NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 22. HADIRMU SUNGGUH BERARTI


__ADS_3

Milley melayangkan keberatannya jika harus menikah dengan Dylan dalam waktu yang cepat. Maka dari itu ia mencoba untuk mengulur waktu demi hal-hal yang harus ia bereskan sebelum menikah. Sama seperti saat ini, saat Dylan mencoba mendekatkan diri dengan Milley.


Taman kota malam ini terlihat sedikit ramai, hanya beberapa gelintir muda-mudi yang berada di sana. Lea dan Leo masih mengikuti keduanya. Namun, mereka masih menjaga jarak.


Di hadapan Dylan dan Milley ada sebuah danau buatan. Di samping kanan kirinya ada kursi taman dan beberapa lampu hias yang terlihat kerlap kerlip.


Meskipun tempat ini cukup bagus, tetapi Milley yang sudah terbiasa disiplin agak tidak suka dengan sikap Dylan.


"Ngapain kamu ngajak aku ke sini? Bukankah kakek menyuruhku pulang cepat sebelum petang?"


Dylan menoleh ke arah Milley, ia memegang dagu Milley tapi dihempaskan olehnya.


"Jadi kamu beneran marah sama aku karena lelaki tadi?"


"Jaga sikapmu Dylan, kita ini tidak ada hubungan apa-apa."


"Tapi kita saling terikat satu sama lain."


Milley terdiam mendengar ucapan Dylan barusan.


"Selama aku tidak menganggu privasimu aku harap kau juga melakukan hal yang sama kepadaku," ucap Milley tegas.


"Apa kau lupa, sebentar lagi kita akan menikah, bukan?"


"Untuk hal itu, aku akan minta kakek mengulur waktu sampai kau bisa memperlakukanku dengan lembut."


Dylan membalikkan tubuhnya ke arah Milley.


"Nggak mau, aku maunya dipercepat!"


Mata Milley melotot, "Bisa-bisanya ia meminta hal itu? Padahal urusan dengan Rose saja belum selesai?"


Milley berdecih, "Jangan-jangan kau sudah mulai mencintaiku ya? Hahaha ... pesona Virgo memang tidak terbantahkan rupanya."

__ADS_1


Dylan mendekati Milley, "Memangnya kenapa, bukankah menikah atau pun tidak sama saja. Yang kau inginkan hanyalah uang dari keluargaku, bukan? Jadi aku menikahimu pun tidak perlu adanya ketertarikan satu sama lain."


Plak!


Ucapan Dylan menyakitinya.


"Ya, aku memang butuh uang, tapi aku bisa mencarinya sendiri. Kalau bukan karena surat itu aku juga tidak akan sudi berada di dekatmu!"


Dylan memegangi pipinya yang panas. Niat hati ingin berdekatan dengan Milley hancur sudah. Mulutnya terlanjur menyakiti gadis itu.


Sebenernya Dylan kagum dengan ketegaran dan cara Milley bertahan hidup sebelum ini. Bahkan di tengah kemiskinan yang ia hadapi, ia masih mempunyai banyak cara untuk bahagia. Tidak sama dengan dirinya yang sejak lahir sudah bergelimang harta tetapi minim kasih sayang. Kebahagian Dylan mulai ia rasakan saat Milley datang dalam kehidupannya. Ia akui hal itu.


Baru kali ini ia merasa bersalah. Melihat Milley duduk dengan tatapan sendu semakin membuatnya terluka. Ingin hati memeluk dan memenangkannya, tetapi Milley tidak sama dengan wanita yang biasa ia kencani. Meluluhkan hati Milley sama saja dengan menjinakkan singa betina.


Sementara itu di sudut taman, Milley mencoba menenangkan perasaanya.


"Semua orang kaya selalu sama, memperlakukan orang rendah hanya karena uang. Ini semua gara-gara laki-laki sialan itu. Andai ibu tidak memaksaku kembali ke sini, mungkin semua tidak akan terjadi."


Milley mengusap sudut matanya, dadanya masih bergemuruh dan sedikit sakit akibat ucapan Dylan barusan. Ingin rasanya ia menyerah, tetapi ada bayangan ibunya tersenyum ke arahnya.


Udara malam semakin menyapa kulit. Semriwing, menggelitik lengan Milley yang terbuka. Beberapa kali ia mengusap lengannya agar tidak terlalu dingin. Dylan masih berdiri dari tempatnya. Bibirnya kelu saat ia ingin mengucap maaf pada Milley, tetapi ia tidak tega melihat Milley kedinginan.


Tiba-tiba saja, Dylan mendekatinya. Mencoba mengusir rasa dinginnya udara malam dengan menutupi tubuh Milley menggunakan jaket yang ia pakai. Seketika Milley menoleh, menatap Dylan untuk sesaat. Tidak ia sangka, Dylan berlutut di hadapannya, memegang tangan Milley.


"Mau apa lagi lelaki ini?" ucap Milley dalam hati.


Tidak disangka Dylan meminta maaf kepadanya.


"Maaf untuk ucapanku tadi, Milley."


Dylan menjeda kalimatnya, sebenarnya ia masih ragu-ragu untuk mengucapnya.


"A-aku tidak bermaksud melukai hatimu dengan kata-kata tadi, aku hanya ...."

__ADS_1


Milley memotong ucapan Dylan. Ia tau sebenarnya Dylan amat gengsi melakukan hal seperti ini. Namun, ia tidak menyangka Dylan berinisiatif untuk meminta maaf.


"Aku memang miskin Dylan, tapi kau tak perlu mengingatkanku akan hal itu. Aku cukup tau diri."


"Iya, iya, makanya aku minta maaf kepadamu."


Dylan sedikit mengiba, ia menatap Milley dalam-dalam. Terlihat sekali penyesalan di dalam kelopak matanya. Jarang ia bersikap seperti ini, tetapi setidaknya progres Dylan sedikit ada kenaikan.


"Jadi, kamu mau maafin aku nggak?"


Milley masih terdiam.


"Milley cantik, kamu baik deh kalau mau maafin aku."


"Wkwkwk, nggak usah gombal, gue nggak bakal maafin kamu, weekkk."


"Ha-ah, kok gitu sih?"


"Aku yakin kamu pasti akan mengulanginya suatu saat nanti, jadi aku nggak perlu maafin kamu."


"Please, maafin aku ya."


"Hm, baiklah kalau begitu antar aku pulang sekarang, aku capek."


"Siap Tuan Putri."


Meskipun belum terucap maaf dari mulut Milley, tetapi setidaknya ada sebuah senyum yang terbit di wajah Milley yang membuatnya semakin terlihat cantik menawan.


"Aku akan berusaha membahagiakanmu Milley, meskipun rasa itu belum tumbuh di hatiku," ucap Dylan sambil memandangi wajah Milley.


.


.

__ADS_1


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2