NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 147. BERTEMU KAWAN LAMA


__ADS_3

Evan yang merasa geram karena mendengar kabar jika Milley bolak-balik masuk Rumah Sakit segera mendatangi Dylan. Ia merasa Dylan tidak pantas bersanding dengan Milley, karena hanya dirinyalah yang seharusnya berada di sisinya bukan Dylan. Evan yang sangat mencintai Virgo sama sekali tidak mau mendengar kabar jika wanita yang ia cintai terluka.


Pengamatan selama beberapa bulan terahir membuat Evan semakin yakin jika Milley tidak pantas untuk Dylan. Di dalam ikatan cinta mereka terlihat sekali jika Dylan hanya memanfaatkan kebaikan hati Milley.


"Beraninya ia mempermainkan wanita milik Evan!" ucapnya dengan geram.


Maka dari itu ia tidak menunggu waktu lama dan langsung menghadiahi Dylan bogem mentah. Sebuah kebetulan manis yang dirasakan oleh Evan membuatnya dengan mudah dapat menemukan Dylan. Padahal jika tadi ia tidak bisa menemukannya, Evan akan membuat onar di dalam Perusahaan Anggara.


Akan tetapi, Tuhan memudahkan langkahnya saat itu. Ia berhasil meluapkan rasa kekesalan pertamanya. Sayangnya, saat ia melihat para pengawal Dylan, Evan langsung pergi menjauh.


Langkah kakinya yang lebar dan panjang memudahkan pergerakan Evan. Sesampainya di mobil, Evan segera membuang topeng yang ia pakai barusan.


"Kau tak akan pernah bisa menemukanku, Dylan. Akan tetapi, aku pastikan jika kamu tidak akan mendapatkan kebahagiaan."


Terlihat jelas pancaran kebencian di dalam sana. Sopir miliknya mengintip dari kaca spion.


"Ma-maaf, Tuan. Sekarang kita kemana?"


"Jalan saja dulu Pak, kita kembali ke rumah, sebentar bisa nggak?"


"Bisa, Tuan Muda."


"Kalau begitu, kita pulang!"


"Baik, Tuan Muda."


Evan memang mencintai Virgo jauh sebelum Dylan hadir di dalam kehidupan Virgo/Milley. Ia merasa jika Dylan adalah penghalang cinta untuknya. Sudah lama ia mengamati gerak-gerik Dylan, akan tetapi ia belum menemukan Milley.


Hingga beberapa saat ia melihat sosok Milley dengan perut sedikit membuncit pergi ke sebuah toko susu. Pandangan Evan sama sekali tidak berkedip ketika memandangi wanita yang sangat ia cintai itu.


"Bukankah itu Virgo? Kenapa ia membeli susu ibu hamil? Apakah anak yang dikandung Milley anak ...."

__ADS_1


Evan tak kuasa menahan gejolak hatinya yang memanas. Rasa keingin tahuannya yang panjang membuat Evan ingin mendekati pujaan hatinya. Ia tidak terlalu mempermasalahkan jika Virgo hamil. Apapun kondisinya Evan menerima dengan lapang dada.


Tidak membutuhkan waktu lama, ia menghampiri Milley ke dalam toko susu. Senyumnya terlukis sepanjang langkah saat ia mendekati Virgo.


"Virgo ...." sapanya ramah.


Langkah kaki Milley terhenti ketika ia mendengarkan suara seseorang yang memanggilnya. Tidak berapa lama kemudian Milley menoleh. Terkejut dan sangat suprise dengan kedatangan Evan di hadapannya saat ini.


"Evan?"


"Ya, ini aku. Kamu sedang apa di sini?" ucap Evan sambil tersenyum.


"Oh ini, aku sedang membeli susu buat ini!" Milley mengusap perutnya dengan lembut.


Sedangkan Evan mengepalkan tangannya karena geram. Kini giliran Milley menanyakan kabar Evan, karena setahunya Evan masih terlihat sakit. Oleh karena itu, Milley menanyakan hal itu.


"Sudahlah ayo kita berbincang untuk sejenak? Bagaimana, apa kamu tidak keberatan?"


Milley melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.


"Baiklah kalau begitu, hati-hati."


"Terima kasih."


Setelah melakukan pembayaran, Milley membawa barang belanjaan miliknya menuju mobil. Di dalam mobil masih ada Lena yang merasa masih ketakutan akan kehadiran Robby tadi. Sementara itu, Evan menuju mobilnya dengan perasaan sendu.


Ingin hati ia merebut Milley dengan menculiknya saat ini, namun niat hatinya ia tahan. Ia tidak kuasa membiarkan sisi gelapnya berkuasa ketika berada di dekat Milley. Evan memang mempunyai penyakit Alter Ego. Akan tetapi ia akan berusaha lembut saat berada di sisi orang yang sangat ia cintai.


Milley sebenarnya masih ingin mengobrol dengan Evan, sayangnya ia teringat kondisi ibunya yang tiba-tiba saja melemah. Lebih baik ia segera pulang daripada terjadi apa-apa kepadanya.


"Bu, maaf tadi Milley agak lama. Ibu tidak kenapa-napa, bukan?"

__ADS_1


Lena menggeleng, tetapi tangannya begitu gemetar saat Milley memegangnya.


"Ya sudah, ayo Pak kita jalan kembali."


.


.


Kejadian beberapa saat lalu sempat membuat panik Tuan Chryst sekaligus Andreas. Terlebih mereka melihat Dylan terluka sudut bibirnya. Mereka ingin marah, akan tetapi Dylan terlihat lebih tenang saat menghadapi masalah kali ini.


"Serius, kamu tidak kenapa-napa, Nak?"


"Tidak, ayah. Aku baik-baik saja."


"Kalau sampai nanti Milley khawatir bagaimana?"


Dylan menoleh tajam ke arah ayahnya.


"Jangan bilang hal ini pada Milley. Aku tidak mau dia memikirkan hal-hal aneh."


"Tapi, lebam dan lukamu tidak bisa disembunyikan Dylan."


"Biar nanti aku mencari alasan lain."


"Ya sudah, kalau begitu aku kembali ke ruanganku."


"Hm."


Sementara itu di dalam ruang kerja Tuan Chryst. Ia terlihat sedang marah-marah kepada Jo.


"Bagaimana ini bisa terjadi, siapa dia, Jo?"

__ADS_1


"Hal ini masih saya selidiki, Tuan," jawab Jo sambil menunduk.


"Aku tidak mau tau. Kau harus menemukan pelakunya!"


__ADS_2