
Setiap kehamilan mempunyai keistimewaan masing-masing. Setiap janin yang tertanam di rahim seseorang pasti akan membawa kebiasaannya sendiri dan takdirnya. Semua sudah tertulis sejak dia akan diturunkan ke bumi dan menempati rahim sang ibu.
Milley membelai lembut perutnya, sambil ia mulai membacakan doa-doa untuknya. Milley yakin setiap anak yang hadir dalam kehidupan manusia adalah sebuah kebahagiaan, sebuah anugerah dan sebuah tanggung jawab bagi kedua orang tuanya.
"Semoga kamu tumbuh menjadi anak sholeh/sholehah ya, Nak. Aamiin."
"Mama bersyukur kamu telah hadir di dalam kehidupan Mama dan Papa. Tidak ada hal lain yang lebih membahagiakan kecuali kamu tumbuh sehat dan beramal sholeh."
Baik tidaknya seorang anak itu tergantung cara mendidik dari seorang ibu. Begitu besarnya peran seorang ibu terhadap anaknya karena sejak dalam kandungan ia sudah diberikan pelajaran, bahkan sampai akhir hayatnya ia selalu menjaganya.
Dari luar terdengar derap langkah seseorang, "Mungkin itu Dylan," gumam Milley.
Namun, apa yang terjadi ternyata bukan sesuai kenyataan. Sebuah kejutan indah akan hadir di dalam beberapa menit kemudian.
Lena mengetuk perlahan pintu kamar Milley.
"Masuk ...."
__ADS_1
"Selamat pagi, Sayang ...." sapa Lena pada putrinya.
Milley sangat merindukan suara ini, meski ragu ia tetap menoleh ke arah pintu.
"Ibu ...."
Lena tersenyum ke arah putrinya, melebarkan tangan pada putrinya agar ia bisa memberikan kehangatan cinta dan kasih sayang seorang ibu kepadanya. Tanpa menunggu waktu lama mereka segera berpelukan. Menumpahkan kerinduan satu sama lain.
"Ibu pulang kok nggak ngasih kabar dulu?"
Entah kenapa kedua mata Milley sudah menjadi sembab saat ini. Tidak ada hal lain yang lebih membuatnya bahagia selain hal tersebut. Kedatangan Lena benar-benar membuat Milley bahagia.
"Tidak ada kejutan lain yang lebih membahagiakan kecuali kembalinya Ibu kesini dan juga kehadiran malaikat kecil di dalam sini," ucap Milley mengusap perutnya penuh kelembutan.
Lena semakin memeluk erat putrinya dan ikut mengusap perut Milley dengan lembut. Senyuman secerah mentari pagi ia sematkan kepadanya. Tidak lupa untaian kata penuh doa Lena berikan pada calon anak Milley.
"Loh, Dylan kemana? Kok sedari tadi terlihat sangat sepi."
__ADS_1
"Tadi ada di bawah, kenapa sekarang dia menghilang?"
"Oh, ya. Sebentar lagi Ibu akan memanggilkan ayah mertuamu, ya."
"Tidak usah, Bu. Biar Milley segera turun ke bawah untuk menyambut beliau."
"Eh, kenapa begitu? Nggak usah, Ibu nggak mau kamu kenapa-napa."
"Apa maksud, Ibu?"
"Bukan apa-apa, hanya saja dulu Ibu pernah berada di mana kehamilan yang Ibu alami sangat lemah. Oleh karena itu, banyak hal yang Ibu lakukan demi menjagamu agar tetap bisa bertahan di dalam sini."
Kedua mata Lena berkaca-kaca. Ia seolah sedang menceritakan masa lalunya yang sangat kelam dan penuh perjuangan.
"Maka dari itu, Ibu takut terjadi sesuatu hal kepadamu. Apalagi kau banyak mewarisi gen dari Ibu."
Kini pandangan mata Lena berubah menjadi sosok yang sangat khawatir pada kondisi putrinya. Milley sangat paham apa yang sedang dibicarakan oleh Ibunya. Oleh karena itu, ia pun mengangguk. Perlahan menggenggam kedua tangan Lena, menciumnya sebagai tanda bakti seorang anak kepada ibunya.
__ADS_1
"Ibu nggak usah khawatir, semua akan baik-baik saja. Milley sangat bahagia ketika Ibu sudah berada di sisi Milley saat ini. Terima kasih, Bu."
"Sama-sama, Sayang."