
Kebetulan Rose hari itu akan melihat gaun pesanannya yang akan ia pakai di acara penobatan Dylan sebagai pewaris utama Anggara Group, tetapi ia terkejut saat melihat mobil Dylan terparkir rapi di sana.
"Semoga saja ****** itu tidak ikut bersamanya kali ini."
Rose keluar dari mobilnya dan berjalan masuk. Terlihat suasana begitu ramai di salah satu ruangan. Ternyata di sana ada gaun yang ia pesan. Tentu saja ia harus segera mengambil gaun miliknya sebelum tersentuh Dylan.
"Permisi ... permisi ...." ucapnya saat melewati orang-orang.
Dylan dan Milley menoleh ke arah pintu hingga keduanya bisa melihat Rose dengan leluasa. Rose tersenyum ke arah Dylan, tetapi Dylan sama sekali tidak memandangnya.
Sementara itu manager butik seperti hafal dengan suara tersebut lalu membungkuk hormat.
"Selamat datang Nona Rose, kebetulan sekali nona sudah datang."
"Memangnya kenapa, Mbak?"
"Maaf Non, gaun rancangan spesial untukmu disukai oleh Tuan Dylan dan memaksa akan membelinya. Bagaimana Nona?"
Belum sempat Rose menjawab, Dylan sudah lebih dahulu berucap.
"Oh, rupanya itu gaun milikmu! Aku batalkan pilihanku. "
"Milley ayo kita pergi!" ajak Dylan pada Milley.
Dylan meraih tangan Milley dan melenggang pergi meninggalkan ruangan tersebut. Berada satu ruangan dengan Rose membuat stok oksigen makin menipis sehingga ia tidak mau terjadi apa-apa dengannya.
"Tunggu Dylan, sepertinya Nona Rose ingin berbicara."
"Tidak perlu, yang kita butuhkan segera mendapatkan gaun terindah untukmu!"
Tidak mau membuang waktu percuma, Dylan sengaja menabrak bahu Rose saat melewatinya, hingga hampir saja membuat ia terjatuh. Tentu saja Rose mengepalkan tangan karena marah. Merasa terhina akan perlakuan Dylan barusan.
"Dylan ... sebegitu berartinya Milley untukmu? Bahkan kehadiranku sudah tidak aku anggap," ucap Rose miris meratapi nasibnya.
__ADS_1
Manager butik yang tidak ingin kehilangan pekerjaannya segera menyusul Dylan dan meminta maaf.
"Tuan, Nona, maaf gaun yang lain masih banyak yang bagus, silakan masuk kembali," ucapnya dengan mengiba.
Meskipun permintaan maaf dan panggilan dari manager toko masih terdengar tetapi Dylan tetap meninggalkan butik tersebut. Baginya tidak perlu lagi mendengarkan ucapan dari manager butik karena ia tidak dilayani dengan baik dan sopan.
"Dylan, kamu nggak kasihan sama manager tadi, bukankah membuatmu tersinggung sama saja membuatnya kehilangan pekerjaan."
"Kalau kamu tau hal itu, kenapa kamu tidak bisa mencintaiku?"
Tanpa ia sadari Dylan keceplosan dalam berucap. Milley kebetulan sedang memperhatikan jalan jadi menoleh ke arahnya.
"Kamu bilang apa tadi?"
"Apa, memangnya aku bilang apa tadi?"
"Menurutmu aku harus mengulangi ucapanmu lagi?" tanya Milley menatap tajam ke arah Dylan.
Dylan yang ditatap Milley begitu intens menjadi kikuk dan tegang.
Tidak mau seperti ini, mereka pun terdiam dalam pemikirannya masing-masing. Untuk mengusir kecanggungan, Dylan memutar mp3 di dalam mobil. Sementara itu, Milley lebih memilihs membalas pesan dari Pak Dosen.
Entah sejak kapan, Michael mulai mencuri hati Milley. Tidak lebih dari dua puluh menit, akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju. Dylan yang melihat Milley sibuk membalas pesan, lalu membantu melepaskan seat belt miliknya.
"Eh, mau ngapain?"
Milley mungkin terlalu waspada hingga saat kulitnya tersentuh sedikit saja oleh Dylan ia sudah memasang kuda-kuda.
"Milley, jangan gila deh, gue cuma pengen bantu melepas seat belt kamu kok."
"Nggak usah, gue bisa sendiri."
Meskipun rasanya ingin marah dan menelan Milley hidup-hidup tetapi Dylan tetap meredam emosinya. Melihat Milley sudah asyik dengan dunianya sendiri membuat Dylan semakin takut kehilangannya.
__ADS_1
"Di sini, butik langganan Mama gue, jadi kamu nggak usah banyak ngomong ataupun ikutan ngomong, karena aku yang akan menentukan mana yang cocok buat kamu, paham."
"Paham, Bos-kuh!" ucap Milley sambil mengerling.
"Kalau kamu mau aku diem selama di dalam, maka dengan senang hati aku akan melakukan hal tersebut."
"Baguslah kalau kamu paham. Ayo masuk!"
Dylan melingkarkan tangannya ke dalam pinggang ramping milik Milley. Awalnya ia menolak, tetapi lama kelamaan ia akhirnya pasrah. Lagi pula ini hanya pura-pura, jadi Milley pun tidak terlalu mengambil pusing.
Sambutan dari orang-orang tampak ramah terhadapnya. Banyak yang mengenali Dylan dan sangat menghormatinya. Hingga tidak ada yang perlu ia takutkan saat ini. Meskipun sebuah mall tetapi tempat ini sangat berkelas.
Sementara itu pemilik butik yang baru saja ditinggalkan oleh Dylan mengamuk pada manager butiknya. Bagaimana ia bisa menolak keinginan cucu Tuan Chryst dan lebih memilih orang lain yang tidak mempunyai kedudukan.
"Sekali lagi kamu bersikap seperti ini, maka jangan harap kamu bisa terus bekerja di sini!" ancam pemilik butik tersebut!"
"Terima kasih banyak Nyonya untuk kebaikan hatinya," ucap manager tersebut sambil menunduk.
Setelah memastikan nasibnya aman, manager tersebut keluar dari ruangan itu. Namun, langkahnya terhenti ketika ada seseorang yang membekap mulutnya secara tiba-tiba. Lalu siapakah itu?
Kita simak di update selanjutnya, ya.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
Oh ya, Fany juga mau rekomendasi karya teman literasi Fany mampir yuk
Binar tak menyangka ujian cintanya bersama sang suami hadir setelah menikah, masalah bertubi-tubi silih berganti menghampiri rumah tangga mereka.
__ADS_1
Mertua dan ipar yang selalu mengganggu kenyamanannya, masalah orang ketiga pun juga ikut mendekati biduk rumah tangganya. Mereka selalu mencari celah, agar bisa merusak hubungan yang selama ini ia bangun bersama sang suami.
Saat batas kesabaran mulai di ambang batas dan tidak satupun orang percaya padanya, pantaskah Binar bertahan dengan semua?