
Setelah dua hari pemulihan, saat ini Viola sudah diperbolehkan untuk pulang. Michael dengan setia mendorong kursi roda yang Viola naiki. Sungguh enggan rasanya ketika ia harus berada bersama orang yang paling ia benci. Siapa lagi kalau bukan Michael.
"Kalau bukan kamu suamiku, sudah pasti aku buat kamu pergi sejauh-jauhnya!" ucap Viola dengan kesal di dalam hatinya.
"Kenapa ia seperti itu, apakah rasa itu sungguh tidak bisa di sembuhkan?" ucap Michael dengan raut wajah yang sedih.
Padahal setiap orang yang melihat keduanya banyak mengatakan jika mereka pasangan yang serasi tanpa cela. Bagaimana tidak dikatakan demikian jika Viola selalu perhatian terhadap suaminya.
Sementara itu Michael selalu bersikap lembut dan penuh kasih sayang ketika di depan semua orang. Namun, hanya itu yang bisa mereka lihat di luar. Ketika mereka tahu jika rumah tangga mereka tidak seharmonis cangkang luarnya, mungkin mereka akan merasa miris.
"Apa yang kamu lakukan di situ?" tanya Michael yang melihat istrinya menggerakkan kursi rodanya menjauh darinya.
"Bukan urusanmu!" ucap Viola dengan intonasi yang sudah naik satu oktaf.
"Apakah aku tidak boleh berbicara kepadamu?"
Viola tetap mendiamkan Michael tanpa mau mengatakan apapun lagi.
"Kalau begitu, baiklah."
__ADS_1
Michael masih bersikap wajar kali ini, karena ia tahu rasa kecewa yang mendera istrinya kali ini sungguh di luar keinginannya. Padahal dokter Richard sudah mengatakan jika keguguran yang dialami Viola kemarin adalah murni karena kondisi kandungannya yang lemah.
Namun, Michael tidak mau berpikir yang aneh-aneh. Meskipun dokter sudah mengatakan hal ini, ia menutupi hal ini dari Viola.
Beberapa saat yang lalu.
"Kenapa kau melarangku untuk tidak memberitahukan hal ini kepada Viola?" tanya dokter Richard penasaran.
"Aku tidak berhak menyakitinya sekali lagi. Jadi, biarkan ia mengetahuinya sendiri tanpa harus kita mengatakan kebenaran ini."
Michael terlihat sangat sendu, tetapi sebagai dokter ia tidak bisa memaksakan hal itu pada pasien ataupun keluarganya. Sehingga ia pun membiarkan Viola melakukan apapun yang ia inginkan.
Selepas membiarkan Michael tenggelam di dalam dunianya, dokter Richard lebih memilih untuk segera pergi kembali ke ruangannya. Ia tidak mau ikut lebih dalam lagi.
......................
"Kamu tidak tahu betapa aku sangat terluka saat ini."
"Kenapa harus aku yang menderita, aku sangat membencimu!"
__ADS_1
Viola terlihat sangat membenci Michael. Ia bahkan tidak mau memberikan waktu kepada suaminya untuk menjelaskan hal itu. Meskipun begitu, Michael tidak menyerah. Ia tetap berusaha untuk kembali meluluhkan hati Viola.
Michael tidak akan pernah membiarkan istrinya sendirian lagi. Sehingga tanpa sepengetahuan Viola ia tetap membuntuti istrinya yang menjauh darinya.
Saat ini Viola sedang menangis tergugu di sebuah taman Rumah Sakit. Ia masih merasakan sakitnya saat beberapa hari yang lalu ia masih mengusap lembut perutnya.
"Beberapa hari yang lalu kamu masih ada di sini, tetapi saat ini ...." Viola menjeda kalimatnya.
Bahkan hatinya saat ini terasa bagaikan tertusuk ribuan jarum. Untuk bernafas pun sulit rasanya. Mau tidak mau ia harus menangis tergugu sendirian.
Hamparan bunga yang biasanya mampu membuat dirinya bahagia, kini tidak ada rasa yang sama seperti saat ia masih mengandung Jiso.
"Semoga saja ia akan sadar, jika yang ia sakiti bukan lagi istrinya saja melainkan seluruh orang yang mengharapkan kita bersama."
Michael mencoba memegang dadanya yang bergemuruh. Ia bisa merasakan sakitnya kehilangan orang yang diharapkan. Sama seperti saat kehilangan Milley.
Akankah dunia bisa menyatukan kedua orang itu?
BERSAMBUNG
__ADS_1