NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 167. MASALAH BARU


__ADS_3

Tidak ada kehidupan rumah tangga yang selalu baik-baik saja. Pasti akan ada sesuatu hal yang terjadi di setiap harinya. Sebagai bumbu dalam perjalanan cinta, sebagai seorang pasangan kita tidak boleh egois dan harus paham pada kejadian yang berlangsung.


Masa nifas Milley sudah selesai. Kesehatan Milley berangsur membaik. Kini Baby J sudah berusia satu bulan lebih dari satu minggu. Kali ini saat Baby Jord untuk melakukan timbangan pertama.


Pagi ini jadwalnya kunjungan ibu dan anak ke Rumah Sakit. Dylan juga sudah berjanji untuk mengantarkannya pergi pagi itu.


"Mas, hari ini jadi nganter ke Rumah Sakit?"


"Siapa yang sakit?" alis Dylan saling bertautan saat mendengar ucapan istrinya.


Milley tersenyum menanggapi hal itu.


"Bukan sakit, tetapi itu namanya Posyandu pertama."


"Oh, iya maaf ya, Sayang. Sepertinya aku tidak bisa mengantar," ucap Dylan dengan raut wajah sendu.


Begitu pula dengan raut wajah Milley yang seketika berubah menjadi sendu. Untung ia sudah selesai memakaikan dasi, sehingga tidak membutuhkan waktu lama Milley segera memalingkan wajahnya.


Sebenarnya bukan itu yang membuat Milley tidak tenang. Hanya saja ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Entah apa itu, tetapi buktinya ia sangat gelisah.


"Apa kamu marah?" tanya Dylan pada Milley yang bisa merasakan jika istrinya sedang marah.


Milley tidak menjawab dan hanya menggeleng.


"Ya sudah, aku hanya bertanya dan ingin memastikan."


Merasa jika ucapannya tidak mengenakan buat istrinya membuat Dylan memikirkan solusinya.


Dylan menahan tangan Milley agar tidak pergi.


"Sayang, sekali lagi aku meminta maaf. Hari ini keputusan dariku sangat penting."


Milley tidak bisa memaksakan kehendaknya.


"Pergilah, pekerjaanmu sangat penting bagi kelangsungan hidup orang banyak. Aku percaya padamu."


"Terima kasih, Sayang. Sebagai gantinya biar besok aku menemanimu pergi jalan-jalan."


Lagi dan lagi Milley hanya mengangguk. Ia begitu malas untuk meladeni sikap suaminya.


Namun, memang benar hari ini ada sebuah rapat yang harus ia kerjakan, sehingga tidak mungkin ia memberikan janji palsu kepada istrinya.


"Sekali lagi aku minta maaf, Sayang. Biarkan Lea dan Leo yang nanti mendampingimu."

__ADS_1


Milley mengangguk. Lalu segera mengantarkan suaminya untuk pergi ke depan untuk berangkat ke kantor.


"Ya sudah, Papa berangkat dulu ya, sayang," pamit Dylan pada Baby J.


Dikecupnya kening Baby J sebelum ia pergi. Lalu segera meraih pinggang Milley dan membawanya ke depan.


Sebenarnya Milley bisa saja pergi tanpa suaminya, tetapi entah kenapa rasanya hari itu ia begitu was-was. Kalau bukan karena jadwal Posyandu ia juga tidak akan pergi ke Rumah Sakit.


Setelah memastikan suaminya berangkat maka Milley segera bersiap untuk pergi ke Rumah Sakit. Lea dan Leo bersiap untuk mengawalnya sesuai instruksi Dylan.


"Jaga baik-baik anak dan istriku, jika ada sesuatu segera hubungi aku!"


"Baik, Tuan," ucap Lea dan Leo sambil membungkuk hormat.


Setelah memastikan suaminya berangkat, kini giliran Milley bersiap-siap. Tidak berapa lama kemudian, mereka segera pergi meninggalkan rumah menuju Rumah Sakit.


"Bagaimana kalau kita berangkat lebih awal, entah kenapa aku merasa jika hari ini akan ada sesuatu?" ucap Milley pada asistennya.


Memang benar hari itu, pikiran Milley tidak begitu tenang sejak pagi. Namun, pada akhirnya ia tetap berangkat.


"Semoga saja tidak terjadi apa-apa," doa Milley di dalam hati.


