
Merasa tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka, Milley segera merebut Baby J dari tangan Rain. Kondisi di tempat itu sungguh tidak terkendali lagi. Maka dari itu jalan satu-satunya adalah menyelamatkan diri.
Saat Milley berlari masih terdengar sebuah tembakan di belakang sana. Rain yang melihat Milley lari segera menyusulnya. Tentu saja karena ia sangat menghawatirkan Milley dan bayinya maka dari itu ia segera menyusul Milley.
DOR!
DOR!
DOR!
Ternyata pelaku penembakan itu adalah anak buah Rebecca yang mengetahui jika ada kecurangan yang dilakukan oleh salah satu anak buahnya yang bertugas membawa Baby J. Namun ternyata mereka berkhianat.
Kemarahan Rebecca terlihat jelas saat ia berusaha untuk tidak membuat kekacauan yang berlebih. Namun ia langsung menembak mati anak buahnya yang berkhianat itu.
Kejadian tersebut terjadi di lantai ketiga dari gedung kosong tersebut. Namun suara tembakan itu masih terdengar keras dari lantai bawah tempat Milley dan Rain berada. Oleh karena itu Milley langsung berlari menjauh.
Perasaannya mengatakan jika itu adalah penculik putranya dan bisa jadi otak pelaku peledakan mobil miliknya. Saat Milley berlari, salah satu anak buah Rebecca sudah mati terkapar, sementara itu mereka masih belum bisa menemukan Baby J. Tentu saja hal itu membuat Rebecca marah besar.
“Temukan bayi itu, sekarang!”
"Baik Boss!' seru mereka dengan menunduk hormat.
Sementara itu Milley yang melihat ada bus melintas di sampingnya segera melambaikan tangannya. Hingga akhirnya bus itu berhenti dan mereka bisa naik ke dalam sana.
Milley bisa merasakan jika anaknya demam. Oleh karena itu saat ia menyadari situasi aman, ia mulai menyusui Baby J. Beruntung Rain menutupi kegiatan mereka dengan jaket yang ia pakai.
Insting Milley mengatakan jika dirinya harus segera mungkin memberikan Baby J ASI yang cukup untuk menurunkan demamnya. Ia tidak mau sampai terjadi apa-apa pada anaknya, apalagi anaknya itu merupakan buah cinta antara dirinya dan suaminya.
Sementara itu Rain bertindak sebagai seorang teman yang berbalas budi untuk kebaikan hati Milley yang pernah menolong ibunya. Sevuah nyawa harus dibayar dengan nyawa. Terlebih ia tidak mempunyai cukup harta untuk membalas kebaikan hati Milley.
Mendengar ada sebuah keributan membuat para aparat kepolisian mendatangi lokasi tersebut. Secara kebetulan mereka sedang melakukan patroli di lokasi tersebut. Sehingga tanpa menunggu laporan mereka bisa langsung bertindak secepatnya.
__ADS_1
Merasa dirinya terancam karena mendengar sebuah sirine membuat ia segera bertindak.
"Sebaiknya kita segera pindah dari gedung ini, di bawah ada banyak aparat kepolisia yang menunggu kita!"
"Kurang aj-ar!" ucap Rebecca sambil mengepalkan tangannya karena menahan amarah yang siap meletup.
Sebelah kakinya yang masih terluka sedikit memperlambat pergerakannya. Sehingga ia kesulitan berjalan. Pergerakannya yang lambat membuat Rebecca mudah dibekukan. Apalagi salah satu polisi kembali menembakkan sebuah peluru ke slah satu kaki Rebecca.
Sementara itu pihak aparat yang lainnya sudah berhasil membekuk yang lainnya. Hingga perlawanan sengit tidak bisa dihindarkan.
Namun, kesempatan yang kedua ini akan digunakan oleh pihak yang berwenang untuk membekuk Rebecca dan pihak yang terlibat dengan aksi peledakan sebuah mobil yang dikendarai Milley dan Baby J.
Ternyata keberadaan polisi di san bukanlah sebuha kebetulan, akan tetapi mereka sedang melakukan pencarian tentang pelaku peledakan mobil atas laporan Tuan Dylan.
Kecepatan informasi membuat Dylan mendapatkan kabar jika otak dan pelaku peledakan mobil yang dipakai istrinya sudah tertangkap. Dylan yang sedang rapat segera mendatangai pihak kepolisian yang berhasil menangkap Rebecca.
Sementara itu ternyata bus yang dikendarai Milley adalah sebuah bus antar kota luar propinsi. Sehingga mereka semakin meninggalkan Ibu Kota.
Sejak kematian ibunya satu bulan yang lalu, ia hidup menggelandang sehingga hanya denan mengandalkan pendapatan dari memulung ia baru bisa bertahan hidup. Sampai akhirnya ia dipertemukan dengan Milley.
Meskipun tidak mempunyai harta benda setidaknya ia akan tetap mengabdi kepada Milley. Saat menyadari jika bus yang dinaiki mereka jurusan luar kota, Milley menanyakan kemana arah tujuan dari bus tersebut.
"Maaf Pak, bus ini tujuannya ke kota mana ya?" tanya Milley dengan perasaan yang bercampur-campur.
"Tujuannya ke kota Jogja, Neng."
Milley menelan salivanya dengan perlahan. Ia tidak menyangka jika tujuannya begitu jauh. Namun ia masih bersyukur karena ia bisa menemukan Baby J dan selamat. Untuk urusan dengan Dylan dan keluarganya ia bisa memikirkannya nanti.
"Semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi," ucapnya sambil memandang pemandangan yang tersaji di luar jendela bus.
__ADS_1
Rain yang menyadari kegelisahan yang dirasakan oleh Milley hanya bisa membiarkannya. Ia sangat tahu batasan dalam hubungan mereka saat ini.
"Nona, jangan khawatir, jika saya mempunyai uang, maka saya akan mengantar Anda kembali lagi ke kota besar."
"Iya Rain, saya sangat berterima kasih kepada kamu karena telah banyak berkorban untuk saya."
"Sama-sama Nona."
Ucapan mereka terhenti ketika kernet bus meminta ongkos untuk mereka. Beruntung Milley menemukan uang di dalam saku bajunya, betigu pula dengan Rain. Namun, masalah muncul ketika jumlah uangnya kurang.
Rona wajah kernet bus sudah berubah buruk.
"Kalau tidak mempunyai uang jangan naik bus!" gertaknya.
Karena tempat duduk mereka dekat dengan pak sopir, pembiacaraan mereka terdengar sampai telinga pak sopir.
"Sudah biarkan saja, anggap saja kita sedang berbuat kebaikan," ujarnya dengan tenang.
"Teanag piye to Kang, kita saja harus mengejar setoran lo."
"Suah, biar saya saja yang menambahi uangnya nanti, anggap saja saya sedang bersedekah."
"Yowes lak ngunu, Kang."
.
.
Semoga saja setelah ini kehidupan Milley segera membaik. Aamiin.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG