
Selepas masa kuretasi, maka Viola harus bedrest total di Rumah Sakit selama beberapa hari kemudian. Sedangkan janin yang telah diberi nama tersebut Jiso telah dikuburkan dengan layak oleh Michael.
Meskipun usia janin itu baru berusia tiga bulan, namun kecanggihan teknologi telah membuat dokter dapat memprediksi hal itu meskipun belum terlalu akurat. Karena sebenarnya hal itu bisa dilihat jika kehamilan sudah menginjak enam belas minggu. Akan tetapi Viola bersikeras menganggap janin itu perempuan.
Michael pun mengikuti keinginan Viola, ia sudah tidak punya keberanian untuk melukai hati istrinya lagi. Rasa bersalah telah membuat Michael sadar, jika sebuah perasaan itu memanglah sangat rentan. Rentan untuk bahagia dan terluka dalam waktu yang bersamaan.
Di pemakaman, tangis Michael tidak terbendung. Meski ia belum bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah Jiso, tetapi ia yakin jika terus tumbuh pasti akan sangat cantik. Keegoisan telah membuatnya menjadi orang jahat.
"Maafkan Papa, Nak."
Michael tampak mengusap nisan Jiso. Di atas tanah pemakaman yang masih merah dan mungil itu, menjadi saksi betapa Michael telah egois hingga membuat hati istrinya hancur dan terluka dalam waktu yang bersamaan.
Ia yakin jika Viola tahu perasaannya untuk Milley belum terhapus, sehingga rasa cinta untuk Viola hanyalah perasaan semu dan belas kasihan.
"Papa janji, setelah ini Papa akan lebih perhatian sama Mama."
"Kamu tenang di sana ya, Nak. Papa pulang," pamit Michael sebelum ia benar-benar meninggalkan area pemakaman.
Selepas dari pemakaman, hampir setiap hari Michael menemani Viola di Rumah Sakit. Selama itu pula, Viola masih belum membuka mulut dan mendiamkan suaminya.
Sehingga mau tidak mau Michael harus menerima hal itu. Mungkin itu hukuman untuknya karena telah melukai hati istrinya.
"Kau tidak perlu menjadi orang lain, lagipula cintaku telah mati bersama putri kita yang kau bunuh," ucap Viola di dalam hati.
Meskipun ia tidak mau menatap suaminya, tetapi Viola tidak bisa membunuh rasa itu di dalam hatinya. Sakit, memang sakit. Bagaimana tidak seharusnya bulan depan adalah acara syukuran empat bulan untuk kandungannya kini akan berganti dengan acara satu bulan meninggalnya anak mereka.
Hati ibu mana yang tidak sakit ketika mendapati kenyataan seperti itu. Akan tetapi nasi sudah menjadi bubur. Semua telah terjadi sehingga membuat semuanya hancur dalam sekejap mata.
Sementara itu untuk urusan kantor, jika tidak terlalu penting maka Michael akan menghabiskan waktu untuk bersama Viola di Rumah Sakit.
Banyak sekali hal yang ingin ia ucapkan untuk menghibur suasana hati istrinya, tetapi Viola sama sekali tidak memberikan kesempatan.
__ADS_1
"Aku yakin masih ada cinta untukku di dalam hatimu. Namun, aku juga tahu tidak akan mudah menghapus segala kebencian dan rasa kecewa yang telah bersemayam di dalam hatimu."
Di perusahaan Dylan.
Ia baru saja mendapatkan kabar jika Jord memenangkan lomba akademik di sekolahnya. Kecerdasannya membuat miniatur robot mendapatkan apresiasi dari seluruh guru dan kepala sekolah.
Dalam acara penghargaan yang akan diberikan dua hari lagi, diharapakan kedua orang tua Jord bisa hadir di sana.
"Bagaimana, Mas? Apa biarkan Rain yang menemaniku?" tanya Milley dari seberang telepon.
"Nggak! Biar aku muncul di permukaan tidak apa-apa, lagi pula setelah ini kita akan bersama."
Tentu saja ucapan Dylan barusan mengagetkan Milley. Hal itu belum ia diskusikan sama sekali dengannya. Bagaimana bisa ia mengambil keputusan sendiri?
"Bukankah, Mas mengatakan jika tidak akan mengambil keputusan dengan sepihak, tetapi apa ini?"
Dylan menghela nafasnya secara perlahan.
Perkataan Dylan terdengar sangat penuh dengan penyesalan. Milley bisa merasakan jika suaminya memang merasa bersalah saat ini. Ia teringat ketika dulu Dylan sangat patuh terhadap kakeknya itu. Sekeras apapun mereka berdua menolak jika Tuan Chryst sudah memilih A, maka Milley dan Dylan harus ikut memilih A.
"Baiklah kalau begitu, biarkan aku berbicara dengan Jord setelah ini."
"Titip salam untuk putraku, Sayang."
Milley tersenyum, "Iya, Sayang. Have a nice dream Hubby."
"Have a nice dream too."
Selepase mengakhiri percakapan melalui sambungan telepon, Milley bergegas masuk ke kamar Jord. Sebelumnya ia mengetuk pintu terlebih dahulu. Sebuah kebiasaan yang jarang dilakukan di jaman seperti ini, tetapi Milley mengajarkan etika di usia Jord yang masih dini.
Segala kebiasaan kecil yang mungkin akan berguna di kemudian hari. Karena semua hal baik dimulai sejak usia dini. Apalagi Jord merupakan anak yang kritis, sehingga apapun yang kurang sesuai maka ia akan menyuarakan pemikirannya.
__ADS_1
"Sayang, apa kamu sudah tidur?" ucap Milley dari luar kamar.
"Belum, Ma. Masuklah!"
"Oke, Sayang. Terima kasih."
Setelah mendapat ijin, barulah Milley mulai masuk ke dalam kamar putranya. Ternyata Jord masih asyik membaca buku sains di atas tempat tidurnya. Milley tersenyum ke arahnya.
"Kok belum tidur? Lagi baca apa?"
"Lagi baca buku ini, Ma. Seru banget, sayang kalau dilewatkan."
"Perasaan Mama belum pernah membelikan buku ini?"
Jord tersenyum kecil, "Memang, buku ini dibelikan Papa Dylan sepulang mengantar kue. Tanpa sepengetahuan Mama, Papa memberikannya kepadaku."
"Oh, syukurlah kalau begitu. Oh ya, tadi Papa telepon, katanya saat pemberian penghargaan dua hari lagi Papa mau datang."
"Serius, Ma?"
Milley mengangguk.
"Syukurlah kalau begitu, Jord bahagia banget Ma. Semoga teman-teman Jord tidak akan membully Jord lagi setelah ini."
"Membully? Apa mereka sering melakukan hal itu?"
Jord mengangguk, hati Milley terasa sakit ketika putranya menyimpan kesulitannya sendiri. Tanpa kata-kata, Milley mendekap Jord dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan Mama, Nak. Mama tidak tahu akan hal ini."
BERSAMBUNG
__ADS_1