NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 203. KEHANGATAN SEBUAH KELUARGA


__ADS_3

Saat ini, Dylan sedang menikmati momen bersama anak dan istrinya. Mereka bertiga bermain di dalam sebuah ruangan yang telah di desain ulang oleh Dylan.


"Kenapa kamu tidak membuatkan camilan untuk kami?" tanya Dylan pada istrinya.


"Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh ikut bermain?"


Milley memasang wajah memelas saat ini. Ia merasa heran karena suaminya malah menyuruhnya untuk membuat makanan untuk mereka semuanya.


"Apa kamu tidak merasa kangen terhadapku, kenapa malah menyuruhku memasak?" tanya Milley penuh curiga.


"Bukan begitu, Sayang. Hanya saja bukankah sudah melewati makan malam? Kenapa kamu belum memasak?" tanya Dylan manja.


Milley yang gemas akan tingkah manja suaminya hanya bisa melampiaskan kekesalannya dengan mencubit mesra perut suaminya tersebut.


"Awh, kamu kenapa sih, Sayang? Kejam banget sama aku," ucapnya sambil tersenyum masam.


Sementara itu Jord yang baru saja sampai di kamar memmandang aneh kepada kedua orang tuanya.


"Papa sama Mama sibuk ngapain sih?" tanya Jord sambil menatap aneh kepada kedua orang tuanya.


Sontak saja keduanya menoleh secara bersamaan. Rasanya sangat memalukan ketika anak menemukan kedua orang tuanya sedang bertingkah seperti anak kecil.


"Ini loh, Sayang. Papa pengen masakan buatan Mama, padahal di rumah kan ada koki."


Jord mendekati ayahnya. Lalu meminta untuk duduk di atas pangkuannya. Tentu saja Dylan merasa senang karena putranya menerima kehadirannya.


"Meskipun di rumah ini ada koki, tapi Jord pengennya makan masakan Mama. Jord takut alergi," ucapnya sambil bertingkah seperti anak kecil yang manja.

__ADS_1


Sebenarnya Jord jarang sekali bertingkah seperti ini, apalagi ia seringkali terlihat jauh lebih dewasa daripada anak seusianya. Namun, entah kenapa Jord menjadi manja ketika bersama teman-temanmu ayah dan ibunya.


"Baiklah, karena pangeranku ingin makan, tunggu sebentar di sini. Aku akan menyiapkan sesuatu hal untuk kalian."


Setelah Milley pergi, Jord dan Dylan saling bertos ria.


"Papa suka makan apa?"


"Hampir semua masakan Mama, Papa pasti suka."


"Oh, jadi begitu. Kalau aku lebih suka saat Mama membuat sebuah cake untukku."


"Baiklah karena itu mau kamu, Papa yakin Mama pasti sudah menyiapkan makanan lezat untuk kita."


"Horeee ...." teriaknya.


"Ibu, tumben jam segini tidak menonton televisi?" tanya Milley pada ibunya.


"Anakku, bukankah Ibu sudah lama tidak suka menonton televisi."


"Loh, benarkah? Memangnya kenapa?"


"Justru Ibu sudah lama tidak menyukai televisi, sejak kamu dinyatakan meninggal, sejak saat itu Ibu berjanji tidak akan menonton televisi lagi."


Milley menggenggam kedua tangan Lena. Ia menatap lembut ke arah ibunya. Milley berulangkali mengucapkan kata maaf pada ibunya.


"Maaf Ibu, bukan maksud Milley untuk pergi dari sini, akan tetapi sesuatu hal yang telah memaksa kami, hingga akhirnya kami melarikan diri."

__ADS_1


"Hingga tanpa sengaja bus itu membawa kami ke luar kota dan sejak itu Milley mulai hidup bertiga dengan Rain dan Jord."


"Bukannya Milley tidak ingin muncul di permukaan, hanya saja untuk saat ini, aku belum siap dan tidak ingin membuat Dylan kesusahan."


"Milley dengarkan perkataan Ibu, Nak."


"Semua yang terjadi atas ijin Tuhan, oleh karena itu setiap kejadian yang sedang menimpa kita harus kita syukuri."


"Meskipun begitu, tolong maafkan aku ibu."


Lena memeluk putrinya yang sudah dewasa itu. Membelai lembut kepalanya.


"Ibu yakin semua itu sudah kamu pikirkan dengan baik, jadi ibu tidak pernah menyalahkan akan hal itu."


"Sebaiknya Ibu sangat bersyukur karena saat ini kau dan cucuku telah kembali ke dalam Keluarga Besar Tuan Chryst."


"Iya, Ibu ini semua karena tingkah Dylan, aku juga harus berterima kasih kepadanya."


"Betul sekali, Sayang."


"Oh, ya. Kamu kesini tadi untuk apa? Bukankah kamu ingin memasak, kalau iya, sini Ibu bantu."


"Baiklah, ayo Ibu!"


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2