NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 95. MUSIBAH


__ADS_3

Perjalanan cinta Dylan dan Milley akhirnya di mulai. Senyuman kebahagiaan yang tampil pada wajah Dylan di sepanjang perjalanan tidak pernah luntur. Bahkan salah satu tangannya terus menggenggam tangan Milley.


Seolah ia benar-benar takut jika Milley pergi meninggalkannya. Dylan benar-benar tidak mau kehilangan Milley untuk kedua kalinya.


Rasanya nafas Dylan yang semula hilang, kini sudah kembali lagi. Sebelumnya ia tidak pernah terbayangkan jika perjalanan cinta mereka akan serumit ini. Akan tetapi ia sangat beruntung ketika Milley mulai menerimanya. Mengingat Milley sangat sulit untuk di taklukan dan usaha yang dilakukannya sangat banyak waktu itu.


"Milley aku harap kau tidak akan pernah pergi meninggalkan aku lagi."


"Nggak janji."


"Kenapa? Apa kau masih ingin bersama dia?"


"Dia siapa sih? Aku hanya ingin mengatakan jika hal ini tidak ada hubungannya dengan dia. Semua tergantung perlakuanmu kepadaku."


"Oh, kirain."


"Dih, pede banget!"


Meskipun Milley bersikap seolah ia baik-baik saja, tetapi pernyataan bersalah di dalam diri Dylan terus menghantuinya. Terlebih ketika ia tau bahwa ibunya Milley sedang sakit keras. Mungkin karena itu dia bisa bekerja pada kakeknya. Dylan tidak mempersalahkan hal tersebut, yang terpenting Milley sudah hampir menjadi miliknya.


Dylan merasa sangat bersalah saat ini, sekarang ia sudah bersiap untuk menyambut lembaran baru bersama Milley. Sepulang dari kediaman Michael, rencananya mereka akan melangsungkan pernikahan. Semuanya sudah dipersiapkan dengan sangat matang oleh Dylan.


"Tetapi setelah ini aku akan menjadikanmu satu-satunya permaisuri di hatiku. Tidak akan pernah ada lagi wanita lain di dalam sana."


"Oh, ya?"


Dylan mengangguk dan mencium punggung tangan Milley.


"Namun, apapun yang akan terjadi ke depannya, aku berharap kau akan tetap percaya padaku. Jangan pernah terhasut dengan apapun di luar sana. Aku tegaskan kembali. Hatiku ini hanyalah padamu seorang."


Sementara urusan perceraian Rose dan Dylan sudah dilakukan sejak satu bulan lalu. Sejak Rose ketahuan berselingkuh, maka Tuan Chryst sudah memutus ikatan pernikahan mereka.


Dylan langsung menjatuhkan talak saat itu juga, karena pernikahan mereka adalah pernikahan siri, maka saat itu pula ikatan cinta mereka terputus. Meskipun begitu, masa iddah untuk Rose masih berlaku.


FLASH BACK OFF


"Milley maafkan untuk semua kesalahan yang pernah aku perbuat padamu, ya."

__ADS_1


"Untuk apa berkata begitu?"


"Aku bahkan merasa sangat terhina saat ini, jadi maafkan untuk semua kesalahanku. Aku berharap kita bisa melangkah maju bersama-sama."


Dylan mengatakan kesungguhan hatinya di depan Milley. Saat ini keduanya sedang menghabiskan waktu makan siang di sebuah resto. Sepulang dari kediaman Michael, sangat nampak jika mereka berdua merasa kelaparan saat ini.


"Bagaimana kalau kita berhenti untuk makan siang, sepertinya jarak yang akan kita tempuh masih jauh."


"Oke."


Perjalanan mereka masih jauh, oleh karena itu mereka harus mengisi perut terlebih dahulu. Tidak mungkin Dylan memaksakan isi hatinya, ia juga tidak boleh egois saat ini. Apapun yang terjadi hanyalah kebetulan siang itu.


"Bagaimana, apa ucapanku sungguh membuat kacau situasi?"


"Tidak selalu ...."


"Tetapi kau sangat lama untuk membahas rasa cintaku barusan. Berarti ada yang salah di dalamnya."


"Iya, meskipun kamu tidak pernah meminta maaf padaku tetapi aku sudah memaafkan semua kesalahan kamu, kok."


"Mungkin luka yang aku perbuat tidak akan bisa menggantikan waktumu yang terbuang, tetapi aku berjanji akan menjaga cinta ini untukmu meski aku harus terluka."


"Aku tidak ingin kamu, ataupun aku terluka lagi, sudah cukup kita berjuang kemarin. Saat ini kita akan membuka lembaran baru dengan cerita yang baru."


Milley menatap Dylan penuh arti.


"Tetapi, jika kesempatan ini kamu sia-siakan kembali, maka jangan harap kamu bisa bertemu denganku lagi!" ucap Milley penuh ketegasan.


Dylan tersenyum senang dan mengangguk.


"Aku berjanji."


...***...


"Sudah, sudah cukup ...." rintih Rose ketika tubuhnya berada di bawah kungkungan lelaki itu.


Saat ini ia sudah pasrah berada di dalam dekapan lelaki itu. Rose tidak mempunyai pilihan lain saat ini.

__ADS_1


"Terima kasih sayang, untuk semua cinta yang pernah kau berikan padaku."


Namun, mereka tidak sadar jika Rose mengalami flek pada kehamilannya. Hingga saat mencapai puncak kenikmatan itu, Rose berteriak kencang.


"Sa-sakit ...." ucap Rose sebelum pingsan.


Sontak saja lelaki itu panik seketika. Ia pun segera menyelimuti tubuh Rose dengan selimut dan melarikannya ke Rumah Sakit. Tidak lupa ia mempersiapkan dokter terbaik untuk Rose karena anak yang berada di dalam kandungan Rose amat dinantikan oleh laki-laki itu.


Sesampainya di Rumah Sakit, pertolongan pertama segera dilakukan padanya. Semua tenaga medis melakukan tugasnya dengan cekatan. Beruntung bayi yang berada di dalam kandungan Rose selamat, hanya saja membutuhkan banyak da**h untuknya.


"Bagaimana keadaan istri saya?"


"Kondisinya sudah selamat dari masa kritis. Sepertinya istri bapak mengalami rasa tertekan yang cukup dalam sehingga terjadi kompikasi yang serius di sana."


"Lalu, apa yang harus saya lakukan?"


"Sepulang dari sini, sebaiknya istri Anda harus banyak diajak jalan-jalan atau boleh dibawa ke psikiater, agar kondisinya segera membaik."


"Namun, sebelum itu dilakukan biarkan dia beristirahat terlebih dahulu. Hal ini bisa mengakibatkan luka serius jika Anda memaksakan hal ini."


"Baiklah kalau begitu, saya akan berusaha menjaga kehamilan istri saya sebaik mungkin."


"Baguslah kalau begitu, sebab tekanan batin yang terus menderanya dan halusinasi yang ia ciptakan sendiri seolah mengukung dirinya agar ia tetap merasakan bersama seseorang yang didambakannya."


"Kalau tidak, saya takut istri Anda akan g*la setelah melahirkan."


"A-apa! G*la! Kenapa bisa begitu? Lalu bagaimana nasib anak yang dikandungnya?"


"Kemungkinan ia tidak akan kenapa-napa, karena belum ada indikasi yang mengarah kesana."


"Hhh ... cobaan apa lagi ini?"


"Aku harus menyelamatkan mereka, kalau perlu biarkan aku membawa mereka pergi dari kota ini dan bersamanya pergi ke luar negeri. Mungkin ia ingin liburan bersamaku saat ini."


Lelaki itu terus mengupayakan agar kemungkinan terburuk itu tidak terjadi padanya. Lelaki itu menginginkan agar semua kebaikan akan menyertai dirinya dan calon keluarga kecil yang akan ia bina.


"Rose, aku berjanji padamu, setelah kamu sehat, maka kamu akan aku bawa pergi dari sini. Setelahnya kita akan bersama-sama membesarkan anak yang ada di dalam kandungannya."

__ADS_1


Lelaki itu membelai wajah Rose dengan lembut. Sesekali ia mencium kening wanita yang telah menjadi tambatan hatinya selama ini. Tidak ada hal lain yang membuat hatinya bahagia kecuali calon anak yang berada di dalam kandungan Rose.


Apalagi setelah hasil USG keluar, yang menyatakan jika calon anak mereka adalah laki-laki. Sungguh beruntung Rose bisa mengandung anaknya, karena setelah ini akan menjadi calon pewaris tunggal kerajaan bisnisnya.


__ADS_2