NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 88. ENTAH


__ADS_3

Ternyata setelah kepergian Andreas, hidup Milley belum juga tenang, karena Dylan tiba-tiba muncul di hadapannya. Ia tidak mengatakan jika ia datang ke sana untuk mencari ayahnya. Namun, ia mengatakan jika ia datang untuk menjemput Milley kembali.


Dylan terus tersenyum ke arah Milley, sedangkan raut wajah yang lainnya terlihat sangat sendu. Terlebih wajah Michael sangat tidak suka akan kehadiran Dylan di sana. Sejak ia meminta Michael untuk memberikannya waktu berdua dengan Milley, sikapnya tidak lagi ramah.


"Milley, hei ... kenapa kau seolah tidak suka akan kehadiranku?" tanya Dylan dengan mata berbinar.


Rasa bahagia seketika memenuhi rongga dadanya saat ini. Wanita yang ia rindukan kini sudah berada di hadapannya.


"Paman Jo memang sangat berkompeten, aku cukup bilang temukan Milley bagaimana pun caranya, dalam sekejab ia bisa mewujudkannya."


Dylan yang baru siuman dari tidur panjangnya tidak tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Tuan Chryst memang tidak mengatakan semuanya, hanya saja ia mengatakan hal-hal inti tentang kepergian Milley.


Tentu saja ia langsung mencari keberadaan Milley dengan bantuan Jo. Beruntung Jo sudah mengantisipasi hal tersebut sehingga dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam mereka sudah sampai.


"Aku kesal, sepertinya kamu tidak suka akan kehadiranku!" ucap Dylan kesal.


Dylan menatap ke arah depan, tempat di mana Milley sedari tadi mengarahkan pandangannya.


"Dylan, bukannya aku tidak suka akan kehadiranmu, tetapi permintaanmu tadi membuatku tidak bisa berpikir jernih!"


"Kenapa?"


"Apa kau lupa jika saat ini kamu sudah menikah dengan Rose. Lagi pula saat ini ia sedang mengandung, apakah kau tidak mengkhawatirkan bayi kalian?" ucap Milley sendu.


Dylan seolah tidak percaya. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan jika ia sudah menikah. Ia melihat ke arah jemari manisnya yang saat ini melingkar sebuah cincin perak. Ia yakin jika ia sudah menikah, tetapi ia lupa telah menikah dengan siapa.


"Benarkah aku sudah menikah, kenapa kakek tidak memberi tahuku?"


"Memangnya kamu beneran lupa?"


Dylan mengangguk, sedangkan Milley membuang nafasnya kasar. Hal seperti ini ternyata terjadi di dalam kehidupannya.


"Milley aku serius ingin mengajakmu kembali, karena aku sungguh mencintaimu. Tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisimu di dalam sini."


Dylan menunjuk ke arah dadanya. Menciba meyakinkan Milley jika ia benar-benar mencintainya.

__ADS_1


"Kau tidak perlu khawatir, karena setelah ini aku akan menceraikan Rose."


"A-apa!"


"Kau tidak bisa melakukan hal itu."


"Tolong beri aku waktu untuk meyakinkan cintaku padamu, please ... aku sungguh mencintaimu," Dylan memohon dan berlutut di hadapan Milley.


Setelah mendengar pengakuan dari Dylan. Milley belum berani untuk menjawabnya. Ia menatap sendu ke arah depan. Pandangannya ia alihkan ke depan, sendi-sendinya seolah mati rasa dalam sekejab. Otaknya pun ikut-ikutan nge-lag.


"Ya, ampun ... dia nembak gue?"


"Tunggu dulu, dia nggak sedang nge-prank gue, kan?"


Apapun itu, tetapi perkataan Dylan jelas-jelas membuatnya mati kutu. Padahal hanya pernyataan cinta, tetapi Milley belum pernah ditembak sebelumnya. Jadi wajar bukan, kalau dia ketakutan setengah mati.


Milley seolah sedang berdiri di antara dua pilihan. Haruskah ia merasa senang, atau merasa sedih. Milley masih bimbang terhadap perasaannya kali ini.


Apalagi bayangan Michael selalu memenuhi hari-harinya. Kehadiran Dylan yang satu rumah dengannya malah terhalang oleh kehadiran Michael.


