
"Jika mencintaimu, mengharuskanku berjuang lebih, maka akan aku lakukan untukmu." Dylan.
...***...
"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Tuan Chryst pada Dylan.
Dylan tersenyum lalu menjawab pertanyaan dari kakeknya.
"Sepertinya aku ketinggalan banyak berita, ya?"
"Saat aku terbangun, aku sudah terbaring di sini."
Tuan Chryst terkekeh karena hal itu. Tidak lupa ia segera memanggil beberapa tenaga medis untuk memeriksa kondisi Dylan. Beruntung kondisi Dylan sudah dinyatakan pulih setelah dirawat beberapa hari.
Satu berita yang sangat membuat Tuan Chryst tidak henti-hentinya bersyukur ketika Dylan dinyatakan sudah sembuh dari amnesia. Dari serangkaian tes, Dylan dinyatakan sembilan puluh persen sembuh.
Setelah memastikan jika Dylan sudah tidak hilang ingatan, maka Tuan Chryst mulai menceritakan semua. Dylan mendengarkan dengan baik semua perkataan dari kakeknya tersebut. Pertanyaan yang membuat Tuan Chryst bahagia adalah saat Dylan menanyakan keberadaan Milley.
"Lalu di mana Milley saat ini?"
Tuan Chryst tersenyum. Ia bahagia ketika Dylan masih mencintai Milley.
"Dia sedang bersama Michael hari ini, jadi kemungkinan besok atau lusa kita baru akan menjemput Milley."
"Oke, lalu kapan aku bisa keluar dari Rumah Sakit ini?"
__ADS_1
"Setelah dokter memutuskan jika kamu sudah boleh pulang, maka kita akan segera pulang."
"Terima kasih, Kek. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan aku daripada tidak mengingat Milley sama sekali. Bersyukur karena Tuhan masih memberikan aku satu kesempatan lagi untuk bisa menebus semua kesalahanku."
"Tuhan tidak pernah salah dalam mengatur takdir kita. Hanya saja terkadang, kita terlalu egois dan menginginkan semua hal harus terjadi sesuai keinginan kita."
"Betul sekali, Kek."
Di saat Dylan dan kakeknya masih berbincang-bincang, Jo melakukan tugasnya. Jo sedang mengurus semuanya, ada hal yang harus diselesaikan secepatnya tentang Rose. Tuan Chryst menginginkan agar Rose benar-benar pergi dari kehidupan Dylan.
"Aku hanya bisa mempercayakan semuanya padamu, Jo."
"Baik, Tuan. Saya berjanji akan segera menyelesaikan semua ini dengan baik."
"Bagus! Aku percaya padamu."
Semua impian indahnya hilang seketika. Semua ambisi yang pernah berkobar di hati Rose seketika padam seketika. Rose tergugu di sisi ranjang.
"Sudahlah, jika Dylan menceraikanmu, maka kita akan menikah."
Rose mengusap air matanya yang tersisa di pipi.
"Menikah katamu! Aku tidak sudi!"
"Kenapa? Apa aku kurang tampan? Haruskah aku mengoperasi wajahku agar mirip dengan Dylan?"
__ADS_1
Rose tersenyum kecut, sementara lelaki itu melihat Rose dengan wajah serius. Ia datang dan mendekati Rose yang terlihat kacau.
Dipegangnya dagu Rose agar pandangan matanya segera tertuju pada laki-laki itu. Lalu ia pun segera mengatakan semua hal agar pikiran Rose terbuka sekali lagi.
Mata dan hatinya telah tertutup oleh ambisi yang sangat besar, bahkan jalan yang kotor pun sampai ia gunakan. Namun, hal itu sangat menguntungkan baginya.
Tanpa Rose minta, lelaki itu mau dan bertanggung jawab atas semuanya. Ia bahkan sangat bahagia ketika mendengar Rose sudah mengandung anaknya. Hanya saja Rose tidak mau, hingga lelaki itu menggunakan cara ini agar Rose sadar di mana posisi dirinya yang sesungguhnya.
"Jika aku terlahir menjadi Dylan, mungkin aku juga tidak akan mencintaimu, Rose."
"Kenapa?"
"Karena kau tidak benar-benar mencintainya, hanya ambisi agar kehadiranmu terlihat sempurna di mata orang-orang, kau sampai menggunakan semua hal agar tujuanmu tercapai."
Rose terdiam, namun hatinya sakit.
"Apakah caraku salah!"
.
.
Bersambung
.
__ADS_1
.
Maaf ya, dua hari othor ada acara di gunung dan sinyal susah, saat mau update ga bisa, jadi terpaksa pake teks terulang karena eror dan hari ini baru aku perbaiki.🙏