
Mendengar kabar jika pertunangan Milley ricuh, Michael segera memeriksa berita terkini. Beberapa saat yang lalu, Milley dan dirinya masih bertukar chat dengannya. Ia tidak menyangka jika hal ini bisa terjadi.
Semenjak Milley tidak mengirim chat, sebenarnya perasaan ia sudah cemas, tetapi tetap berusaha over thinking. Hal itu rupanya terbukti saat ia melihat berita di sosial media.
"Pesta pertuangan cucu Penguasa Bisnis Properti nomor satu ricuh, dan bahkan tunangan wanitanya terluka karena tembakan."
Tentu saja berita itu membuat Michael khawatir luar biasa. Ia rela bergadang hanya demi melihat senyuman Milley, tetapi malah kabar buruk yang ia dapatkan.
"Seharusnya aku berada di sana untuk menjagamu!" gumam Michael sambil mengepalkan tangannya.
Ingin rasanya ia menunjukkan identitasnya saat ini, tetapi ia takut jika Milley kecewa dan pergi. Oleh karena itu bertahan dalam hal ini merupakan jalan satu-satunya. Melihat berita tersebut, otak Michael menyuruhnya segera datang menemui Milley.
Tidak lama kemudian, Michael bergegas meraih jaketnya, lalu mengambil kunci mobil untuk pergi ke Rumah Sakit. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sebuah benda yang biasanya membuat Milley tersenyum. Diliriknya jam dinding yang masih menunjukkan pukul lima pagi.
"Masih ada waktu dua jam lagi, jam besuk di Rumah Sakit baru dibuka, ia pasti lapar."
"Semangkuk bubur ayam, akan membuatnya lebih cepat siuman."
Michael menaruh kembali jaket dan kunci mobilnya. Lalu dengan cekatan ia meracik bubur ayam untuk Milley. Beruntung, bahan-bahannya lengkap tersedia di kulkas. Sehingga memudahkannya untuk membuat masakan.
"Meskipun aku khawatir, tetapi aku juga sangat khawatir kalau kamu kelaparan," ucap Michael sambil terkekeh.
Hubungan mereka memang belum terjalin lama, tetapi keterbukaan Milley terhadap semua hal membuatnya nyaman dan sudah menganggap Milley bagian dari keluarganya. Jika Milley sakit, itu sama artinya dengan menyakitinya. Ia pun teringat akan ucapan Milley kapan hari.
"Kalau kau sakit, apa hal yang paling kamu benci?'
"Aku sangat membenci obat, aku lebih suka makan makanan sehat daripada obat-obatan."
"Jadi misal kamu sakit, aku wajib jenguk kamu di Rumah Sakit sambil bawa makanan sehat dong?"
Milley menoleh ke arahnya dan tersenyum, "Jika Pak Dosen sayang padaku, itu artinya wajib menjengukku."
"Siap, Milley cantik."
Akhirnya bubur ayam hangat sudah siap dinikmati. Agar rasanya tidak berubah, ia memasukkan bubur itu ke tempat makanan hangat. Lalu ia menyiapkan peralatan makan untuknya. Setelah siap, Michael melanjutkan keinginannya ke Rumah Sakit.
"Semoga kamu memenuhi janjimu untukku, Milley."
Sementara itu, karena progres kesehatan Milley semakin membaik, maka ia segera dipindahkan ke ruang perawatan. Sejak dioperasi, Milley belum siuman, tetapi saat ini jari-jarinya mulai merespon sentuhan. Merasa ada keajaiban, pihak Rumah Sakit segera memindahkan Milley.
Di sela-sela masa menunggu, Dylan tidak pernah lelah untuk mengajak Milley berbicara. Entah didengar atau tidak, yang penting ia mengikuti arahan dokter.
"Apa benar kamu nggak mau bangun?" ucap Dylan lirih.
Dylan memegang jari jemari Milley dengan lembut. Sesekali mencium lalu melihat ke arah wajahnya, hanya untuk memastikan jika pemilik mata emerald itu sudah membuka mata atau belum? Ternyata Milley tidak juga membuka matanya.
Namun, perjuangan Dylan tidak berhenti di situ, ia terus berusaha untuk mengajak Milley berbicara. Sampai suatu ketika, pintu kamar Milley diketuk dari luar.
"Siapa lagi tamu yang datang sepagi ini?" gumam Dylan sambil menoleh ke arah pintu.
__ADS_1
Padahal di depan pintu kamar ada dua orang pengawal yang ditugaskan untuk menjaga Milley, tetapi suara teriakan dari luar masih saja terdengar.