Anehnya selama perjalanan Baby J menangis. Hal itu semakin menambah ketidaknyamanan Milley.


Namun, Baby J tetap menangis. Sepertinya ia sudah merasakan hal yang tidak nyaman, karena bayi belum bisa berbicara maka ia hanya bisa menangis.


"Ya, Allah semoga tidak terjadi apa-apa."


Milley mencoba memberikan ASI kepada Bang J, tetapi tetap saja ia tidak mau meminum. Justru tangisnya semakin kencang.


Benar saja, beberapa saat kemudian, di tengah perjalanan ada sebuah kecelakaan. Sehingga jalan menjadi macet dan secara otomatis mobil mereka berhenti. Belum lagi Baby J semakin rewel hari itu, ia menangis terus menerus bahkan saat diberikan ASI ia tetap saja menangis.


"Kamu kenapa, Sayang? Kenapa tetap saja menangis?"


Perasaan gelisah yang dirasakan Milley membuat Baby J tetap menangis. Apalagi Baby J minum ASI dari Milley, maka secara otomatis ia bisa merasakan kekhwatiran ibunya.


Hingga beberapa saat kemudian dari arah kaca mobil terlihat beberapa orang mengepung mobil Milley dan memaksa masuk.


"Cepat buka pintunya!" gertak mereka.


"Jangan dibuka, Pak!" teriak Milley.


"Cepat buka atau aku pecahkan kaca mobil kalian!"

__ADS_1


Milley yang semakin ketakutan hanya bisa mendekap Baby J. Meskipun begitu Lea dan Leo sudah bersiap untuk keluar dari mobil.


Sementara itu para perampok semakin menggedor-gedor kaca mobil. Tentu saja Lea dan Leo sudah bersiap untuk melindungi majikannya.


"Nyonya jangan khawatir, kami akan melawan mereka!"


"Kalian hati-hati, ya!"


Keduanya mengangguk setuju. Sementara itu Milley mengeratkan gendongan miliknya. Di sisi lain, Lea dan Leo langsung keluar dari mobil dan menghadapi mereka, tetapi rupanya mereka kalah jumlah. Hingga salah satu dari mereka membius Milley dan mengambil Baby J.


Perlawanan yang mereka lakukan tidak ada artinya, karena para penculik itu berjumlah banyak. Sayangnya, Dylan dan Milley kurang persiapan sehingga para penculik dengan mudah mengambil Baby J.


Kondisi jalan yang macet, Lea dan Leo terluka parah. Pak Sopir dan Milley terkena bius. Lea yang masih sempat siuman segera menghubungi sinyal darurat yang terkirim ke ponsel Dylan.


Saat itu Dylan sedang melakukan rapat penting. Mendengar sinyal darurat dari mobil Milley, ia segera menghentikan rapatnya. Perasaannya menjadi tidak enak.


"Segera kirim orang kita ke jalan F, sekarang!" ucap Dylan pada orang-orangnya.


"Paman Jo, maaf aku tidak bisa memimpin rapat, aku merasa tidak tenang saat ini."


"Baiklah, biar aku yang memimpin rapat."


Dylan melonggarkan dasinya lalu segera pergi ke lokasi. Tiga puluh menit kemudian terlihat jika mobil yang dikendarai Milley terbakar. Mata Dylan terbelalak melihat hal itu. Ia langsung berlari ke lokasi itu, tetapi tubuhnya ditahan beberapa pihak kepolisian yang mengamankan tempat itu.


"Biarkan saya masuk, itu mobil istri saya ...." teriak Dylan.


Lututnya seketika lemas, raut wajahnya sendu. Sungguh perasaan Dylan saat itu sangat tidak bisa digambarkan. Situasi kacau balau, di dalam pikirannya Milley dan Baby J pasti terluka di sana.


"Milley, Baby J ...." ucapnya tergugu.


Tuan Chryst yang mendengar hal itu langsung terkena serangan jantung. Bagaimana ia tidak terkejut karena berita itu benar-benar mengguncang jiwanya.


"Milley ... Baby J ...."


BRUK!


Tuan Chryst jatuh pingsan, sementara itu Jo kebingungan karena hal itu. Semuanya terjadi tiba-tiba hingga membuat dirinya tidak bisa menguasai dirinya.


"Selamatkan Nona Milley dan Baby J .... ya, Tuhan!"


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2