
Selepas Dylan dan Milley mandi, keduanya segera turun ke lantai bawah. Keduanya tampak mesra dengan memakai pakaian yang senada. Sebenarnya bukan sebuah hal kebetulan tetapi memang hal tersebut sudah dipersiapkan Dylan cukup lama dan dilakukan dengan penuh perhitungan yang matang.
"Kamu tampak cantik sekali, Sayang."
Milley yang sedang merias diri menoleh untuk sesaat.
"Terima kasih, Sayang."
"Akhirnya ia sudah sedikit melunak. Jadi aku lebih tenang saat ini," gumam Dylan.
Dylan juga ingin merasakan euforia seperti muda-mudi yang sedang kasmaran. Ia tidak suka jika ada yang bilang jika Dylan terlalu tua untuk melakukan hal tersebut. Malam ini rencananya ia ingin mengajak Milley jalan-jalan. Biar seperti remaja yang lainnya mereka memakai pakaian couple.
"Memangnya kamu nggak malu, ketika mereka semua seolah melihatmu karena kau memakai pakaian pendek."
"Enggak! Yang terpenting saat ini adalah kita kencan!"
"Ta-tapi Dylan, dia juga makhluk biasa sementara biarkan hal tersebhtsa idkaajoayi tersebut sungguh malang.
"Jadi diam kayaknya sudah buka memaksa tidak membutuhkan diriku"
menjadi milikku.
Bagaikan sedang berada di dalam sebuah peperangan, Dylan memastikan semua rencananya harus berjalan dengan lancar. Beginilah sikap yang sangat disukai oleh Tuan Chryst semenjak kedatangan Milley di rumah tersebut. Mampu mengubah Dylan ke arah yang lebih positif.
Keduanya menuruni tangga dengan senyuman yang terus merekah. Membuat siapa saja yang memandangnya ikut merasakan hal yang sama.
"Wah, calon mempelai sudah datang," sapa Tuan Chryst menyapa kedua cucunya.
"Selamat pagi kakek," sapa mereka secara bersamaan.
"Selamat pagi, ayo silakan duduk!"
"Terima kasih, Kek."
"Bagaimana tidur kalian nyenyak?"
"Nyenyak sekali, Kek. Entah dengan Milley?"
"Ha ha ha, bersyukur rasanya sangat nyenyak, Kek."
Bagaimana tidak nyenyak, Dylan saja sampai menunggunya tidur dan ia dengan suka rela duduk di sebelahnya. Dylan benar-benar menjaga dirinya saat ini.
__ADS_1
"Oh, ya setelah ini kalian datanglah ke kediaman orang tua Dylan, kamu tidak berkeberatan, kan?"
"Tentu saja tidak."
"Kalau kamu Milley?"
"Tidak, Kakek."
"Baguslah kalau begitu, jangan sampai anak ini tetap menyusahkanmu kembali."
"Menyusahkan bagaimana maksud Kakek?" ucap Dylan tidak percaya.
"Tidak usah kau perdulikan perkataan Dylan barusan Milley, karena kamu tentu paham dengan apa yang aku maksud bukan?"
"Tentu saja, Kek."
"Ya, sudah kalau begitu kita bersiap untuk makan saja terlebih dahulu."
"Siap, Kek."
Sejenak obrolan mereka terhenti saat ini, lalu ketiganya langsung menghabiskan sarapannya.
Satu jam kemudian, Milley dan Dylan sudah berada di halaman rumah orang tua Dylan. Di mana rumah ini adalah tempat tinggal Rebecca dan juga Andreas. Namun, sejak perselingkuhan Rebecca dengan kekasih gelapnya maka ia sudah diusir dari sana. Kini tinggalah Andraes bersama beberapa pelayan.
"Biarkan aku yang menyambut mereka, kata Ayah sebentar lagi Dylan dan Milley akan segera tiba."
"Terserah apa yang mau kau lakukan, sayang," ucap Lena terharu.
"Terima kasih, sayang."
Andreas segera turun ke lantai bawah. Ternyata di bawah sana sudah ada asisten rumah tangganya yang bersiap untuk membuka pintu. Mengetahui jika Andreas turun, maka ia meminta ijin terlebih dahulu.
Ketika mendengar bel berbunyi, setelah mendapatkan ijin, maka salah satu asisten rumah tangganya segera menuju pintu utama untuk membuka pintu, sementara Andreas berada di ujung tangga.
"Maaf menunggu lama, Tuan dan Nona Milley. Silakan masuk!"
"Terima kasih, Bik."
Sesaat kemudian, ketiganya langsung menuju ruang tamu untuk berbincang-bincang satu sama lain. Sambil menunggu kedatangan kedua orang tuanya.
Setelah memastikan mereka sampai, Andreas kembali ke kamar untuk menjemput Lena. Rasanya tidak pantas jika ia hanya sendirian ketika menyambut Milley dan Dylan.
__ADS_1
Tentu saja Lena yang sedang menyisir rambut terkejut akan hal itu, lalu bertanya kenapa Andreas kembali ke kamar.
"Loh kok kembali, memangnya tamu tadi bukan anak-anak?"
"Enggak, itu tadi benar anak-anak kok, tetapi rasanya tidak nyaman jika aku menyambut mereka sendirian tanpamu."
"Ayo!" ajak Andreas.
Lena tersenyum bahagia lalu mengangguk ketika
Andreas mengulurkan tangan ke arahnya. Andreas mengambilkan sebuah kursi roda untuknya.
"Demi kesehatanmu, maka sebaiknya kamu duduk di sini, apa kau tidak keberatan?"
"Tidak, menurutku ini lebih baik."
"Ya sudah, mari kita temui Dylan dan Milley."
Milley begitu kaget melihat Lena sedang duduk di kursi roda. Begitu pula dengan Dylan.
"Ibu ...."
"Tante ...."
"Kalian jangan panik terlebih dahulu, semua ini dilakukan agar Lena tidak begitu kelelahan. Apalagi sebentar lagi beliau juga akan berangkat berobat ke luar negeri."
"Tapi untuk masalah hotel dan lain-lainnya?"
"Kamu urus sendiri lah, wkwkwk, bercanda!" ujar Dylan terkekeh.
Namun, ternyata hal itu dilakukan agar Lena tidak terlalu sepi. Setelah Andreas mengatakan semuanya, Milley baru mengucapkan alhamdulillah.
Milley dan Dylan dalam sementara waktu, entah kemana saja yang penting mereka tetap bersama satu sama lain. Lena dan Andreas sama-sama bahagia ketika menyadari hal tersebut. Lantunan doa dan harapan yang ia sematkan semoga bisa membawa kebahagiaan untuk Milley dan Dylan.
"Makasih banyak Bu, Om untuk lantunan doa dan harapan, semoga pernikahan kami langgeng dan sakinah, mawadah dan warohmah."
"Aamiin ...." ucap mereka secara bersamaan.
Keempat orang itu segera melanjutkan obrolan yang tertunda sampai siang hari tiba. Lalu apakah setelah ini kedua calon pengantin pergi mencari Rebecca.
.
__ADS_1
.
Bersambung