
Tidak ada kebahagian palsu lagi saat melihat Lena bisa bertemu dengan anak saudara sepupunya. Kini tugas Milley adalah mempertemukan Viola pada Robby ayahnya.
"Bagaimana jika ayah lupa dengan saudaranya yang berada di Paris?" gumam Milley.
"Ah sepertinya tidak, semoga saja ayah tidak melupakan semuanya, karena jika Viola berdiri di depannya dan memperlihatkan semua bukti itu ia pasti akan lebih tahu, apalagi semuanya terlihat dengan jelas."
Namun ada sebuah hal yang membuat Milley tiba-tiba ragu. Milley hanya takut jika suatu saat ayahnya meminta sang ibu untuk mengantarkannya ke Paris, padahal saat ini mereka sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Sejak pertemuan pertama kali di Rumah Sakit dengan ayahnya, Robby. Semuanya menjadi berbeda, tidak ada tawa dan kebahagiaan yang terpancar di wajah Lena. Ia menjadi sosok yang lebih murung dari sebelumnya.
Saat ini beban pikiran Milley semakin bertambah. Apalagi Robby sudah menemukan keberadaannya saat ini.
"Mungkin saja Ibu masih trauma dengan semua perlakuan ayah selama ini. Namun, sepertinya ia terlihat sangat berbeda dengan sikap ayah yang dulu. Semoga saja, setelah ini semuanya bisa baik-baik saja."
Harapan Milley hanya satu, yaitu membahagiakan kedua orang tuanya. Meskipun mereka tidak bersama lagi, setidaknya tidak saling menyinggung satu sama lain.
Milley yang sedang melamun tidak menyadari jika suaminya sudah pulang. Sampai tepukan halus dari Dylan mengagetkannya, sontak ia menoleh ke arahnya.
"Astaga, Sayang. Aku kira siapa?" ucap Milley sambil mengusap dadanya perlahan.
Alis Dylan berkerut ketika menyadari istrinya melamun. Kini ia duduk bersimpuh di hadapannya.
"Apakah ada yang membuatmu khawatir? Kenapa terlihat sekali kamu sedang memikirkan hal lain? Ingat kata dokter, Sayang," ucap Dylan pada istrinya.
Milley ingin tersenyum tetapi mulutnya terasa kelu. Untuk apa aku berbohong, "Bukankah Dylan sekarang telah menjadi suamiku, harusnya aku bisa berbagi semua pada Dylan."
"Kok diem? Apa kamu keberatan jika menceritakan semuanya padaku?"
Milley menggeleng, ia pun mulai bercerita tentang apa yang sedang menggangu pikirannya.
"Kalau begitu bicaralah!"
"Iya, Mas."
"Aku kepikiran Ayah, Mas'" ucap Milley sambil menunduk.
"Memangnya kenapa? Apakah kau takut dengan kehadiran Viola. Atau mungkin saja keinginannya yang ingin membawa ibu dan ayah pergi kesana mengganggu pikiranmu?"
"Kenapa Mas bisa membaca pikiranku?" tanya Milley terheran-heran.
"Entahlah, mungkin karena kita sudah sehati, jadi memudahkanku untuk bisa membaca pikiranmu?" ucap Dylan percaya diri.
"Ada-ada aja!" Milley mengibaskan tangannya.
Meskipun begitu, Milley mengulas senyum kepada suaminya. Entah kenapa hanya Dylan yang mampu membuat Milley tenang untuk saat ini. Setelah banyak cobaan yang datang menerpa, hanya Dylan yang mampu membuatnya bertahan.
Setelah bercengkerama dengan Milley, kini ia mencoba berbicara dengan calon anaknya yang berada di dalam perut Milley.
"Sayangnya Ayah sedang apa saat ini?" tanya Dylan sambil mengelus perut Milley.
"Sedang ngambek Ayah" ucap Milley dengan suara anak bayi.
"Ngambek kenapa?"
"Karena Ayah pasti lupa membawa pesanan Mama."
Dylan terkekeh, lalu menjentikkan jarinya agar Leo masuk ke dalam kamar. Ternyata Leo membawakan sebuah paper bag yang berisi martabak telur kesukaan Milley.
__ADS_1
"Yeay, makasih Ayah."
"Sama-sama, kalau begitu sayangnya ayah jangan sampai marah lagi, oke?"
"Oke."
......................
Sementara itu, di sebuah ruangan lebih tepatnya di ruangan CEO, Michael sedang memainkan pulpennya dengan salah satu tangannya. Harusnya saat ini ia sudah kembali ke rumah, tetapi pikirannya tentang Milley dan Viola membuat ia mengurungkan niatnya.
"Kenapa aku menjadi ragu untuk meneruskan niatku bersama Viola?"
"Bayang-bayang Milley membuatku tidak bisa memikirkan wanita lain," gumamnya.
Michael yang dilema hanya bisa mengusap gusar wajahnya. Entah kenapa bayangan cinta pertama sangat sulit untuk dilupakan. Sementara itu Viola sedang berada di sebuah gedung yang sama dengan calon suaminya.
