NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 62. PERNIKAHAN


__ADS_3

Hari yang ditunggu Dylan dan Rose akhirnya tiba. Rebecca sudah pulang dari Bali, begitu pula dengan Andreas yang sudah berpakaian rapi dan bersiap untuk datang ke kediaman Tuan Chryst.


Ia sebenarnya sudah menyiapkan beberapa hal berkaitan dengan Rebbeca dan Rose, tetapi ia belum menemukan waktu yang tepat.


Di kediaman Tuan Chryst, bagian belakang rumah sudah di dekorasi sedemikian rupa agar bisa digunakan untuk melangsungkan acara pernikahan Rose dan Dylan. Gazebo di sudut taman belakanng sudah didekorasi sedemikian rupa agar tampak mewah dan memukau.


Sementara itu, Rose sedang dirias di dalam salah satu ruangan dan sedang menunggu seseorang untuk membawanya keluar ke tempat berlangsungnya akad nikah.


"Dylan, aku tidak sabar menunggu waktu itu tiba."


Senyuman itu tidak pernah luntur dari wajah Rose, apalagi beberapa jam yang akan datang, statusnya akan berubah menjadi Nyonya Dylan. Seorang istri dari CEO muda calon pewaris utama keluarga Anggara.


Pagi itu, Dylan tampak tampan dan menawan, tetapi tidak ada senyuman yang nampak di dalam wajahnya. Ingin rasanya ia lari dari tempat tersebut dan menemui Milley. Entah kenapa rasanya ada sebuah penyesalan yang ia rasakan saat ini.


"Apa Milley benar-benar tidak bersalah?" tanyanya dalam hati.


Beberapa saat kemudian, pintu kamarnya diketuk dari luar, ternyata itu adalah Tuan Chryst. Seperti biasanya ia terlihat gagah meskipun diusianya yang sudah tidak muda. Kedatangannya kali ini untuk memberikan support pada Dylan tentang pernikahan palsu kali ini.

__ADS_1


Namun, langkahnya terhenti ketika Dylan mengatakan sesuatu.


"Benarkah aku harus melakukan semua ini, Kek?"


Tanpa menoleh dari suaranya saja, sudah terdengar jika Dylan tidak mau melakukan semua ini. Tuan Chryst bisa merasakan tentang keberatannya.


Entah kenapa ada sebuah beban yang terdengar dari ucapan Dylan saat itu. Padahal sebenarnya memang ada sesuatu yang sangat mengganjal di hatinya, sama seperti yang Dylan rasakan.


Di sudut ruangan lain, Milley sudah datang bersama Michael. Pakaian yang mereka pakai juga berwarna senada. Sejak sampai tangan Milley tidak pernah melepaskan tangan Michael. Ada sebuah ketakutan jika sampai Dylan menggertaknya kembali.


Michael mengusap punggung tangan Milley agar ia sedikit tenang. Michael menatap mata Milley dalam-dalam. Milley bukan takut kehilangan Dylan. Hanya saja ia tidak suka jika Dylan kembali mengusirnya.


"A-aku ...."


Prok ... prok ... prok ....


Dari arah belakang, datanglah Rebecca sambil bertepuk tangan. Ia mengelilingi Michael dan Milley sambil mengarahkan pandangannya ke atas dan ke bawah.

__ADS_1


"Sungguh sebuah pertunjukan yang sangat menarik. Sepasang remaja yang telah menyakiti hati putraku, dengan tidak tahu malunya berani datang kemari!"


"Oh, apa kau menyesal karena Dylan itu lebih memilih wanita lain yang lebih pantas bersanding dengannya? Atau ... kau ingin kembali mempertaruhkan dirimu di depan orang banyak?"


Michael menarik pinggang ramping milik Milley dan merapatkannya ke arah tubuhnya.


"Kenapa wanitaku harus menyesal setelah melepas putra Anda? Sementara itu, kami juga sebentar lagi akan menikah, apa hal tersebut masih mengkhawatirkannya?"


Michael memandang penuh cinta pada Milley, bahkan dengan sengaja ia pamer kemesraan di depan Nyonya Rebecca. Tentu saja ia memalingkan wajahnya. Kecemburuan terpancar jelas darinya. Bahkan sejak menikah dengan Andreas ia tidak pernah mendapatkan kasih sayangnya.


"Sialan, dia begitu mencintai Milley."


.


.


...🌹Bersambung🌹...

__ADS_1


__ADS_2