
Terkadang apa yang kita pikirkan tidak sejalan dengan yang tertulis di dalam bayangan. Sehingga terkadang kita harus membuat catatan kecil agar semuanya bisa terjadi dan sesuai dengan rencana kita.
Begitu pula yang biasa dilakukan oleh Jord putra dari Milley dan Dylan. Ia sudah terbiasa hidup seperti itu sejak usia empat tahun. Saat dimana mulai diperkenalkan ke dalam sekolah, ia mulai mengamati satu persatu apa yang terjadi di lingkungannya.
Otaknya terlanjur terbiasa menganalisis data sehingga secepatnya ia pun bisa membaca ekspresi wajah tiap orang.
Sesekali ada yang mempertanyakan di mana ayah Jord, tetapi beruntung saat itu ada orang yang selalu menemani Milley, yaitu Rain. Sehingga mereka beranggapan bahwa Rain itu adalah ayahnya.
Akan tetapi Jord paham jika Rain hanyalah teman lelaki ibunya yang mungkin saja bukan seseorang di dalam hati ibunya. Terlihat jelas jika Rain tidak pernah ada di dalam kelopak mata Milley sama seperti saat memandang Dylan.
Pernah suatu kali, ia melihat ibunya menangis. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa saat itu. Hanya memendam pertanyaannya itu sendiri sehingga ketika Dylan datang, ia baru bisa menyimpulkan bahwa memang benar di masa lalu mereka, Milley dan Dylan pernah ada hubungan.
Jord adalah seseorang anak laki-laki yang kritis terhadap sesuatu yang terjadi di lingkungannya. Calon pewaris yang mewarisi perpaduan Milley dan Dylan. Tegas sekaligus lembut seperti Tuan Chryst.
“Hei, kenapa paman melamun?”
Tiba-tiba saja Jord sudah berdiri di dekat Kean, asisten Dylan. Tentu saja Kean terkejut dengan kehadirannya. Lalu ia pun berjongkok agar tingginya menyamai Jord.
“Paman bukan melamun, Nak. Akan tetapi ada sesuatu hal yang sedang paman pikirkan. Apakah Jord mau membantu paman?”
“Ha ha ha, boleh saja, kok. Asalkan ada imbalannya.”
“Astaga, putra Tuan Dylan ternyata sama perhitungannya dengan dirinya,” gumam Kean.
Tentu saja chord sudah paham yang dipikirkan oleh Kean.
“Jangan tertawa seperti itu paman. Bukankah di dunia ini tidak ada yang gratis?” ucapnya sambil bersedekap dada.
__ADS_1
“Ha ha ha ... kau pintar sekali. Tuan Dylan memang pantas mendapatkan putra sepintar dirimu!” puji Kean kepada Jord.
Mendapatkan pujian dari Kean tidak membuatnya bangga. Hanya saja ia sedang memikirkan sesuatu.
“Apakah aku mempunyai kakek dan nenek?”
“Tentu Tuan Muda, apakah Tuan Muda Jord ingin bertemu dengan mereka?”
“Mungkin bukan saat ini, Paman. Terima kasih atas tawarannya.”
Setelah cukup lama bercengkerama dengan Keam di depan rumah, Jord memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
“Maaf, Paman. Saya masuk terlebih dahulu,” ucapnya sopan.
“Have a nice dream, Tuan Muda Jord.”
Jord tersenyum senang, karena setelah ini ia tahu bagaimana harus menguji ayahnya. Setidaknya hal itu akan mempermudah dirinya menganalisis apakah benar ayahnya masih mencintai ibunya atau tidak.
Jord sangat paham, jika banyak CEO yang suka membutuhkan pendamping di setiap acara resmi. Terkadang kebutuhan mereka hanya sekedar untuk kebutuhan bisnis saja.
“Mungkinkah ayahku kesepian?” tanya Jord kepada dirinya sendiri.
“Entahlah, sebaiknya aku istirahat lalu esok pagi aku akan memulai rencanaku yang pertama,” ucapnya penuh rasa percaya diri.
Sementara itu di dalam kamarnya, Milley berharap-harap cemas. Begitu pula dengan Dylan.
“Bagaimana kalau anak mempersulit diriku? Apakah engkau akan tetap menerimaku?” tanya Dylan kepada Milley.
“Sebaiknya kamu persiapan dirimu sebaik mungkin, kamu tidak tahu seperti apa Jord tumbuh dengan sangat pintar dibandingkan anak se-usianya.”
__ADS_1
“Oh ya, apakah kau sudah memberikan kabar kepada Tun Chryst. Jangan-jangan kakek mencarimu?”
“Kau tidak usah khawatir, Sayang. Di sana ada ayahku dan ibumu yang siap selalu sedia berada di sisinya. Jadi kau tidak perlu khawatir.
“Oh iya, bagaimana kabar ibuku selama lima tahun ini. Apakah kondisinya baik-baik saja?”
“Tenanglah, di bawah pengawasan ayahku dan juga ibumu. Semua akan baik-baik saja. Memang di awal-awal kehilanganmu, aku, ibumu serta semua orang di kediaman kita semua terpuruk. Beruntung ada Uncle Jo yang selalu siap sedia dan mampu memberikan kita kekuatan hingga hari ini ada Dylan yang setia menanti dirimu, Milley.”
Milley berbalik dan menatap suaminya itu.
“Apakah kamu sudah mengetahui siapa dalang dibalik peristiwa lima tahun yang lalu.”
Dylan mengangguk setuju. “Iya, aku sudah tahu siapa dalang dibalik semua ini. Secara pribadi aku juga ingin meminta maaf kepadamu atas nama ibuku.”
“Maksud kamu ... yang melakukan ini ibumu?”
“Iya, yang melakukan ini adalah Rebecca. Ia yang telah membuat pernikahan kita hampir saja hancur, tapi tenanglah karena satu tahun yang lalu ia telah berpulang.”
“Maksud kamu, ibu sudah meninggal?”
“Selama di dalam jeruji besi, dia tidak pernah diberi kesempatan untuk naik banding, sehingga mungkin jiwanya semakin tersiksa dan pada akhirnya ia pun meninggal.”
“Maafkan aku, semoga saja ibumu tenang di alam sana.”
Dylan pun memeluk Milley sebleum akhirya mereka berpisah menuju kamar masing-masing. Jord yang mengintip dari kejauhan tersenyum senang karena ayahnya masih menghormati privasi ibunya Milley.”
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG