
Melihat kecepatan Milley dalam berkreasi dengan segala macam menu aneka kue dan cake membuat Dylan kagum. Bagaimana tidak, Milley yang begitu tomboy di matanya kini telah berubah hingga membuat kegigihannya mencapai puncak keberhasilannya.
Teringat di masa lalu tentang pertemuan pertamanya dengan Milley, membuat Dylan tidak bisa berhenti tersenyum.
"Jangan harap kau bisa menjadi istriku, kau bukanlah tipeku!" ucap Dylan sambil berlalu.
Ia bahkan membuang berkas perjanjian yang telah ia tanda tangani bersama Milley beberapa waktu yang lalu. Milley hanya bisa memandang berkas tersebut di lantai dan bersikap biasa saja.
Ia memang memungut berkas itu dan membawanya ke dalam kamar. Dipadanginya berkas itu lalu segera menaruhnya di meja.
"Kalau bukan demi membayar hutang ayah, aku juga tidak akan bersedia tinggal di sini dan melakukan perjanjian bo-doh denganmu Dylan Joshua."
Milley menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Ia memandangi langit-langit di kamarnya. Ia sangat yakin dengan tindakannya kali ini, hanya saja ia harus bersikap pandai demi mengiringi langkahnya bersama Dylan yang menurutnya sangat sombong.
"Bersamamu mungkin bisa membuatku mati muda, tapi aku yakin saat semuanya sudah siap, maka akan aku putar balikkan keadaan sesuai keinginanku."
Milley memanglah gadis yang kuat dan tangguh. Hanya saja keadaan membuatnya berbeda. Banyaknya cobaan hidup seringkali membuat seseorang lebih tangguh dari biasanya. Apalagi ini, kehidupan telah membuat Milley tumbuh berbeda.
Bahkan dengan keahlian balapan motor yang ia punya, ia bisa mencicil beberapa hutang ayahnya pada rentenir. Tidak heran jika Milley sangat disayangi oleh Tuan Chryst. Beliau beranggapan hanya dengan menjodohkan Dylan dengan Milley ia pasti bisa mempunyai calon pewaris yang tangguh dan handal.
Namun, apa yang menjadi keinginan sang kakek ternyata bukanlah isapan jempol belaka. Apa yang menjadi keinginannya bahkan bisa terwujud. Begitu pula dengan Milley yang harus hidup mandiri selama lima tahun ini, sungguh membuat Dylan terus bersyukur.
"Hei ... kenapa melamun?" sama Milley sambil membawakan sebuah camilan dan teh kepada suaminya.
Dylan yang sedang asyik dengan masa lalunya hanya bisa tersenyum lalu memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Kangen ...."
"Eh, dari kemarin bilang kangen mulu, memangnya aku pergi kemana, bukankah aku selalu di matamu ...."
Dylan semakin mengeratkan pelukannya, seolah ia tidak rela jika Milley jauh darinya. Sementara itu dari kejauhan Jord memandang kedua orang tuanya dengan perasaan campur aduk.
"Ehem ...."
Mendengar suara Jord, sontak Milley melepaskan tautan tangan dari suaminya. Bukannya menurut, Dylan semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Milley sambil menutup mata.
"Mas, ada Jord ...." bisik Milley.
"Biarin, aku lagi kangen, aku juga nggak mau kamu tinggalin aku lagi, semalam aku mimpi buruk."
"Aku tidak tahu, akan tetapi aku merasa jika ada orang lain yang siap untuk memisahkan kita kembali, sungguh aku tidak akan bisa berpisah denganmu dan anak kita lagi."
Jord yang sedari tadi memang berada satu ruangan dengan Milley dan Dylan mendengarkan dengan jelas ucapannya barusan.
"Kalau begitu, jangan pernah mengekspos keberadaan kita."
Ucapan Jord yang sangat jelas membuat Dylan melepaskan tautan tangannya. Dilihatnya putra kecilnya tersebut. Benar kata Jord yang mengatakan jika ucapannya kali ini mungkin saja betul. Memang langkah aman agar mereka tidak lagi berpisah adalah dengan tidak mengekspos keberadaan Jord dan Milley.
Dengan begitu bisa mengurangi resiko tentang hal ini. Lagi pula ia belum sempat mempersiapkan hal lain untuk melindungi orang kesayangannya itu.
Milley memegang tangan Dylan.
__ADS_1
"Percayalah kami tidak akan kenapa-napa. lagi pula siapa yang berani melukai bagian dari keluarga kita? Bukankah kita tidak setenar itu?"
"Mill, kamu tidak tahu betapa berkembangnya perusahaan kita selama lima tahun terakhir ini. Bahkan sejak kamu dinyatakan meninggal banyak pesaing bisnis kakek yang terus menyerang kita? Bagaimana itu bisa dianggap baik-baik saja."
Jord mendekati kedua orang tuanya.
"Bagaimana pun kita saat ini, dulu atau di masa mendatang tidak ada yang tahu. Ancaman bisa saja terjadi dari orang yang baru pertama kali kita kenal, tidak selalu datang dari pesaing bisnis!"
Dylan dan Milley saling memandang satu sama lain. Mereka tidak percaya jika kemampuan membaca situasi yang dimiliki Jord jauh melebihi anak seusianya.
"Jangan memandang orang lain dari kulit luarnya, namun lihatlah lewat kedalaman mata dan hatinya. Jangan menilai orang dari penilaian orang lain, tetapi gunakan mata dan telingamu sendiri untuk hal itu."
"Baiklah kalau begitu, setidaknya aku lebih tenang saat ini."
"Oh, ya bagaimana keadaan Anda hari ini?"
"Cukup baik, Nak."
"Kalau begitu bersiaplah untuk ujian kedua hari ini."
"Ujian kedua?" ucap Dylan terkejut.
Dylan tidak menyangka jika hal ini akan dilakukan secepatnya. Padahal ia ingin bersantai, sehingga bisa menghabiskan waktu dengan Milley, istrinya.
BERSAMBUNG
__ADS_1