
Merasa diabaikan panggilan teleponnya, keesokan paginya Jingga memutuskan untuk mendatangi kantor Dylan.
"Lebih baik jika aku mendatangi ruangannya saja, sepertinya akhir-akhir ini kakak sering sekali sibuk. Mana pasien di Rumah Sakit sangatlah banyak," keluh Jingga yang merasa penat dengan beban pekerjaan yang ditanggungnya.
"Time ia money" adalah salah satu pedoman hidup yang ia pegang. Sehingga seperti saat ini Jingga yang berjalan dengan terburu-buru tidak menyadari jika langkahnya begitu cepat. Bahkan beberapa kali ia hendak menabrak karyawan lain.
"Sorry."
"No problem."
Sementara itu karyawan yang lain juga melakukan hal yang sama.
"Selamat pagi dokter," sapa karyawan yang mengenal sosok Jingga.
"Selamat pagi," balas Jingga cepat.
Akhirnya setelah menyusuri lorong untuk sekian waktu, tibalah di depan ruangan asisten Dylan yaitu Kean. Jingga melihat dan memeriksa ke arah meja asistennya yang ternyata juga kosong.
"Kemana semua orang, sih?" gumam Jingga sewot.
Pada saat yang sama secara kebetulan Rain baru saja keluar dari ruangan Dylan. Beberapa saat yang lalu ia telah menyerahkan beberapa berkas di atas meja kerja Dylan. Selepas tugasnya beres, Rain segera keluar dari ruangan CEO.
Tanpa memperhatikan langkahnya ia sedikit membungkuk sehingga pada saat ia keluar dari pintu secara tidak sengaja, Jingga yang berjalan dengan terburu-buru menabrak bahu Rain hingga membuat Jingga hampir limbung.
"Kau tidak apa-apa, Nona?" hanya Rain yang merasa khawatir.
Beruntung Rain dengan sigap menangkap tubuh Jingga. Hingga sesaat kemudian tatapan mata mereka bertemu. Namun, kedua mata cantik milik Jingga tertutup dengan sebuah kaca mata.
"Kenapa aku seperti mengenal orang ini?" ucap Jingga di dalam hatinya.
Sontak saja Jingga merasa pernah bertemu dengan lelaki itu. Untuk sesaat ia teringat akan seseorang yang beberapa tahun lalu telah mengisi hatinya. Pemilik cinta pertama Jingga yang telah berhasil memporak-porandakan hatinya saat lelaki itu dinyatakan menghilang.
"Benarkah itu kamu?" ucapnya dalam hati.
Mulutnya begitu kelu untuk berucap. Namun kehadiran Rain memang bukanlah mimpi karena untuk sesaat ia bisa merasakan aroma harum tubuh Rain.
"Kenapa dengan Nona ini, ditanyai malah bengong?" gumam Rain.
Pertemuan itu membuat detak jantung Jingga berhenti berdetak untuk sesaat. Ia bisa merasakan sesuatu yang berbeda saat berdekatan dengan orang yang sangat ia cintai.
"Jika benar itu kamu, aku berharap kau mengenaliku," doa Jingga di dalam hati.
Hal itu seolah membuat Jingga lupa bahwa ia ada di depan ruangan CEO dan membuat perhatian banyak karyawan memandang aneh kepadanya.
__ADS_1
Sementara itu Rain sudah tidak nyaman saat mendapatkan pandangan menusuk dari hampir seluruh karyawan yang melihat adegan tersebut. Akhirnya Rain hendak melepas pegangan tangannya, beruntung pada saat yang sama kesadaran Jingga seolah sudah kembali.
"Nona, apakah aku bisa pergi, sekarang?" tanya Rain dengan suara beratnya.
Jingga yang baru tersadar dari lamunannya segera merapikan penampilannya dan mencoba berdiri tegap.
"Maaf, Mas. Saya kurang berhati-hati dalam berjalan."
"Bukan begitu, sepertinya saya juga bersalah dalam hal ini. Karena kurangnya konsentrasi tadi, sekali lagi saya meminta maaf."
"Sama-sama, Mas. Saya juga meminta maaf karena hal ini."
Tidak lama kemudian, baru saja Jingga merasakan jika pasukan oksigen tiba-tiba meipis sehingga kembali membuat Jingga merasa kesulitan bernafas. Hal itu membuat Jingga seolah kesakitan.
Rain yang begitu tanggap situasi kembali mendekati Jingga.
"Nona sungguh tidak kenapa-napa, kah?"
Dinda menggeleng, namun hati dan pikiran yang tidak sinkron. Merasa jika orang yang ditabraknya terlihat limbung, Rain bergegas memapahnya.
