
Permasalahan pelik ketika menjadi orang sukses adalah banyaknya orang yang tidak suka akan keberhasilan kita. Sepandai-pandainya orang menyembunyikan hal yang buruk maka suatu waktu pasti kebusukannya akan terbongkar.
Sama seperti yang dilakukan oleh anak buah Dylan. Ternyata dia adalah kerabat dekat kekasih Rebecca. Ia memendam kebencian sejak pamannya menjadi gelandangan karena menjadi kekasih gelap dari Rebecca.
Awalnya ia hidup bahagia, tetapi sejak Rebecca dimasukkan ke dalam jeruji besi maka kehidupan pamannya menjadi terpuruk. Kebiasaan karena dimanjakan harus membuatnya tidak bisa hidup sederhana.
Sampai suatu ketika saat mendengar Rebecca meninggal ia pun mengakhiri hidupnya dengan menabrakkan tubuhnya ke sebuah mobil yang melaju kencang di jalanan. Akibatnya ia menderita luka yang cukup patah hingga berakhir di jalanan.
"Jika bukan karena keluarga kalian, mungkin saat ini aku bisa menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi!" ucapnya penuh penekanan.
Gerald adalah putra angkat Rebecca dengan kekasih gelapnya. Ia adalah yatim piatu. Sejak kecil hidup bersama pamannya. Sehingga kedekatan mereka jauh melebihi ikatan paman dan keponakan. Tidak pernah membuat masalah membuatnya ia mendapatkan perhatian lebih dari Rebecca.
Sehingga lima tahun yang lalu, kuliah yang hampir selesai harus berhenti di tengah jalan ketika mendapatkan kabar jika kedua orang tua angkatnya meninggal dunia.
Gerald harus menghidupi dirinya sendiri selama lima tahun terakhir. Bahkan ia harus keluar dari tempat kuliahnya karena ia tidak bisa membayar biaya yang terus menunggak.
"Sejak saat itu aku pun berjanji agar keluargamu tidak akan pernah bisa hidup bahagia."
Gerald membalikkan tubuhnya ke depan. Dilihatnya sebuah kursi yang biasanya di duduki oleh Dylan. Ada sebuah kebencian yang mendalam di sana.
"Jika aku mengambil sedikit uangmu, maka tidak akan menjadi masalah besar untukmu, bukan?"
"Ha ha ha ... Aku memang sungguh sangat pandai. Tidak rugi ibumu menyekolahkan aku sampai jenjang yang lebih tinggi."
"Tapi, andaikan kamu tidak menjebloskan Mamaku, semua ini tidak akan pernah terjadi Dylan Joshua."
Di dalam pesawat Dylan terus memikirkan cara untuk mengungkap siapa yang telah melakukan perbuatan itu. Bagaimana ia bisa tega membuat para karyawannya mati kelaparan dengan ulahnya tersebut.
Sementara itu Kean terus melacak siapa yang berani membobol situs keuangan milik Dylan di perusahaan. Dylan menoleh ke arah Kean yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Bagaimana Kean? Sudah ketemu jejaknya?"
"Sedikit lagi, Bos."
"Harusnya aku mengandalkan istriku!" ucapnya lirih.
Namun, Kean bisa mendengar ucapan dari Bos-nya tersebut. Ia pun menoleh menunggu penjelasan yang mungkin diberikan olehnya.
"Kenapa memandangku! Bosan hidup!"
"Enggak lah, Bos. Mana mungkin aku begitu, aku kan ...." ucapan Kean terputus karena Dylan lebih dulu telah hafal kalimat apa yang akan diucapkan oleh Kean setelahnya.
__ADS_1
"Aku kan belum kawin, jadi bagaimana bisa aku meneruskan garis keturunan keluargaku. Aku kan anak tunggal Pak Bos."
Dylan memang sudah hafal dengan kebiasaan asistennya itu. Akan tetapi Kean juga tidak merasa malu ataupun keberatan dengan ejekan dari Bos-nya itu.
"Sudah, jangan berpikiran hal yang aneh ataupun hal lain. Aku hanya ingin jika kamu benar-benar serius melacak keberadaan orang itu. Jika benar itu dilakukan oleh orang dalam. Maka segera berhentikan dia dan jebloskan ke dalam jeruji besi!"
"Siap Bos, kalau tentang itu rebes. Eh beres ...." kelakar Kean.
