NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 14. DRAMA ROSE


__ADS_3

Merasa dipermainkan, Rose tidak tinggal diam. Baginya pantang untuk tidak membalas semua perlakuan Dylan dan kekasih barunya. Rose melanjutkan langkahnya ke kelas. Ia mendudukan pantatnya di kursi sambil membanting tasnya ke atas meja.


"Astaga Cin, sabar napa sih?" ucap Cica sambil membetulkan riasannya.


Tentu saja Cica kaget akan perlakuan itu. Tidak biasanya sahabatnya ini masuk kelas dengan amarah.


"Mana Dylan? Kok tumben dia lom datang, Cin?"


Rose menatap tajam ke arah Cica sambil melotot.


"Ampun, akika masih mau hidup, tulung!" ucap Cica lebay.


Keterkejutan Cica belum terobati karena dosen sudah masuk ke dalam kelas. Ia datang bersama Dylan dan seorang wanita.


"Rose ... Rose liat deh, cowok lo datang, tapi bawa cewek!"


Cica menggoyang-goyangkan tubuh Rose yang masih menelungkupkan wajahnya. Mata Rose langsung menangkap sosok wanita yang baru saja menjadi duri dalam kisah cintanya bersama Dylan.


Rose menyeringai, "Pas banget lo satu kelas sama gue, kita lihat seperti apa wajah kamu yang sebenarnya."


Tentu saja hati Rose memanas, banyak di antara mahasiswa yang memuji kecantikan Milley dan menyebutnya lebih cocok ketimbang dirinya.


"Kayaknya bakal ada perang dunia nih?"


"Kayaknya Bro, liat aja tuh taring Rose dah keluar, wkwkwk."


"Untung Dylan udah lepas sama dia."


"Yo i."


Ucapan sahabat-sahabat Dylan semakin membuat panas kuping Rose. Apalagi tanpa permisi, Milley duduk tepat di samping Rose. Ia mengulurkan tangan sambil tersenyum ke arahnya.


"Hai Kak, aku Milley, salam kenal. Semoga kita bisa bersahabat."


Dengan emosi Rose menyambut uluran tangan Milley. Saat ia hendak meremas tangan Milley ternyata Milley sudah lebih dulu meremas tangan Rose dengan kuat hingga ia mengaduh.


"Argh sial, kayaknya si cupu tapi ternyata ...." batin Rose.


"Jangan harap gue bertindak lemah kali ini, Dylan adalah tanggung jawab gue, kalau cuma cewek model kek kamu, gampang di jinakin," batin Milley.


"Lagi pula ini hanya sebentar, setelah ini aku akan pergi dan meninggalkan sandiwara ini."


Setelah puas berkenalan dengan mantan Dylan. Milley kembali berjabat dengan teman mejanya sembari tersenyum, tetapi ia bersikap ramah pada mereka.

__ADS_1


Rose masih mengibas-ngibaskan tangannya yang panas akibat Milley. Sorot matanya mengiba ketika Dylan memandangnya.


"Sayang, liat deh dia kasar sama aku," arti sorot matanya ke arah Dylan.


Dylan tidak memperhatikan Rose melainkan ingin melihat seberapa acting Milley di hari pertama kuliah.


"Cukup menarik," gumamnya.


Dylan langsung mengalihkan perhatiannya kembali ke papan tulis. Merasa diabaikan membuat Rose semakin marah.


Sementara Cica malah mengulurkan tangan tanda persahabatan dengan Milley tepat di depan wajah Rose. Tentu saja Milley menanggapinya dengan ramah. Sedangkan Rose merasa tidak di hormati.


Satu jam kemudian.


Setelah jam istirahat masih ada satu jadwal kuliah lagi, karena merasa lapar Milley mengajak Dylan ke kantin.


"Woi, anterin gue ke kantin bisa nggak?" ucap Milley sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Dylan.


Dylan yang langsung menoleh tidak sadar jika wajah Milley sudah dekat dengannya. Stop, wajah Dylan sudah ada rem pakemnya. Tepat lima centimeter jarak di antara keduanya.


"Mau ke kantin?"


Milley mengangguk.


"Kampr**! Dia menolak ajakan gue."


Dengan berpura-pura tersenyum, Milley menahan amarahnya. Ia mengaitkan tangannya dengan salah satu lengan Dylan, seolah bermanja dengannya.


"Baby, aku kan masih baru di sini, aku nggak tau kantinnya di mana?" ucap Milley dengan manja.


