
Sementara itu di rumah milik Milley, Jord sudah melakukan persiapan untuk menguji kelayakan ayahnya. Apakah Dylan benar-benar layak menjadi ayahnya atau hanya sekedar bualan belaka.
"Aku bisa memberikan ujian yang sulit, tetapi aku tidak mau mempersulit Papa, sebaiknya hal yang paling mendasar cukup untuk menguji kelayakannya?" gumam Jord.
Sementara itu, saat ini Milley sedang bersiap-siap untuk menyiapkan beberapa menu yang akan dihidangkan di toko kuenya pagi itu. Pesanan kue yang begitu banyak membuat stok bahan baku berkurang. Biasanya kalau sudah dal keadaan seperti ini, Rain yang akan melakukan tugasnya.
Sedangkan Milley akan menggunakan bahan yang tersisa untuk mengkreasikan menu baru. Ketrampilan Milley terasah ketika Jord alergi terhadap beberapa bahan kue. Sementara itu sebagai seorang anak kecil pasti suka jajan. Tidak mau putranya semakin alergi, maka Milley membuat jajan aneka kue spesial untuk Jord.
Kebetulan banyak yang suka dengan kue dan cake buatan Milley. Apalagi teman sekolahnya ada yang kondisinya sama dengan Jord. Mulai saat itu banyak yang mengetahui produk buatan Milley dan suka. Berkat bantuan promosi sosial media, usaha milik Milley semakin berkembang dan sukses. Hingga akhirnya ia bisa menghidupi Rain dan Jord.
Setiap bahan baku habis, orang yang akan berbelanja adalah Rain. Saat Rain hendak berbelanja kebutuhannya, langkahnya dicekal oleh Jord kecil.
"Tunggu dulu, Om Rain. Jangan pergi!"
"Akan ada seseorang yang akan menggantikan tugas Om sementara waktu!" serunya dengan mantap.
"Ok."
"Apakah Jord akan menyuruh ayahnya untuk berbelanja?" gumam Rain menerka isi si genius Jord kecil.
Sesuai dugaan, Jord meminta Dylan untuk berbelanja semua kebutuhan bahan baku kue yang dibutuhkan ibunya.
Akhirnya setelah sekian lama, Jord mengumumkan ujian pertama untuk ayahnya. Dylan dengan pakaian sederhana bersiap untuk menunggu ujian dari putranya sendiri.
Jord berdiri dengan sikap tenang di depan pintu sambil menatap ayahnya. Sesekali kekaguman ia tunjukkan kepada ayahnya tersebut.
"Untuk menyingkat waktu, maka saya akan mempercepat pengumuman tentang ujian pertama yang akan dilakukan oleh Saudari Dylan."
"Nak, itu ayahmu, astaga ...." ucap Kean dari belakang Dylan.
"Sudah siapkah Saudari Dylan?"
"Sudah," ucap Dylan sambil mengangguk.
"Baiklah, kali ini saya akan mengucapkan satu kalimat yang bisa menjadi bahan acuan untuk Anda."
"Dengarkan ucapan saya baik-baik."
“Karena bahan baku untuk membuat kue habis, maka kau harus pergi ke pasar tradisional untuk berbelanja semua keperluan Mama."
“Ah, gampang,” gumam Dylan.
“Jangan tersenyum, Tuan. Karena kau harus berbelanja sendiri dengan menggunakan uang tanpa kartu kredit.”
__ADS_1
“Ok, tidak masalah."
“Dan ....” Jord menggantung ucapannya.
Sukses hal itu membuat semuanya menahan nafasnya sambil menunggu ucapan Jord selanjutnya.
“Dan Paman Rain juga Paman Kean dilarang membantu atau penilaian Anda akan berkurang sampai nol.”
“Ha-ah ....” Kedua mata Dylan membulat sempurna.
Sementara itu Jord tersenyum bahagia. Sama halnya dengan ketiga orang dewasa yang ikut menyaksikan uji kelayakan Dylan sebagai pasangan Milley.
Ada sedikit keraguan yang hinggap di hati Dylan, tetapi demi bisa mendapatkan pengakuan dari putranya ia akan melakukan apapun.
"Baiklah, aku setuju."
"Kalau begitu, silakan berbelanja."
Jord mengulurkan tangannya yang berisi tas belanja lengkap dengan uang dan peta untuk pergi ke pasar. Sementara itu ada dua buah kendaraan yang bisa ia pakai saat itu. Satu buah motor matic dan satu buah sepeda kayuh.