"Huft, andai saja mereka bisa aku ajak ke kota saat ini, pasti hatiku akan lebih tenang," ucap Dylan sambil memandang hamparan awan yang berada di sisi pesawat.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka sampai di Ibu Kota. Hal pertama yang mereka lakukan adalah sarapan. Lalu setelahnya menuju kantor secepatnya. Kalau untuk soal baju hal itu sudah dipersiapkan di kantor.
Sejak awal ia berangkat, Kean sudah memberikan perintah agar orang rumah segera mengantarkan pakaian bersih mereka ke perusahaan. Hal ini dilakukan untuk mempercepat waktu agar semuanya bisa berjalan dengan lancar.
"Aih, Bos kharismamu benar-benar menyilaukan mataku. Jika saja aku wanita sudah pasti aku akan memintamu untuk menikahiku."
Plak
Sebuah buku berhasil mendarat mulus di wajah Kean. Padahal saat ini ia sudah merapikan penampilannya karena rapat akan segera dimulai. Namun, dengan entengnya Dylan justru melempar sebuah buku hingga wajahnya memerah.
"Boooossss ... Kau benar-benar membuatku hilang pasaran," gerutu Kean sambil mengusap wajahnya yang berdenyut.
"Sokorrr! Itulah akibat karena kamu berkhayal yang tidak-tidak tentangku. Bagaimana bisa kamu menyuruhku untuk menikahi jeruk!"
"Astaga, aku lelaki tulen, Bos! Jadi tenanglah, aku tidak gila, kok."
"Terserah!"
Dylan segera berbalik lalu merapikan penampilannya. Ia sudah terbiasa memasang dasi sendiri sejak lima tahun yang lalu. Sejak kepergian Milley, Dylan berusaha untuk segera bangkit dan membalaskan dendam kematian mereka.
Namun, sepertinya dendamnya saat ini sangatlah tidak beralasan. Karena pelaku utama sudah meninggal. Lagi pula Milley dan Jord masih hidup. Itu sudah lebih dari cukup.
Merasa jika Milley merindukan dan mengkhawatirkan dirinya, ia berniat untuk mengambil ponselnya.
Tut ....
Milley yang sibuk mencuci piring segera menghentikan aktivitasnya. Diraihnya ponsel miliknya saat itu.
"Dylan ...." ucapnya senang karena suaminya kembali mengingat dirinya.
"Hallo, Sayang. Bagaimana kabarmu? Aku sungguh merindukanmu saat ini," ucap Dylan berterus terang dari seberang telepon.
__ADS_1
Milley tersenyum dan tersipu akan ucapan suaminya.
"Kenapa diam, apa aku tidak pantas kau rindukan?"
"Bukan begitu, Sayang. Akan tetapi ini belum ada dua puluh empat jam, cepat sekali kamu merindukan aku."
"Memangnya tidak boleh, bukankah merindukan istri sendiri itu tidak dosa?"
"Ehem, tidak sih. Hanya saja ... Bukankah kita bukan anak muda lagi, kenapa harus bersikap seolah kita pasangan baru?"
"Itu karena aku berusaha untuk tetap menjaga cinta kita meskipun kita sudah lama berpisah."
"Iya, kamu benar. Maafkan aku ...."
"No problem, My wife."
"Oh, ya bagaimana perjalanan rapat kali ini, sukses?"
"Alhamdulillah Sukses. Tetapi ada sebuah penyesalan di sana."
"Apa itu?"
"Karena aku belum bisa membawamu dan Jord kembali ke sini. Padahal perusahaan ini aku bangun atas nama kalian."
Milley tersenyum.
"Tunggulah sampai waktu itu tiba. Aku yakin jika saat kita bertemu nanti semuanya akan terasa lebih indah lagi."
"Aamiin."
"Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. Love you my wife."
"Love you too My Hubby."
Dengan perasaan bahagia, akhirnya sambungan telepon mereka terputus. Saat hendak berbalik ia mendengar suara keributan di luar ruangan. Mungkin karena rasa pernasaran, Dylan segera berjalan keluar.
"Jingga ...." seru Dylan dari pintu kamarnya.
Wanita yang dipanggil Jingga oleh Dylan adalah dokter yang telah merawat depresi yang telah dialami oleh Dylan beberapa tahun yang lalu. Hingga akhirnya ia bisa berdiri tegak saat itu.
Apakah kedatangan Jingga akan mengganggu hubungan Milley dan Dylan?
__ADS_1
Penasaran kan? Chek update hari ini ya. Makasih.