
Setelah menikah Rose tidak bisa pergi jalan-jalan ke mall atau keluar rumah. Dylan benar-benar mengurungnya di rumah, ia hanya khawatir dengan keadaan calon anak mereka. Oleh karena itu ia melakukan hal tersebut.
"Jika menjadi istrimu harus terpenjara seperti ini, aku memilih untuk tidak memperjuangkanmu, Dylan."
Rose mengeluh sambil mengusap perutnya.
"Kenapa pula kau hadir di sini, harusnya kamu sudah mati dan aku tidak akan kesulitan seperti ini."
Rose memukul-mukul perutnya yang sudah membuncit itu. Rasanya ia tidak tahan jika harus berdiam diri di rumah terus. Sedangkan Rebecca baru saja masuk rumah menantunya.
Ia tidak menyangka jika Rose memukul-mukul perutnya. Dengan segera Rebbeca mendekati dan menghentikan tangan Rose.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu seolah ingin membunuh anak ini?"
"A-aku stres Ma, Dylan tidak memperbolehkanku untuk ke luar."
Rose tergugu dalam tangisnya, ia sama sekali tidak tahu jika Rebecca datang sore itu. Andai ia tahu ia pasti akan berpura-pura baik-baik saja.
Rebecca memeluk Rose erat-erat. Ia tidak menyangka jika keputusan Dylan memilih mandiri membuat Rose stres.
"Biar nanti Mama yang bilang sama Dylan untuk memberikan ijin padamu. Oke, kamu sekarang nggak boleh nangis. Ini mama bawakan makanan kesukaanmu."
"Makasih, Ma."
Sementara itu di tempat kerja. Dylan sedang memegangi kepalanya yang sakit. Hari itu ia lupa tidak membawa obat. Sehingga tidak ada obat pereda rasa sakit untuknya.
"Aku sebenarnya sakit apa?"
__ADS_1
Dylan terus mengusap kepalanya yang terus berdenyut kencang. Hingga secara tidak sengaja ia menyenggol gelas dan airnya masuk ke laci. Tentu saja ia membuka laci tersebut. Di sana ada selembar amplop yang hampir sobek karena tersiram air, tetapi beruntung isi di dalamnya tidak rusak.
"Apa, ini?"
Dylan melihat foto-foto tersebut, memperhatikan satu persatu hingga ia sedikit bisa mengingat sesuatu.
"Aku seperti pernah melihat foto-foto mereka."
🍂FLASH BACK
"Hei, kembalikan amplop itu?"
"Nggak mau Dylan, barang yang sudah aku ambil itu artinya sudah menjadi milikku."
"Milley, please jangan sentuh barang-barang berharga milikku!" teriak Dylan.
🍂FLASH BACK OFF
"Siapa Milley?"
"Kenapa aku begitu familiar dengan nama itu?"
Belum sempat keterkejutan Dylan berhenti, Jo tiba-tiba masuk ke ruangannya.
"Jo ... ada apa kau kemari?"
"Ini ada beberapa berkas penting dari Tuan Chryst. Silakan dibaca dan dipelajari beberapa hari ke depan."
__ADS_1
Dylan menerima berkas tersebut lalu membukanya. Tidak lupa ia menyembunyikan foto tersebut dan memasukkannya ke laci.
"Oh, ya Jo ada hal yang ingin aku ketahui darimu," ucap Dylan sopan.
"Tanyakan saja Tuan, saya masih di sini."
"Siapa Milley? Kenapa aku begitu familiar dengan nama tersebut?"
Kening Jo berkerut, ada sesuatu yang sedang ia simpulkan saat ini.
"Apa yang Anda ingat tentangnya?"
"Beberapa saat yang lalu secara tidak sengaja aku mengingat sedang berebut barang dengan seorang gadis yang bernama Milley. Namun, saat aku mencoba mengingatnya aku tidak bisa."
"Kenapa begitu? Apa ada yang kalian sembunyikan dariku?"
Dylan mencoba memperhatikan Jo yang terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.
"Sepertinya memang kalian menyembunyikan identitas gadis itu," gumam Dylan perlahan.
"Aku harus mengatakan hal ini pada Tuan Chryst," gumam Jo.
Lalu apakah pertanda ini baik bagi hubungan Dylan dan Milley.
.
.
__ADS_1
...🌹Bersambung🌹...