
Rose yang bangun kaget saat melihat lelaki lain memeluk tubuhnya. Dengan sarkas ia mendorong tubuh Ryo hingga ia terjungkal.
"Siapa kamu?"
"Saya laki-laki bayaran yang semalam telah kamu sewa."
"Cih! Beraninya kamu menyentuhku, kamu jauh-jauh dariku!" gertak Rose penuh tatapan jijik.
Padahal, Ryo mempunyai tubuh atletis seperti bintang iklan susu. Hanya saja nasibnya tidak seberuntung mereka. Ryo juga minim pendidikan, oleh karena itu ia bekerja sebagai lelaki bayaran. Belum lagi wajahnya yang lumayan jika dipoles sedikit, sudah pasti banyak kaum hawa yang terpikat padanya.
"Kalau Nyonya sudah tidak membutuhkan saya, maka saya undur diri."
Meskipun Rose menghinanya, Ryo tetap berusaha untuk sopan. Lagi pula ia telah mendapatkan bayaran yang sesuai.
Sebelum Ryo pergi, Rose sempat meleparinya kembali dengan satu gepok uang tunai.
"Itu bonus untukmu! Pergilah, jangan sampai aku bertemu denganmu sekali lagi!"
Ryo memungut amplop tersebut lalu membungkuk hormat. Setelahnya ia baru beranjak pergi.
"Hidup sebagai orang miskin selalu direndahkan," gumamnya sambil melangkah pergi.
Ryo bergegas pergi ke Rumah Sakit untuk menemui ibunya. Niatnya untuk melunasi biaya operasi pagi itu. Namun, dugaannya salah, uang yang ia bawa masih kurang banyak. Ryo terduduk lemas di depan administrasi. Lututnya seolah tidak punya tenaga lagi kali ini.
"Bagaimana ini, biaya operasi untuk ibu masih kurang ...."
Ryo menangkupkan kedua tangan ke wajahnya. Kebetulan Milley baru saja selesai melakukan chek up. Secara tidak sengaja ia melihat Ryo di sana.
"Ada apa dengan lelaki itu?" gumamnya.
Tanpa ragu, Milley mendekati Ryo.
"Maaf, Mas. Kenapa Anda duduk di sini, kalau berkenan silakan pindah tempat duduk di sana."
Di tangan Ryo masih ada selembar kuitansi dan beberapa tagihan Rumah Sakit. Terlihat jelas angka-angka itu berjejer rapi.
"Nona, sebentar lagi jam kuliah Anda, sebaiknya segera pulang."
Leo berusaha mengingatkan Milley. Karena Ryo tidak bersuara, terpaksa Milley meninggalkannya di sana. Langkahnya terhenti ketika ia mengingat dirinya beberapa bulan yang lalu. Saat ia kesusahan uang untuk pengobatan ibunya. Di tas kebetulan ada sejumlah uang dan kartu atm.
"Mungkin, Mas-Mas tadi lagi ada masalah dengan uang. Sebaiknya aku membantunya."
Milley membalikkan badannya, kembali berjalan ke arah lelaki tadi.
__ADS_1
"Mas, mungkin saya bisa bantu."
Ryo mendongakkan wajahnya, ada sedikit cahaya kehidupan di sana. "Benarkah, Anda mau membantu saya?"
"Mungkin, semoga saja cukup."
Ryo kembali berdiri lalu mulai menatap ke arah suster bagian administrasi kembali. "Mbak saya ingin membayar biaya operasi atas nama Ibu ...."
"Sebentar!"
Setelah Ryo menyebutkan nama dan bangsal tempat ibunya di rawat, suster tersebut membacakan nominal harga yang harus di bayarkan.
Milley menyenggol lengan laki-laki itu. Lalu segera mengambilkan uang kas lalu menambahkan dengan beberapa rupiah dari kartu atm miliknya.
"Semoga Tuan Chryst tidak marah akan hal ini," ucapnya dalam hati.