"Nona, sepertinya Anda kurang sehat? Jangan memaksakan sesuatu jika Anda kurang yakin akan hal itu."
Tentu saja ucapan Rain barusan mengingatkan pesan yang diberikan Rain kekasihnya dulu. Untuk saat ini keraguan jelas mendera Jingga. Akan tetapi Jingga berjanji akan mencari tahu jati diri lelaki di hadapannya itu.
Meskipun Rain adalah orang baru, tetapi sekertaris Dylan sangat pandai melihat potensi dari seseorang.
"Enak saja mau mendekati calon pacarku?"
Ia berjalan dengan cepat menuju ke arah Rain dan Jingga yang sejak tadi mempertontonkan adegan mesra di depan ruangan CEO. Siapa yang tidak merasa cemburu ketika orang yang ia sukai ternyata bersama wanita lain. Meski sejujurnya Rain masih single.
Sebelum mengucapkan sesuatu, sekertaris Dylan berdehem sejenak.
"Ehem, maaf menganggu," ucapnya dengan intonasi naik satu oktaf.
"Nona Jingga, sepertinya Anda harus segera kembali ke Rumah Sakit, ada pasien Anda yang sedang menunggu, urgent!"
Sontak Jingga dan Rain menoleh ke arah sekretaris itu. Ia segera berdiri tegak dan sedikit menjauh dari Rain.
"Iya."
Lalu Jingga segera menghadap Rain dan berpamitan kepadanya.
"Terima kasih, Tuan, kalau begitu saya permisi," ucap Jingga di balik kaca mata hitamnya.
__ADS_1
"Hati-hati, Nona Jingga."
Ada rasa tidak rela ketika Jingga pergi dari hadapannya. Lagipula pandangan karyawan kantor sudah tidak enak kepadanya.
Setelah berpamitan tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Jingga segera berlalu dan melupakan tujuannya datang ke perusahaan Dylan. Di sisi lain, Rain masih terpaku dengan kepergian Jingga.
"Kenapa aku merasa jika itu kamu, dibalik kaca mata hitam itu pasti kamu, orang yang sangat aku cintai."
"Tidak bisakah kita bersama untuk sejenak?"
Memori Rain untuk sesaat kembali ke beberapa waktu yang lalu saat ia masih kuliah. Saat itu ia pernah mengagumi seoang gadis yang menurutnya sangat pandai dibandingkan gadis seusianya. Apalagi ia seorang gadis yang sangat ramah dan baik kepada semua orang.
"Kenapa nama gadis itu sama sepertimu, Jingga? Aku berharap jika itu beneran kamu. Semoga saja masih ada lain kali untuk bisa bertemu denganmu."
Sementara itu, sekretaris Dylan yang tertarik pada Rain sejak awal berjumpa menyenggol bahu Rain. Ia sungguh tidak rela jika Rain mengagumi sosok dokter Jingga yang benar-benar idaman semua laki-laki.
"Mas Rain, kenapa bengong? Sudah ditunggu sama Pak Kean di ruangannya," ucap sekretaris itu berbohong.
"Oh, baik, Kak. Terima kasih banyak, saya permisi."
"Lah, lah kan ... Kan gue ditinggal, sebel ...."
Rain yang baru saja mengingat moment beberapa saat yang lalu hanya bisa menghela nafasnya. Sungguh berat jika dipaksa untuk melupakan seseorang yang pernah mengisi hati kita. Terlebih lagi itu adalah cinta pertama Rain. Akan tetapi ternyata waktu tidak memberikan kesempatan untuknya kali ini.
"Semoga saja kita masih bisa bertemu, Jingga," doa Rain di dalam hati.
Begitu pula dengan Jingga yang saat ini sedang berada di atas mobil. Pikirannya melayang kembali ke beberapa tahun silam, sama seperti yang dirasakan oleh Rain saat itu sama juga dirasakan olehnya.
"Aku sungguh yakin jika itu kamu, syukurlah kamu baik-baik saja. Semoga Allah selalu melindungi setiap langkahmu, Mas."
Tidak terasa buliran air mata menetes di kedua pipi Jingga. Hatinya memanas ketika pikirannya dipaksa kembali ke beberapa tahun lalu, tetapi Jingga tidak akan menyerah.
"Aku berjanji akan menemukanmu, Mas. Aku sungguh tidak percaya jika kamu sudah meninggal sama seperti perkataan Mama."
"Aku bisa merasakan jika sentuhanmu, kelembutan dan kasih sayangmu untukku masih tersimpan di dalam hatimu. Mari kita perjuangan cinta kita kali ini."
Jingga masih berusaha untuk meyakinkan dirinya kali ini, semoga saja apa yang diharapakan oleh Rain dan Jingga dikabulkan othor, Aamiin.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1