NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 107. SORRY, GUE LUPA


__ADS_3

Menunggu adalah hal yang paling menyebalkan bagi setiap manusia, begitu pula dengan Dylan yang masih asyik mondar-mandir di dalam kamar. Sudah setengah jam Milley berada di dalam kamar mandi tetapi ia belum juga keluar dari sana.


"Apakah Milley baik-baik saja, kenapa ia belum keluar dari dalam kamar mandi?"


Lamunan Dylan terusik ketika Milley sudah membuka pintu kamar mandi, tetapi ternyata Milley hanya mengintip di sana. Dylan yang sudah panik segera mendekati pintu kamar mandi.


"Kamu kenapa, Sayang. Kok lom keluar, cuma ngintip pula?"


Dylan menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu melihat ke arah Milley yang masih belum beranjak dari kamar mandi.


"Mas, boleh minta tolong nggak?"


"Ha-ah, minta tolong apa?"


"Ambilin pembalut di koper aku!"


"Ha-ah!"


"Pem-ba-lut?" ucap Dylan terbata.


Saat Milley mengatakan hal itu rasanya dunia Dylan runtuh seketika. Harapan untuk membelah duren malam nanti pupus sudah. Lututnya seketika terasa lemas tidak berdaya, tetapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Mungkin karena Dylan kurang sedekah oleh karena itu ia mendapatkan bonus dadakan dari Sang Pencipta Kehidupan.


"Mas, cepetan!" seru Milley gemas dengan tingkah Dylan yang terlihat kecewa.


Meskipun ia kecewa tetapi ini sudah takdir, terus harus gimana lagi coba, masa iya harus disumpal biar nggak bocor.


Akhirnya meski terpaksa, Dylan tetap mengambilkan pembalut untuk istrinya yang tercinta dan malam itu gagal dong membobol gawangnya.

__ADS_1


.


.


Suasana pagi hari begitu terasa nyaman dan hening. Hanya kicauan burung yang terdengar menyemarakkan suasana pagi itu. Tidak ada gemericik air seperti biasanya. Kilau sang surya belum juga nampak mengintip dari celah tirai jendela. Sehingga kenyamanan hakiki dapat dirasakan keduanya.


Sepasang suami istri baru itu masih asyik bergelung di dalam selimut yang hangat. Saling menyalurkan kehangatan satu sama lain. Sampai salah satunya terusik karena memegang suatu benda. Ternyata barang itu adalah barang terlarang.


"Aaaa ...."


"Huaaaaa ...."


Lemparan bantal dan guling tidak terelakan lagi saat ini. Kamar yang dulunya rapi kini terlihat berantakan.


Betapa tidak terkejut saat Milley merasa ada yang meraba tubuhnya. Begitu pula dengan Dylan yang tidak sengaja memeluk tubuh Milley dan menyenggol aset sensitifnya.


"Kau yang mesum!"


"Kamu!"


"Kamu, ogeb!"


Saat bangun tidur yang harusnya berteriak adalah Milley, tetapi kali ini Dylan juga ikut berteriak. Karena terkejut, dengan sengaja Milley mendorong tubuh Dylan menggunakan kedua kakinya.


"Jauh-jauh Lu!"


Tentu saja Dylan terguling ke lantai hingga membuatnya berteriak.

__ADS_1


"Milley!" pekik Dylan sambil mengusap kepalanya.


"Apa Lu, beraninya naik ke tempat tidur gue! Mau ambil kesempatan ya?"


"Nih orang lupa atau emang amnesia sih!"


"Apa Lu liat-liat!"


Milley sontak menyilangkan kedua tangannya di depan dada, sementara itu Dylan terkikik geli.


"Wkwkwk, gue khilaf sayang."


"Bengek, woi!"


Satu bantal berhasil mengenai kepala Dylan kembali.


"Gue gelai saat Lu panggil sayang, sudah seenak jidat manggil gue sayang, masih berani naik ke ranjang pula!"


"Tapi Lu senang, kan. Satu ranjang dengan Dylan, gitu Loh!"


"Dylan, jangan mancing deh."


"Milley, Sayang. Gue kan suami kamu, masa harus ingetin terus sih!"


Dylan yang kesal menghentak-hentakkan kakinya karena kesal. Bisa-bisanya Milley lupa status mereka berdua.


Sudah semalam tidak dapat jatah, pagi-pagi dapat tendangan cinta dari istri tercinta. Nasib Dylan di tempat honeymoon apes bener.

__ADS_1


__ADS_2