
Akhirnya Nanni berhasil dibawa ke Rumah Sakit. Masa kritisnya juga sudah berhasil dilalui dengan baik. Akan tetapi Michael tidak berhasil mengejar pelaku penganiayaan itu. Rebecca berhasil kabur.
"Sudahlah, biarkan saja ia kabur, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menyelamatkan dia."
"Betul, terima kasih banyak karena kau sudah membantuku," ucap Michael pada Viola.
Setelah berhasil menolong Nanni, kini keduanya Michael dan Viola masih berada di depan kamar perawatan yang digunakan oleh Nanni. Mereka bagaikan bagian dari keluarga untuk berjaga-jaga di sana.
"Aku nggak menyangka jika kehidupan Milley begitu ...." Viola menjeda ucapannya.
Ia masih memperhatikan keberadaan Michael yang sedari tadi memperhatikan ponselnya. Ingin rasanya ia bertanya tentang hal lebih tetapi ia urungkan.
"Ada apa? Katakan saja, biar tidak ada sesuatu hal yang membuat kau ragu."
Viola mencoba menanyakan apa yang sedari tadi mengganggu pikiran Michael. Namun, Michael tidak mungkin mengatakan jika ia saat ini sedang memikirkan Milley.
"Nggak kenapa-napa, hanya ada beberapa masalah di kantor. Takutnya kalau nggak segera di atasi akan segera merembet dan mengganggu jalannya perusahaan.
"Oh. Mungkin ada yang bisa aku bantu?"
Michael menggeleng. Ia tidak mau Viola ikut campur lebih mendalam tentang kehidupannya lagi. Sebenarnya Viola yang membantu membawa Nanni ke Rumah Sakit tidak menyangka jika kehidupan saudara sepupunya begitu membahayakan.
Bahkan asisten rumah tangganya sampai diperlakukan seperti itu. Namun, ia juga tidak akan memaksa jika Michael tidak mau mengatakan yang sejujurnya saat itu.
Sementara itu di dalam kamar Milley masih tersisa da-rah segar yang tercecer di lantai. Andreas dan Lena sangat khawatir dengan keadaan Milley dan juga kandungannya.
Saat ini Andreas sedang berhadapan dengan dokter spesialis kandungan. Dokter Richard memegang kendali di sini. Ia mengatakan jika kandungan Milley baik-baik saja saat ini. Beruntung mereka membawanya ke Rumah Sakit di saat yang tepat.
"Bagaimana keadaan Milley saat ini, apakah keadaannya baik-baik saja?"
"Untuk sementara waktu, kondisinya cukup baik, mungkin saja setelah ini kita baru akan menyambut kehadirannya."
Dokter Richard mengatakan jika mungkin rencana persalinan Milley bisa dilakukan jika kondisi ibunya sudah cukup membaik. Dia juga tidak akan memaksa untuk melakukan proses caesar jika kondisinya tidak benar-benar mendesak.
Sementara itu, Michael secara diam-diam menghubungi Dylan. Ia berharap keadaan Milley baik-baik saja. Beberapa saat yang lalu setelah mendapatkan kabar dari Andreas, Dylan segera meluncur ke Rumah Sakit.
Setibanya di Rumah Sakit ia langsung menemui Milley dan bertemu dengan dr. Richard. Segala hal penting yang berkaitan dengan kandungan Milley dibahas hingga ia bisa mendapatkan sedikit ketenangan.
Beruntung saat, Michael menghubungi Dylan ia sudah mendapatkan kabar jika Milley selamat dalam insiden tersebut. Oleh karena itu, saat Viola menanyakan kabarnya ia sudah tau dan bisa menjawabnya.
"Jadi bagaimana keadaan Milley?"
Michael menoleh dan mengulas senyum.
"Dia baik-baik saja saat ini, Dylan sudah mengurus semuanya."
"Syukurlah kalau begitu," ucap Viola sesudahnya.
Namun ternyata setelah Milley siuman, perutnya mengalami kontraksi. Dokter Richard pun memutuskan untuk segera melakukan persalinan. Dylan memegang tangan Milley.
"Sungguh kau ingin melakukannya secara normal? Apa tidak sebaiknya kita melakukan operasi caesar saja?" tanya Dylan khawatir.
"Percayalah, aku dan bayimu kuat. Jadi lakukan saja sesuai keinginanku."
__ADS_1
Dokter Richard mengangguk membenarkan ucapan Milley. Lagi pula ia sudah mengukur kemampuan calon ibu saat memberikan ijin untuk melakukan persalinan secara normal.
"Lakukan saja sesuai permintaan istriku, dok!"
"Baiklah kita segera lakukan persalinan secara normal."
Semua tenaga medis sudah bersiap untuk membantu persalinan Milley. Meskipun terjadi ketegangan, tetapi bersyukur semuanya bisa berjalan dengan normal. Hingga terdengar suara tangis bayi laki-laki yang menggema di ruangan persalinan.
"Selamat, bayi kalian laki-laki lahir dalam keadaan sehat dan normal."
Dokter Richard menyerahkan bayi laki-laki yang masih berwarna merah itu ke dalam dekapan Dylan.
"Terima kasih, Sayang. Dia sangatlah tampan ...." bisiknya tepat di salah satu telinga Milley.
