya di kamar itu.


Selepas mandi, Milley berjalan cepat ke arah walk in closet. Tentu saja hal itu ia lakukan agar tidak melihat Dylan. Awalnya tidak terjadi apa-apa, sampai saat di mana ia menyalakan lampu, semuanya menjadi berubah.


Terlihat sosok Dylan yang tergeletak di atas permadani dengan keadaan menutup mata.


Milley berteriak ketika melihat Dylan dengan nyaman tidur terlentang di dalam walk in closet. Niat hati ingin mengambil pakaian ganti dan bergegas pergi, malah melihat Dylan dengan santainya telentang di sana.


"Dylan ...." pekiknya ketakutan.


Milley yang ketakutan dengan kondisi Dylan yang tiba-tiba telentang di sana, mengira jika ia jatuh terpeleset dan belum siuman. Padahal Dylan memang sengaja pindah tempat tidur agar Milley tetap nyaman di sana.


Karena teriakan Milley yang keras akhirnya ia terbangun. "Ada apa?"


Dengan segera Milley memeluk Dylan.


"Kamu tidak apa-apa, bukan?" ucapnya khawatir.


"Enggak kok."


Meskipun begitu ia sangat bahagia karena Milley sangat khawatir padanya dan memeluknya dengan erat.


"Tapi ... apapun alasan kamu, yang penting aku dapat pelukan pagi-pagi ... he he he ... Love you Milley."


Akhirnya Dylan memanfaatkan kesempatan itu untuk memeluk Milley.


.


.

__ADS_1


Wkwkwk ... emang enak dikasih bonus sama othor. Met malam Jumat, reader, jangan lupa ngaji ya.


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2