Sementara itu di dalam hatinya ia jijik dengan apa yang baru saja ia lakukan, tetapi ia harus menahan semuanya dan mempercepat agar Dylan menjadi lelaki yang lebih baik.


Rose yang melihat itu seakan panas karena kekasihnya langsung bersama dengan Milley dan menuruti semua keinginannya. Lebih panas karena Milley bergelayut manja dan mesra di lengan Dylan.


Merasa tidak suka karena teman-temannya kecantikan Milley, Dylan menuruti hal tersebut.


"Baiklah aku akan mengantarmu."


Meski awalnya malas tetapi entah kenapa Dylan merasa bangga bisa beriringan dengan Milley. Rose dan Cica lebih dulu sampai di kantin.


"Ci, pesanin gue jus strawberry sama bakso."


"Siap cinta, tunggu bentar."

__ADS_1


Tidak berapa lama kemudian, Dylan lewat bareng Milley. Mereka duduk di meja depan Rose, seolah ingin memperlihatkan kemesraan mereka.


"Kamu tunggu di sini dulu, aku pesanin makan dulu."


"Makasih," ucapnya dengan lembut.


Saat Dylan memesan makanan dan minuman, Cica kebetulan sudah datang dengan membawa dua buah jus segar, sementara baksonya sedang di racik. Melihat Milley duduk di hadapannya membuat Rose tersenyum. Ia merebut jus tersebut dan melenggang pergi.


"Eh cin, jusnya mau dibawa kemana? Itu pesanan gue yang banyak susunya, aduh, alemong!" Cici menepuk jidatnya.


Ternyata Rose berdiri di belakang Milley lalu menumpahkan satu gelas penuh jus strawberry ke atas kemeja Milley yang berwarna putih. Tentu saja Milley terkejut akan hal itu, sementara Rose tertawa terbahak.


Di sisi lain Cici mengelus dada, "Astaga, kejamnya tuh Rose, kelakuan sama nama beda jauh."


"Makan tuh jus buah! Sekali lo rebut pacar gue, gue jamin lo bakal sengsara!" ucap Rose penuh amarah kepada Milley.


Milley membaca situasi, ia tidak ingin terpancing, berusaha memendam marah. Maka dengan segera ia berpura-pura lemah. Dylan yang baru saja datang, marah melihat Milley dengan keadaan seperti itu.


Tanpa ia sadari Dylan menampar keras pipi Rose.


"Berani sakiti Milley, berarti lo berhadapan dengan gue!"


Dalam hatinya Milley tertawa senang karena hal itu. Ia tidak usah repot-repot karena Dylan membelanya.


Tangan Dylan telaten mengusap kemeja putih Milley yang kotor tersebut. Padahal sebelum ini ia tidak pernah berbuat seperti itu.


"Lo nggak salah minum obat kan?" tegur Milley sambil berbisik.


Dylan tersenyum, "Kalau lo bisa sandiwara, gue juga bisa."


"Asem!" batin Milley kesal. Ia tidak menyangka Dylan bersikap sama seperti dirinya.


.


.


...🌹Bersambung🌹...


Oh ya hari ini othor bawa rekomendasi satu lagi. karya kak EuRo40, jangan lupa mampir bestie😘


Suci yang ingin bunuh diri karena diperkosa, ditolong oleh seorang pria bernama Alby. Dia tinggal dan bekerja di rumahnya sebagai seorang koki. Namun, nasib malang selalu mengikutinya dia diperkosa kembali oleh Alby. Pria itu dalam pengaruh obat perangsang yang sengaja dimasukkan ke dalam minumannya oleh sang adik ipar. Alby bersedia bertanggung jawab dan menikahinya. Tetapi pernikahan mereka tidak cukup kuat untuk menahan angin yang datang. Suci di fitnah selingkuh dan di ceraikan oleh Alby, padahal saat itu Suci ingin mengatakan kalau dia hamil anak Alby. Suci pergi tanpa pernah mengatakan tentang kehamilannya. Dia pingsan di jalan dan di tolong oleh orang yang memfitnahnya seorang pria bernama Adit. Mereka semakin dekat. Ada juga Bayu tetangga mereka yang menyukai Suci. Pada siapa hati Suci berlabuh? Mantan suami, atau pria yang membuatnya bercerai dengan suaminya atau Bayu pria yang juga menolongnya saat dia jatuh.


__ADS_1


__ADS_2