Milley tersenyum setelahnya lalu segera melakukan IMD. Setelah semuanya berangsur membaik, tidak lupa Dylan memberitahukannya pada seluruh anggota keluarga termasuk Michael.
"Lihatlah, saat ini Dylan dan Milley sudah menjadi seorang ayah dan ibu baru."
"Wow, selamat, akhirnya mereka menjadi sebuah keluarga kecil yang lengkap dan bahagia."
"Iya."
Kabar baiknya saat itu adalah jika Michael sudah resmi menjadi paman. Keponakan laki-lakinya telah lahir dengan selamat.
Baby boy telah menjadi pelengkap kebahagiaan Dylan dan Milley. Penantian panjangnya berujung bahagia. Milley dalam keadaan selamat dan mempunyai bayi yang sangat sehat dan gemoy.
Ada sebuah rasa iri yang menghinggapi Viola, tetapi ia berusaha untuk tetap bersuka cita dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh Dylan dan Milley. Setidaknya Michael harusnya sudah membuka hati untuknya.
"Jangan saat ini, karena ini masih tahap awal pertumbuhan Baby J. Nanti setelah di bawa pulang kita baru mengunjunginya, bagaimana?"
"Baiklah," ucap Viola dengan manja.
Ia bahkan bergelayut manja di lengan Michael yang menurutnya sangat kekar hingga ia pun betah berlama-lama di sana.
Sebenarnya Michael enggan dengan sikap manja dari Viola. Akan tetapi ia juga tidak bisa serta merta berbuat kasar terhadapnya.
Sesaat setelah kelahiran Baby J, keadaan tubuh Milley semakin membaik. Semua keluhan yang ia alami saat proses kehamilan Baby J, sudah berhasil menghilang dengan sendirinya.
Mungkin ini yang dinamakan bawaan bayi. Ketika kehamilan berlangsung memungkinkan sang bayi membawa dampak pada ibunya. Namun, setelah bayi lahir semuanya kembali normal.
Viola memegang bahu Michael, seolah menanyakan tentang beberapa hal yang mengganjal di hatinya. Memang banyak rasa penasaran yang mengganjal di dalam hati Viola, oleh karena itu ia pun menanyakannya pada Michael.
"Apakah hal seperti ini sering terjadi di kehidupan Milley dan Dylan?"
Michael mengangguk membenarkan pertanyaan dari Viola. Sejenak rasa sesak memenuhi rongga dada Viona. Ia merasa simpati sekaligus takut dengan apa yang terjadi pada keluarga Milley.
"Lalu, kalau keadaan Om Robby?"
"Selama aku mengenal Milley dan Dylan, aku hanya beberapa kali bertemu dengan beliau. Jadi aku tidak terlalu paham dengan kehidupan yang dijalaninya."
"Oh. Maaf."
"Tidak apa-apa, sebaiknya kita ke kantin, perutku sudah lapar."
__ADS_1
"Kenapa tidak makan di depan Rumah Sakit saja, bukankah banyak kedai makanan yang lezat di sana?"
Alis Michael berkerut, "Memangnya kamu bisa makan di pinggir jalan?"
"Bisa!" ucap Viona bangga.
"Seingatku kamu muntah-muntah saat aku ajak makan seafood di pinggir jalan kapan hari."
"Eh, itu kan kemarin, sekarang aku udah biasa kok."
"Oh, lagi pula kalau ada apa-apa pun dekat dengan Rumah Sakit."
"Loh, kok ngomongnya begitu, ngedoain dong."
"Eh, kata siapa? Kan aku berbicara sesuai realita."
"Michaeeeellll!"
"Aaampuuuuun ...."
......................
Kesehatan Milley yang berangsur membaik membuat kepulangannya dipercepat. Akan tetapi untuk menyambut kedatangan keluarga barunya, telah ditambahkan beberapa bodyguard dan beberapa anggota pengamanan di titik Kediaman Tuan Chryst.
"Lapor, semuanya sudah siap, Tuan."
"Bagus, kalau begitu. Persiapkan beberapa bodyguard terbaik untuk menjaga anak dan istriku!"
"Siap, Tuan."
"Jangan lupa, setengah jam lagi mereka sudah sampai di Rumah Sakit."
"Siap."
Dylan memang sengaja melakukan hal ini karena tuntutan bisnis. Ia juga tidak menyukai wanita lain selain Milley. Tidak pernah terbesit kembali tentang keinginan untuk berpindah hati.
Kalau sampai Milley menyia-nyiakan kebaikan hati Dylan. Bisa-bisanya kau semua rencana bisa kacau balau. Sebelumnya, ia juga telah meminta ijin dari Kakek semata wayangnya dan juga Uncle Jo.
Tuan Chryst yang masih chek up ke luar negeri sungguh bahagia ketika mendapat kabar jika cicitnya telah lahir.
"Jadi cicitku laki-laki?"
"Benar, Tuan."
"Syukurlah, akhirnya aku bisa melihat cicitku."
Jo sangat bahagia ketika ia bisa melihat junjungannya bahagia dan merasa sehat. Jika bukan karena kebaikan hati Tuan Chryst jangankan untuk makan, minum saja air kran. Beruntung Tuhan masih berbaik hati padanya.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1