Setelah semuanya beres, Milley pamit. Tidak lupa Ryo berterima kasih padanya. Namun sayang, ia lupa tidak menanyakan nama Milley karena ia buru-buru pulang.
🍂Dua jam kemudian.
Milley jadi terlambat akibat menolong Ryo. Mau tidak mau ia harus mendapatkan hukuman dari Michael. Di luar jam kuliah mereka memang berteman, tetapi di saat mata kuliah masih berlangsung maka sudah dipastikan hubungan itu akan menjadi guru dan murid.
"Bisa nggak materinya yang gampang dikit, atau nih orang sengaja hukum gue, ya?"
Mata Milley memang memandang lurus ke depan, sayangnya ia kurang konsentrasi. Michael memang tidak memberikan hukuman secara langsung, melainkan hanya menyelipkan hukuman tersebut di dalam mata kuliahnya.
"Milley mata kuliah hari ini sampai di sini dan tugas dikumpulkan besok pagi."
"Siap, Pak Dosen."
Saat Michael hendak pergi, Milley menahannya. "Maaf."
Michael menoleh, "Untuk ....?"
"Maafkan semalam aku tidak membalas pesan kamu, aku langsung tidur sepulang dari Rumah Sakit," ucapnya sambil menunduk.
"Kenapa? Kamu sakit lagi?"
Michael memegang bahu Milley, tatapannya sangat intens. Di dalam bola matanya terlihat kekhawatiran di sana.
"Udah dichek dokter, kok. Pak Dosen tenang aja."
"Syukurlah kalau begitu."
__ADS_1
"Tapi, Bapak enggak marah, kan?"
"Marah, tapi kesehatan kamu jauh lebih penting. Yang paling utama kamu baik-baik saja dan kerjakan tugasnya dengan baik."
"Siap. Terima kasih."
Michael mengacak gemas rambut Milley lalu pamit pergi.
"Tumben nggak main dulu?"
"Ada pekerjaan penting menunggu, aku takut kalau di sini mulu, bakal khilaf, wkwkwk."
"Wkwkwk, oke deh."
Michael bergegas pergi. Lalu setelahnya Jo benar-benar datang untuk menjemput Milley.
"Selamat siang, Nona. Maaf apakah Anda sudah siap?"
"Eh, iya. Sebentar ... maaf aku baru selesai kuliah."
"Baiklah, saya menunggu di depan. Oh, ya ... apakah tidak ada yang ingin Anda katakan pada saya?"
Ucapan dari Jo sedikit ambigu, tetapi Milley ingat akan kejadian beberapa saat yang lalu. Milley menghentikan langkahnya lalu berbalik.
"Tadi aku menggunakan uang Tuan Chryst untuk membantu seseorang di Rumah Sakit. Ibu dari lelaki itu membutuhkan uang yang banyak. Maka dari itu aku memakai kartu atm tersebut."
Milley sama sekali tidak mengurangi atau melebihkan ceritanya. Ia lebih suka berkata jujur daripada kebiasaan berbohong.
Jo tersenyum akan kejujuran Milley. "Terima kasih Nona, untuk kejujuran Anda."
"A-apa Tuan Chryst tidak marah?"
"Selama itu untuk sebuah kebaikan, maka saya mewakili beliau mengucapkan banyak terima kasih."
Sesaat kemudian, Jo membungkuk memberi hormat. Milley yang kikuk hanya bisa tersenyum pasrah. Lalu, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.
"Sikap orang kaya memang berbeda. Beda sekali dengan aku dan lelaki tadi yang bingung jika harus berhadapan dengan uang."
Dari kejauhan Jo memandang kagum ke arah Milley. "Semoga saya tetap bisa menjaga Anda dan Nyonya Lena."
...🌹Bersambung🌹...
.
__ADS_1
.
Sebenarnya Jo siapa ya? Penasaran, simak terus kelanjutan Milley dan Dylan ya.