Dylan tau jika Milley masih ragu kepadanya, tetapi ia tidak bisa mengatakan tidak mencintainya. Jujur, Dylan sudah jatuh cinta dengan Milley, entah sejak kapan ia pun tidak bisa memastikannya.


Ia bahkan mengabaikan semua perjanjian yang telah ia buat dengan Milley beberapa bulan yang lalu. Apapun itu, asalkan bisa berdekatan dengan Milley itu sudah lebih dari cukup.


"Aku harap kamu menerimaku, Milley. Meskipun sulit, aku harap kamu memberikan kesempatan untukku," ucap Dylan di dalam hatinya.


Entah sejak kapan perasaan itu muncul, karena yang ia tau, jika ada lelaki lain mendekati Milley rasa cemburu itu membelenggu jiwa Dylan. Sejak itulah ia sadar, jika ia telah menambatkan hatinya pada Milley. Bahkan rasa cemburu yang ia miliki, sampai membuat Dylan kehilangan arah dan terkadang susah mengontrol emosinya.


"Milley, maafkan aku yang telah mengingkari perjanjian kita, tetapi aku janji akan selalu membahagiakan kamu."


Keinginan Milley untuk marah-marah, sirna dalam sekejab. Sampai tidak mereka sangka, keduanya hampir bersamaan dalam mengucap kata untuk mencairkan situasi.


"Aa-aku ...."


Milley dan Dylan kikuk karena kejadian barusan.

__ADS_1


"Kamu ngomong duluan ...." ucap Dylan gugup.


"Nggak jadi, kamu aja."


Keduanya kembali membisu, tidak ada yang mau bersuara kali ini. Suasana di dalam mobil seolah mencekik keduanya. Bahkan dinginnya AC sama sekali tidak membuatnya sejuk. Membuat pasokan oksigen terasa sedikit karena kedua remaja itu sedang berlomba pacu jantung saat itu.


"Bagaimana ini, kenapa jalan ke rumah begitu lama?" gumam Milley.


Untuk mengusir rasa canggungnya, ia memilih untuk melihat pemandangan di luar. Mungkin dengan begitu ia bisa lebih merasa rileks.


Milley mulai cemas. Lebih baik ia tanding motor daripada terus menerus berada satu mobil dengan Dylan. Entah kebetulan atau bukan, ternyata Michael mengajaknya nonton nanti malam.


"Selamat sore, kalau berkenan nanti malam ikutan aku lihat balap motor, yuk!"


"Wah, kebetulan sekali, tapi Dylan kasih ijin nggak, ya?"


Ada kebimbangan besar yang dirasakan Milley. Di satu sisi ia sangat membutuhkan hiburan ini, tetapi ia sangat takut jika Dylan semakin marah padanya. Apalagi tadi terlihat jelas kecemburuan Dylan saat Milley menjenguk Evan.


Akhirnya perjalanan pulang yang panjang itu telah usai. Kini Milley dan Dylan dapat bernafas lega. Saat Milley hendak melangkah keluar, Dylan dengan sengaja menahan tangan Milley.


Tentu saja hal itu membuat Milley menoleh seketika. Dalam waktu sekejab, Dylan sudah memberikan sebuah kecupan di kening Milley sambil membisikkan sebuah kata yang sukses membuat Milley gusar.


"Apa yang aku katakan tadi benar-benar dari lubuk hatiku."


Setelah mengucapkan isi hatinya ia melepas tangan Milley, kemudian melangkah keluar. Dengan wajah memerah, Milley mengekor di belakang tubuh Dylan.


"Kenapa dia menjadi seperti ini?"


Dylan dan Milley sama-sama kikuk saat ini, tetapi di dalam hatinya ia sudah lebih lega karena telah mengucapkan sebagian dari hatinya. Memendam perasaan bagi seorang laki-laki itu sangat tidak mengenakkan, oleh karena itu ia mencoba untuk jujur.


"Tumben perasaanku tidak enak seperti ini?" gumam Dylan.


Dari luar, suasana rumah tampak ramai tidak seperti biasanya, ternyata malam itu mereka kedatangan tamu tidak di undang. Rebbeca datang dengan membawa Rose ikut serta.


"Oh pantes, ada mereka rupanya."

__ADS_1


"Malam Dylan, malam Milley," sapa Rose ramah.


__ADS_2