NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 82. SEMOGA MASIH ADA KESEMPATAN


__ADS_3

Wajah Rose benar-benar terlihat berbeda setelah ia bertemu dengan Ryo beberapa saat yang lalu. Pikirannya jauh lebih berkelana saat ini. Entah kenapa, sesaat dirinya merasa terancam akan kehadiran Ryo.


Begitu pula dengan sebaliknya. Ryo juga penasaran dengan kehamilan Rose yang terkesan tiba-tiba. Bahkan sesuai perhitungannya, usia kandungan Rose hanya berselang dua minggu setelah mereka tidur bersama.


"Wah, wanita itu benar-benar sangat misterius, tetapi sebaiknya aku tidak ikut turut campur lagi, kontrak kami juga sudah selesai malam itu."


Setelah bergumam cukup panjang, kini Ryo melangkahkan kakinya untuk kembali ke rumah. Ia akan meminta ijin pada ibunya dan mengatakan jika ia sudah mendapatkan pekerjaan baru yang lebih layak untuknya.


Saat ini Ryo memang bekerja sebagai petugas taman dan membersihkan jalanan Ibu Kota. Selama delapan jam dalam satu hari, ia akan menghabiskan waktunya di jalan. Baru setelah pekerjaannya selesai, ia akan menggunakan waktunya yang lain untuk merawat ibunya.


🍂Kantin Rumah Sakit.


Rose berjalan sendirian di kantin Rumah Sakit. Perutnya benar-benar mengajak demo hari itu. Melihat menu soto ayam siang itu, rasanya sungguh menggoda.


Rose berjalan menuju ke bagian penjual soto, lalu setelahnya ia memesan di sana.


"Kak, aku pesan satu porsi soto ayam beserta satu gelas air jeruk hangat ya."


"Baik, Nyonya. Silakan duduk terlebih dahulu."

__ADS_1


"Baik."


Rose memilih untuk mendudukkan dirinya tidak jauh dari penjual soto tersebut. Sambil menunggu, matanya terus memperhatikan sekitar. Sampai suara notif dari ponselnya mengaburkan pikirannya.


"Siapa lagi sih, siang-siang ganggu aja!"


Rose tampak mengomel saat ini, lagi pula rasa laparnya sudah tidak bisa dikondisikan lagi saat ini. Ternyata yang memberikan pesan adalah pacar gelap Rose sekaligus ayah dari jabang bayi yang dikandung Rose saat ini.


"Sayang, aku kangen ... aku harap kamu datang ke apartemenku nanti malam, kalau sampai kamu tidak datang, jangan salahkan aku jika Dylan dan Tuan Chryst tahu akan kebenaran tentang dirimu!"


"Cih, beraninya mengancamku! Kalau bukan untuk mendapatkan Dylan saat itu, aku juga tidak sudi bermain denganmu!" gumam Rose.


"Rose, andai kau bisa membuka hatimu untukku, maka bisa dipastikan kau akan jauh lebih bahagia."


.


.


"Makasih banyak, Nak. Kau sudah menjaga Ibu sejauh ini."

__ADS_1


"Ibu, jangan berkata begitu. Ibu harus berjuang demi Milley. Saat ini yang Milley punya hanya Ibu seorang."


Michael yang mendengar hal itu segera mendekatinya.


"Jangan lupakan kami, Milley. Apa pun yang terjadi, kita akan selalu bersama."


Lena memandangi Michael dengan penuh pengharapan. Lalu ia segera menyatukan tangan Milley dengan Michael.


"Nak Michael, tolong jagalah Milley jika seandainya Ibu sudah pergi. Hanya padamulah aku menggantungkan harapan terakhirku."


Cairan bening tersebut kini mengalir deras di kedua pipi Lena. Tanpa suara, tanpa isak tangis, Milley mendekap erat Ibunya.


Ingin rasanya ia tergugu saat itu, tetapi Milley harus bersikap tegar dalam menghadapi semua cobaan kali ini. Jika ia terlihat rapuh, maka Ibunya pun akan merasa berat dan tidak akan mampu berjuang.


"Bu, selama masih ada harapan, jangan pernah menyia-nyiakan hal itu. Mukjizat Tuhan tidak ada yang tau. Maka percayalah, akan ada pelangi setelah hujan."


.


.

__ADS_1


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2