
Akhirnya apa yang ditakutkan oleh Rose terjadi. Takut kebohongannya terbongkar ia pun segera pergi ke dokter kandungan.
Keinginan pertama yang ingin ia lakukan adalah aborsi. Ia tidak mau calon bayinya akan menghambat rencananya untuk mendekati Dylan.
"Kenapa aku bisa kecolongan sampai seperti ini, ucap Rose dengan geram.
Ingin rasanya ia pergi dan segera membunuh calon bayinya itu. Apalagi ia sangat membenci si ayah dari jabang bayi yang ia kandung.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari lantai bawah. Semakin lama semakin dekat dengan kamar Rose.
"Akan lebih baik jika aku bersembunyi saat ini," ucap Rose ketakutan.
Ia memundurkan langkahnya dengan perlahan, mengambil ancang-ancang, agar ketika orang itu berhasil masuk, ia bisa memukulnya dengan bebas. Ternyata orang yang datang padanya adalah lelaki si ayah jabang bayi yang dikandungnya.
"Hai, sayang ... aku kangen," ucapnya sambil tersenyum menyeringai.
Mendengar ucapan sayang, sontak membuat perut Rose bergejolak. Dengan cepat ia segera berlari ke kamar mandi untuk muntah. Lelaki itu kembali menemui Rose dan mendekatinya. Ia memijat leher Rose agar sedikit mengurangi rasa mualnya.
__ADS_1
Rose yang mencium bau parfum dari lelaki itu kembali muntah untuk kedua kalinya. Tentu saja hasrat lelaki yang tadinya menggebu kini hilang sudah. Rasa yang ia miliki seolah menguap begitu saja.
"Apa Rose hamil?" tanya lelaki itu di dalam hatinya.
Ketika hendak berbalik, Rose menutup hidungnya karena takut mencium aroma lelaki tersebut. Dengan terpaksa ia memakai masker untuk menutupi hidungnya.
Dengan sangat sabar lelaki itu memapahnya ke ranjang. Lalu mengambilkan air minum untuknya.
"Kamu hamil?" tanya lelaki itu tiba-tiba.
Rose tidak ingin menutupinya, ia pun mengangguk pasrah. Tubuhnya sudah cukup lemas karena baru saja muntah sampai dua kali.
Mata Rose membulat sempurna. Ia tidak menyangka jika responnya akan seperti itu.
"Ba-bagaimana mungkin dia terlihat bahagia, apakah ia sangat menginginkan anak ini?" tanya Rose bingung di dalam hatinya.
"Setidaknya aku bisa memiliki anak. Bukan aku yang impoten tetapi kamu Lira, yang mandul," ujar lelaki itu di dalam hatinya.
__ADS_1
Sudah lebih dari sepuluh tahun ia menikah, tetapi suara isak tangis bayi sama sekali belum terdengar di rumah mereka. Maka dari itu, Bram lebih suka bermain wanita di luar. Meskipun begitu ia belum pernah berhubungan badan dengan wanita selain Rose.
Awalnya ia memang berniat untuk membantu Rose sekaligus menyalurkan hasratnya yang tidak kesampaian pada istrinya sendiri.
"Banyak hal yang telah aku capai dalam hidupku, Rose. Namun ada satu titik noda di dalam pernikahanku."
Rose masih setia mendengarkan ucapan Bram. Baginya beradu mulut dengan lelaki tadi tidak ada gunanya. Tenaganya sudah habis terkuras karena muntah.
"Jadi, maukah kau menikah denganku, Rose?" tanya Bram sambil berjongkok di depannya.
Rose yang lemah tentu saja masih bisa untuk mengatakan tidak, karena bagaimana pun caranya yang ingin ia nikahi hanya Dylan seorang tanpa ada lelaki lain yang menjadi benalu di hidupnya.
"Maaf, Bram. Kita melakukan hal terlarang kapan hari sudah di atas tanda tangan kontrak. Kalau salah satu pihak berbuat kasar, maka pihak yang dirugikan adalah menanggungnya bersama."
"Jangan sampai orang tuamu darah tinggi dan cepat meninggal hanya karena kau lebih memilihku dibandingkan dengan harga dirimu."
"Diam kamu Rose, jangan karena kamu mendapatkan semua keinginanmu maka kau membuang jasaku karena lupa," ucap Bram geram.
__ADS_1
"Etahlah ...."
...🌹Bersambung🌹...