Saat ini ia sudah memberitahukan kepada ibunya jika ia sudah menemukan Robby, saudara ibunya. Viola bahkan telah menceritakan semua hal tentang keseruannya.
"Kalau begitu nanti kamu coba temui pamanmu, biar ibu yang berbicara langsung dengannya."
"Siap, Bu. Nanti biar aku yang meminta kepada Michael agar mudah menemui paman."
"Oh, ya bagaimana kabar kekasihmu itu?"
"Hubungan kami baik-baik saja, mungkin dua minggu lagi kami akan terbang ke Paris."
"Ibu sudah tidak sabar menunggu kedatangan kalian. Semoga hubungan kalian sampai tahap selanjutnya. Aamiin."
"Terima kasih, Bu. Kalau kabar ayah bagaimana?"
"Ta-tapi apakah beliau masih suka berbuat kasar?"
"Tentu saja tidak. Kamu baik-baik saja."
Viola bersyukur karena rumah tangga ibunya sudah baik-baik saja. Mungkin ini hikmah ketika ia mencoba membantu mencari keberadaan ayahnya yang ia anggap hilang.
Selepas berbincang dengan ibunya, Viola melanjutkan langkahnya menuju ruangan CEO tempat Michael berbeda. Tidak lama kemudian ia telah sampai di tempat itu, Viola mengetuk pintu kamarnya sendiri.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Siapa?"
"Ini aku," ucap Viola dari luar ruangan.
"Kenapa dia datang?" gumam Michael.
Michael tidak membiarkan calon tunangannya menunggu lama, oleh karena itu ia segera menyuruhnya untuk masuk.
"Masuklah!" seru Michael yang menyadari akan kedatangan Viola.
Memang akhir-akhir ini Viola sering mendatangi kantor Michael jika ia tidak mempunyai pekerjaan. Niatnya memang untuk mempererat hubungan kisa cinta mereka. Sementara itu ia sudah merasa penolakan dari Michael.
"Kamu sudah datang rupanya?"
"Seperti yang kamu lihat," ucap Viola dengan tersenyum.
Tidak lupa sebuah paper bag di salah satu tangannya.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu."
Michael menurunkan pulpennya lalu menyambut kedatangan Viola. Ia mencoba untuk tetap berbuat baik pada Viola meski ia tidak terlalu suka akan kehadirannya.
"Apa kamu suka?"
Viola menyodorkan sebuah kue cake buatannya sendiri kepada Michael. Belum sempat Michael menjawab, Viola sudah kembali berbicara.
"Katanya kamu lapar, makanya aku bawakan makanan untukmu."
"Hah, kata siapa aku lapar?"
"Anggap saja begitu, kamu kan suka telat makan," ucap Viola sambil mengambilkan sebuah potongan kue kepada Michael.
Michael memegang tangan Viola, lalu menatap ke dalam matanya.
"Katakan siapa yang memberi tahu jika aku sering telat makan?"
"I-itu, dokter Adam yang memberitahu aku tentang semua ini."
Viola tidak kuat jika melihat tatapan kasih sayang padanya.
"Ok, apa ada yang ia katakan selain itu?"
"Tidak ada, dari nada bicaramu, sepertinya kurang suka jika ada orang yang memberitahukan tentangmu kepada orang lain?"
Viola yang melihat gelagat Michael yang tidak suka akan kehadirannya segera beranjak, tetapi rupanya Michael punya jurus terjitu untuk bisa mengambil hatinya. Belum sempat ia melangkah pergi, tangan Michael mencegahnya.
"Seharusnya kamu tidak perlu marah, aku hanya
tidak suka jika kamu berdekatan dengan lelaki lain."
Viola menatap kedua mata Michael, mencoba mencari celah apakah ia berbohong atau tidak.
Namun ternyata Michael tidak berbohong.
"Baiklah, kalau kamu tidak percaya, maka belahlah dadaku ini!"
Tanpa banyak berkata, Viola memeluk erat tubuh kekasih hatinya. Entah kenapa rasa di hatinya untuk Michael sangatlah besar, sehingga ia lebih cepat luluh saat berhadapan dengannya.
"Justru aku yang seharusnya meminta maaf karena sudah berlaku lancang kepadamu, maaf," ucap Michael dengan tulus.
Viola tetap dalam keadaan yang sama dengan saat ini, nyaman ketika ia dalam pelukan Michael. Sementara itu Michael memeluk erat tubuh Viola sambil mengusap kepalanya.
"Terima kasih."
"Sama-sama, Sayang."
.
.
Kekuatan cinta sejati terkadang bisa mengalahkan semuanya. Awalnya ia merasa tidak suka dan terus menolak kehadiran Michael, tetapi entah kenapa lama kelamaan ia semakin nyaman hingga ia menerima ungkapan hati dari pujaan hatinya itu, Michael.
Apakah kisah cinta mereka akan tetap berlangsung dan langgeng?"
BERSAMBUNG
__ADS_1