NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 79. KENYATAAN


__ADS_3

...*Kesakitan yang pernah dilakukan di masa lalu tidak akan pernah bisa dihapus oleh waktu. Bagaimana pun l*uka telah tertoreh dan membekas di dalam relung hati....


...***...


"Kenapa ada orang seperti dia yang tidak mempunyai muka?"


"Hari gini masih berani datang ke sini dan menemui Ibu."


Milley mengomel sambil terisak karena kedatangan Tuan Andreas mengacaukan situasi.


Kondisi kesehatan Lena yang sebelumnya sudah terlihat jauh membaik, kini kembali menurun. Akibatnya ia harus di larikan ke Rumah Sakit.


Tubuh Lena menjadi lemah sejak ia sering disiksa oleh Robby. Dulu beliau sangatlah kuat seperti Milley. Hanya karena luka dari sebuah hubungan cinta, fisiknya menjadi melemah.


Milley mengusap air matanya, sebuah lengkungan senyum ia paksakan terukir di wajah cantiknya. Melihat orang yang kita sayangi sakit, apa lagi itu adalah ibu, memanglah menyakitkan.


"Nggak, aku nggak boleh lemah saat ini. Aku ingin menjadi Milley yang tangguh seperti dulu."


Setelah kedatangan Andreas kondisi kesehatan Nyonya Lena semakin memburuk, hal itu membuat Milley bisa menyimpulkan bahwa kekuatan cinta dan benci itu memang ada. Entah itu sebagai luka ataupun tidak, tetapi yang jelas semuanya mempunyai pengaruh yang begitu kuat. Beruntung tadi, Michael bisa membujuk Andreas untuk segera pergi.


Namun sebenarnya, Tuan Andreas tidak pergi, ia bersikeras untuk menunggu Lena siuman di ruangan yang lain. Michael menahannya di sana saat ini dan juga menemani beliau.


"Sebenarnya apa yang Anda lakukan di sini? Bukankah hubungan kalian dengan Milley sudah berakhir?"


"Lagi pula, Dylan juga sudah menikah dengan orang lain, bukan?"


"Diam anak muda! Bukan kapasitasmu untuk berbicara di sini! Kau hanyalah orang luar yang tidak berhak untuk ikut campur!"


"Apa laki-laki ini mencintai Milley? Tetapi hal itu tidak boleh terjadi. Milley harus menjadi menantu di dalam keluarga Anggara," gumam Andreas sambil menatap Michael.

__ADS_1


Tuan Andreas membuat Michael terdiam. Memang benar bukan kapasitasnya untuk ikut berbicara di sini, tetapi ia adalah orang yang akan melindungi Milley jika ia dalam keadaan bahaya.


"Ya, aku memang bukanlah siapa-siapa, tetapi aku peduli dan mencintai Milley. Bagaimana pun caranya, Milley dan ibunya tidak boleh terluka sekali lagi."


Andreas menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia begitu santai saat ini, tetapi tidak dengan yang dirasakan Michael. Raut wajah yang sebelumnya tidak bersahabat, kini sudah berangsur berubah.


"Fokuskan kembali pikiranmu, Andreas. Meskipun lelaki ini mencintai Milley tetapi masih ada celah untuk membuat mereka berpisah, dan jangan lupa ia bisa membantumu membongkar kelakuan bejat dari menantumu!"


Beberapa saat yang lalu ia memang mengatakan maksud dan tujuannya menemui Milley dan Nyonya Lena. Hanya saja setelah tahu ada udang dibalik batu, ia merasa kecewa.


"Tetapi orang ini datang untuk memberi tahukan sesuatu hal yang seharusnya Milley ketahui. Namun, Tante Lena fisiknya melemah saat kedatangan lelaki ini, sebenarnya ada apa ini?"


Kedua lelaki ini saling bermonolog di dalam hatinya. Perasaannya mengatakan jika hal ini tidak akan menguntungkan bagi dirinya. Bahkan Milley semakin tidak suka akan kehadiran Ayah Dylan di sana.


.


.


Dylan masih terbaring lemah di Rumah Sakit. Ternyata kerusakan otak yang dialami Dylan semakin memburuk. Dokter harus melakukan tindakan pencegahan secepatnya.


Tuan Chryst yang mengetahui hal ini tidak bisa berbuat banyak. Ia tidak tahu jika pil yang dikonsumsi Dylan setiap hari adalah pil yang bisa melumpuhkan memory dalam jangka waktu yang panjang. Kebetulan Rose membawakan pil yang biasa di konsumsi ke Rumah Sakit.


Mungkin ia tidak menyadari jika dokter meminta pil yang dikonsumsi Dylan untuk di tes laboratorium. Dokter mempunyai indikasi bahwa ada seorang yang secara sengaja membuat Dylan bertambah parah penyakitnya. Hingga ternyata dugaannya benar. Ia tidak mau membohongi Tuan Chryst atas hal ini, sehingga ia langsung memberi tahukan kebenarannya di sana.


Sementara itu, di salah suatu ruangan. Ada seorang pemuda yang sengaja ditahan di sana untuk memberikan sebuah keterangan.


"Untuk apa menjadi orang baik jika merepotkan seperti ini?" gumam Ryo berada di salah satu sudut Rumah Sakit.


Tuan Chryst memintanya agar jangan pergi dahulu sebelum Dylan siuman. Ia ingin memastikan dan menanyakan bagaimana runtutan cerita sampai Dylan bisa pingsan di dalam mobil.

__ADS_1


"Dokter, saya mempercayakan semua tentang kelangsungan hidup cucu saya satu-satunya. Lakukan yang terbaik sesuai prosedur medis di sini."


"Baik, Tuan, tanpa Anda minta pun, kami tetap akan melakukan yang terbaik untuknya."


"Terima kasih, Dok."


"Sama-sama."


Setelah melakukan pertemuan dengan dokter secara privasi. Tuan Chryst menuju ke salah satu ruangan tempat di mana Ryo berada. Langkahnya begitu cepat hingga membuat Jo sedikit kewalahan saat menghadapinya.


"Tuan, maaf ruangannya di sebelah sana, bukan yang sebaliknya!" ucap Jo sopan agar Tuan Chryst tidak marah.


Biasanya jika beliau ditegur secara tiba-tiba maka ia akan marah, tetapi di luar dugaan, beliau tetap tersenyum dan tidak lupa berterima kasih pada Jo.


"Terima kasih, Jo. Kau telah membantu mempercepat langkahku untuk bertemu dengan pemuda tadi."


"Sama-sama, Tuan."


Sedangkan di ruangan itu, Ryo tampak berkeringat deras. Ia begitu takut jika kebaikan hatinya disalahkan oleh orang lain. Padahal ia memang tulus melakukan hal tersebut.


"Bagaimana ini, jika orang tua itu nanti malah menyalahkan akan insiden ini?"


Ryo begitu cemas. Jari-jemarinya ia mainkan di atas meja hingga membuat suasana menjadi ramai dan berisik. Beberapa saat kemduian terdengar derap langkah Tuan Chryst yang terdengar sangat disiplin dan tegas. Selain itu Tuan Chryst terkenal akan sosok pemimpin yang dingin tetapi mengayomi karyawan.


Lalu apa yang sebenarnya ingin diketahui oleh Tuan Chryst?


.


.

__ADS_1


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2