Tanpa bantuan dari asistennya, saat ini Dylan harus membeli barang-barang itu sendiri. Hanya dengan mengendarai sepeda motor yang disediakan di halaman rumah.
“Ini sepeda motor, gimana cara menaikinya?” tanya Dylan kebingungan.
Sesaat setelah Jord memutuskan ujian pertama untuk Dylan mereka semua masuk ke dalam rumah. Sementara itu Dylan ditinggal sendirian di halaman rumah.
Milley yang khawatir segera menyusul Dylan ke depan, tetapi tangan Jord menghentikan langkahnya.
“Biarkan Papa berusaha sendiri, jika ia sungguh mencintai Mama, sudah pasti ia bisa melewati hal ini.”
Milley tersenyum ke arah putranya. Kini ia berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan sang anak. Diusapnya lembut kepala Jord.
“Tapi, Nak. Perlu kamu tahu jika Papa kamu tidak bisa mengendarai motor, bagaimana bisa ia pergi ke pasar sementara itu kamu melarang Om Rain dan Om Kean membantunya.”
Jord menggeleng perlahan.
“Jika dia benar Papa Jord, tidak ada kata menyerah di dalam kamusnya.”
Milley seolah sedang berhadapan dengan sosok Dylan yang keras kepala. Oleh karena itu ia pun membiarkannya.
Ternyata sesuai dugaan. Di halaman rumah hanya ada sepeda motor dan sepeda biasa. Tidak mau membuang waktu, Dylan segera mengayuh sepeda itu ke pasar sesuai dengan peta yang digambar oleh Jord.
Sambil memandang jendela, Jord mengulas senyumnya.
__ADS_1
“Meskipun tidak ada akses mobil, tidak ada axis kartu kredit, tetapi Papa tetap berusaha. Lihatlah keluar rumah!”
Seketika Milley mengedarkan pandangannya ke luar rumah. Terlihat jika sepeda yang bisa digunakan oleh Milley tidak ada di sana.
“Apakah Papa menggunakan sepeda yang biasa dipakai oleh Mama?”
Jord mengangguk. Akhirnya Milley bisa bernafas lega.
"Semoga kamu bisa melewati ujian ini, Mas."
Saat ini Dylan akan berusaha menggunakan uang yang diberikan oleh Milley sebaik mungkin. Ia juga harus membelikan barang-barang tersebut sesuai dengan uang yang diberikan.
Meskipun kurang, ia juga tidak boleh mengambil sepeserpun dari atm yang dimiliki olehnya. Tentu saja Dylan juga harus pandai bernegosiasi agar bisa mendapatkan barang sesuai dengan uang yang ia bawa.
"Semoga semua ini cepat berlalu," gumamnya sambil mengelap peluh yang terus menetes di keningnya.
Selama ini ia selalu menggunakan semua fasilitas yang tersedia. Kini di dalam pikirannya ia hanya bisa menggunakan uang kes. Belum lagi harus berbelanja di pasar tradisional, yang sama sekali belum pernah merasakan hal tersebut.
Selama beberapa tahun ini Dylan hanya bisa menerima beres tanpa tahu bagaimana orang dibawahnya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kini ia harus belajar agar setidaknya rasa kemanusiaan di hatinya tidak mati dan masih menghormati orang lain.
"Aku harus menjadi seorang laki-laki yang mampu menemani Milley di situasi yang apapun. Bukan hanya sebagai orang kaya, tetapi orang yang mampu menemani Milley di setiap fase hidupnya. Baik itu dalam keadaan tidak punya ataupun keadaan yang berlebih."
Saat Dylan sedang melamun, terdengar bunyi klakson yang membuat sepedanya oleng ke bahu jalan. Sukses hal itu membuatnya marah.
"Siapa yang berani mengangguku!"
Seorang gadis cantik yang memakai baju berwarna merah menyala, sangat kontras dengan warna kulitnya keluar dari dalam mobil. Ia membuka kaca matanya sambil tersenyum.
"Halloo .... ternyata calon suamiku sedang belajar naik sepeda, ya?"
Sontak Dylan menoleh dan mengarahkan tangannya ke arah gadis itu.
"Ka-kau ...."
"Ya ... ini aku, Sayangku ...."
.
.
Kira-kira siapa gadis itu ya? Apakah ujian pertama bisa dijalani Dylan dengan mulus? Entahlah ....
__ADS_1