Tidak ingin menganggu kenyamanan Nona Milley, pengawal tersebut lebih memilih untuk masuk dan melapor secara langsung.
"Maaf, Tuan Muda. Ada kerabat Nona Milley yang ingin menjenguk Nona."
Dylan masih memandangi Milley, sementara pengawal itu sudah berkeringat dingin.
"Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki, Tuan."
"Suruh dia pergi!"
Melihat situasi tidak kondusif, Michael lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar daripada disuruh pulang.
"Tunggu dulu, ini aku!" ucap Michael menyela.
Namun, sepertinya tidak ada yang bisa menghalangi keinginan Michael. Terbukti ia sudah muncul di dalam ruang rawat Milley sambil tersenyum.
"Pak Dosen?" ucap Dylan panik.
Akhirnya mau tidak mau, Dylan menoleh ke arahnya. Entah apa yang membuatnya panik seketika, tetapi ia merasa keberadaannya terancam saat ada dia. Sementara itu, pengawal yang melapor tersebut menunduk.
Tidak mau membuat keributan, Dylan akhirnya menurunkan egonya untuk sesaat.
"Kamu, pergilah! Biarkan Tuan ini masuk."
"Terima kasih, Dylan," ucap Michael tersenyum.
Setelah mendapatkan ijin, Michael mulai mendekati brankar Milley. Menatapnya dengan sendu.
"Milley sudah siuman?" tanya Michael basa-basi.
"Belum!" jawab Dylan ketus.
"Boleh aku mencoba membangunkannya?"
Awalnya ia ragu-ragu, tetapi saat melihat keseriusan di wajah Pak Dosen, dan keinginan untuk melihat Milley membuka mata, ia pun pasrah. Dylan menggeser kursinya ke belakang dan mempersilakan Michael duduk di sana.
"Silakan saja."
"Terima kasih, Dylan."
Tanpa mau menjawab, Dylan lebih memilih untuk pergi saja dan duduk di pojokan sambil mengawasi interaksi mereka. Pertama-tama, Michael menaruh bubur buatannya di atas meja, lalu ia mulai mendekati Milley. Dengan posisi agak menunduk, ia mengajak Milley berbicara.
"Milley, kamu nggak capek tidur? Ini aku sudah membuatkan satu masakan spesial untuk kamu sarapan."
Tanpa ia duga, jari-jarinya merespon, Michael pun tersenyum. Lalu ia mulai melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Kalau masih nggak mau bangun, aku pergi nih. Ada jadwal kuliah nunggu!"
Dalam sekejap mata Milley mulai mengerjap. Mulai menyesuaikan dengan cahaya ruang rawatnya. Bau khas obat-obatan seketika tercium di dalam indera penciuman Milley.
"A-aku di mana?"
"Kok ada Pak Dosen?"
Dylan yang mendengar suara Milley segera mendekat.
"Kamu sudah siuman, syukurlah!" ucapnya senang.
"Memangnya aku kenapa? Awh ...."
Milley baru merasakan sakit ketika tangan kanannya ia gerakan dengan cepat. Dylan yang gemas akan kebiasaan Milley menjadi sewot sendiri. Di satu sisi ingin bermanja dengan tunangannya, tetapi tanpa disangka-sangka ada pengganggu yang datang tanpa diundang.
"Luka kamu belum sembuh, jangan banyak bergerak!" ucap Dylan lantang.
"Bisa nggak, kalau bicara nggak usah kasar, karena Milley baru siuman," ucap Michael dengan lembut.
"Sorry, kebiasaan."
"Maaf, ya Pak Dosen, dia suka nganu soalnya."
"Nganu apa-an Mill?"
"Sudah, berantemnya nanti aja, sekarang makan dulu."
Michael meraih bubur ayam di sampingnya lalu membuka penutup kotak makanan tersebut.
"Wah, baunya wangi banget, Pak. Boleh saya makan?"
"Jangan Milley, kamu baru aja siuman, biar aku tanya dokter dulu."
"Silakan," ucap Michael sopan.
"Dasar, bilang aja syirik!" ucap Milley sebal
"Apa kamu bilang!" gertak Dylan.
Entah kenapa emosi Dylan meninggi sejak kedatangan Michael. Padahal niatnya ia ingin merubah sikap di depan Milley, ternyata malah seperti ini.
.
.
Apakah masih ada kesempatan lain? Harusnya cewek itu diperlakukan dengan lembut Dylan. Awas sebelum janur kuning melengkung, tikungan masih tajam, wkwkwk.
.
__ADS_1
.
...🌹Bersambung🌹...