
Setelah kegiatan semi tadi siang, membuat Dylan tertidur dengan lelap. Sementara itu, Milley merasakan kram di perutnya. Maklum saja, saat itu ia masih datang bulan sehingga hal seperti ini biasa terjadi.
"Hm, kenapa rasanya sakit ...."
Milley melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Ia merasa tidak nyaman, oleh karena itu ia memilih untuk pergi ke kamar mandi dan melampiaskan semuanya di sana.
Milley menatap tampilan wajahnya di kamar mandi. Mencoba melihat apa yang terlihat di sana, meresapi rasa yang pernah ada.
Sejenak perlakuan lembut dari Michael melintas di kepala Milley. Rasanya ia merindukan kehadiran Michael yang sangat perhatian itu.
"Ya, ampun. Apa yang salah denganku saat ini?" ucapnya perlahan.
Ia memegangi perutnya, merabanya perlahan. Mencoba mengikuti arahan Michael beberapa bulan yang lalu.
"Kalau kamu sedang sendirian dan masih merasakan sakit, coba lakukan gerakan seperti ini," ucap Michael dengan tersenyum.
Saat masih bersama, sempat dua kali Michael menemukan Milley dalam keadaan seperti ini. Saat itu, Michael yang mengompres perut Milley, lalu membuatkannya sup hangat sebagai pereda rasa sakit ketika ia sedang datang bulan.
Akan tetapi rasa sakit datang secara bersamaan kali ini. "Kenapa rasanya menyakitkan di dalam sini, apakah saat ini dia juga masih merasakan sakit itu?"
Milley meraba dadanya yang bergemuruh, rasanya sakit sekali di dalam sana. Tidak terasa buliran air mata membasahi kedua pipi Milley.
__ADS_1
Kenangan dengan Michael tidak bisa terhapus begitu saja. Entah kenapa Milley tidak bisa menghapuskan semua kenangan manis saat bersamanya.
Sementara itu, Dylan yang berada di dalam kamar mengerjabkan kedua matanya, mencoba mencari istrinya. Ia meraba-raba ke sebelah, tetapi tidak ada Milley di sana.
"Di mana, dia?" gumam Milley.
Ternyata di sampingnya sama sekali tidak terlihat istrinya. Tentu saja Dylan segera bangkit dari tempat tidurnya. Ia melihat ke arah kamar mandi yang tertutup.
"Mungkin dia di kamar mandi," gumamnya.
Akan tetapi, setelah sekian lama nyatanya ia tidak kunjung keluar sehingga membuat Dylan menyusulnya ke dalam.
"Milley ...kamu di dalam?"
Saat ini ia masih berpegangan pada bathub, rasanya sungguh menyakitkan. Oleh karena itu ia pun mencoba untuk sampai di pintu.
Ceklek.
Milley membuka pintu, terlihat sekali kalau saat ini ia sangat pucat hingga membuatnya khawatir.
"Kamu kenapa?" tanya Dylan khawatir.
__ADS_1
Melihat Milley yang sangat pucat, Dylan segera mengangkat tubuhnya dan membawanya ke dalam kamar.
"Bagaian mana yang sakit?" tanya Dylan.
Milley menunjuk pada perutnya. Lalu setelahnya Dylan segera menelpon dokter pribadinya. Setelah beberapa saat, dokter tersebut tiba di kamar mereka. Ia langsung memeriksa kondisi Milley.
Dylan masih berdiri di sisi ranjang mencoba mengamati bagaimana dan ada apa sesungguhnya.
"Bagaimana dokter?"
"Istri Anda mengalami anemia dan kecapekan, setelah minum ob*t dan beberapa vitamin semoga saja kondisinya segera pulih."
Dokter tersebut tidak mengatakan yang sebenarnya atas permintaan Milley. Ia tidak mau Dylan merasa cemas saat ini. Lebih baik begini daripada membuatnya semakin bertingkah aneh-aneh.
"Jangan lupa makan sup ikannya, Sayang. Mumpung masih hangat."
"Kok tau jika sup bisa meredakan kram?" tanya Milley penasaran.
"Hm, itu karena dokter yang memberi tahu tadi, apakah ada yang salah?"
"Tidak ada yang salah, hanya saja itu membuatku mengingatkanku pada seseorang?"
__ADS_1
"Si-siapa?"