
Robby masih asyik menenggak alkohol. Uang yang didapatkan secara sempurna ia gunakan untuk berfoya-foya. Robby memang tidak pernah insyaf untuk hal ini. Saat ini ia sedang bersiap-siap untuk mencari keberadaan Milley dan ibunya.
"Kemana anak sialan itu?"
"Kenapa aku sama sekali tidak bisa menemukannya?"
"Hm, tetapi awas saja kalau mereka sampai melupakan aku dan hidup seenaknya."
Robby yang sudah mabuk semakin meracau tidak jelas. Hidupnya Robby sudah hancur tepat di saat ia masuk penjara. Kehilangan anak dan istri, lalu di campakkan oleh kekasih gelapnya membuat Robby semakin terpuruk.
Dengan langkah gontai, Robby berulah dan kembali ke rumah kontrakannya. Di dalam perjalanan, entah kenapa ada beberapa preman yang bersiap untuk menghajarkannya malam ini.
Benar saja, sesaat kemudian mereka menjadi gila dan menyerang Robby secara membabi buta. Penderitaan Robby belum berakhir. Hal itu membuat tubuhnya babak belur dan terluka cukup parah.
Saat ini tubuh Raymond terlentang di jalanan. Deras bujan yang turun, membuatnya seolah dimandikan oleh bumi.
Sementara itu, di Rumah Sakit, Milley sedang melakukan pemeriksaan sebelum menikah. Ia harus mengumpulkan beberapa syarat dan mengumpulkannya di Kantor Urusan Agama.
__ADS_1
Kedua calon pengantin tersebut sangat bersuka cita. Kaki Milley juga sudah sembuh saat ini sehingga ia tidak perlu lagi memakai crutch. Keduanya segera pulang ke rumah untuk makan siang. Kebetulan jam sudah menunjukkan jam makan siang. Oleh karena itu mereka sangat buru-buru.
"Mas, alhamdulillah prosesnya cepat dan nggak antri."
"Hu-um, syukurlah. Tuhan memudahkan langkah kita untuk mengikat janji suci."
"Iya."
Sebuah konsep pernikahan juga telah mereka persiapkan dengan baik. Tidak ada hal yang terlupa sampai dekorasi wedding juga telah mereka pilih. Tidak lupa mereka menyewa jasa Wedding Organizer di sana. Beberapa souvenir pernikahan juga turut mereka persiapkan.
Namun, dari sisi lain dan arah yang berlawanan, Andreas sedang menuju ke kediaman Milley. Mereka sama sekali tidak menyangka jika Ayah Dylan berhasil menemukannya.
Seketika bayangan Andreas sewaktu muda terlintas di benak Nyonya Lena.
FLASH BACK
"Lepaskan aku, lebih baik kamu pergi, kita putus!"
__ADS_1
"Ta-tapi Mas, aku nggak mau kita pisah."
"Len, please lebih baik kamu pergi, kamu tau sendiri kalau ibuku tidak suka akan kehadiranmu, pergilah!"
Belum sempat mereka berpisah baik-baik, Nyonya Morena datang dengan keangkuhannya.
"Jadi seperti ini caramu menghormati keputusan Mommy, bukankah sebentar lagi kamu akan menikah Andreas?"
Sadar akan kehadiran Mamanya, Andreas muda menampik tangan Lena dengan kasar. Untung saja ia tidak terjatuh, tetapi hal itu membuat hati Lena sakit bukan kepalang. Andreas dengan gagahnya berdiri dekat Mamanya, mencoba mengambil hati darinya agar beliau tidak marah.
"Aku sangat menghormati keputusan Mama, hanya saja Lena tidak mau berpisah denganku!"
FLASH BACK OFF
Lena memegangi kepalanya yang berdenyut kencang. Kakinya lemas tidak berdaya. Ingatan di masa lalu itu sungguh membuat jiwa Lena rapuh. Melihat calon mertuanya sakit, Michael mulai mengusir Andreas.
Namun, usahanya tidak berhasil. Ia bersikeras untuk menemui Lena atau Milley untuk membantunya. Apakah Andreas mampu mengatakan keinginannya itu dan membuat hubungan Milley dan Dylan kembali? Entahlah, tetapi hal itu sangatlah membuat Milley cemas dengan kondisi ibunya begitu pula dengan Michael
__ADS_1
Bersambung.