NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 36. MEMILIH GAUN


__ADS_3

Mengetahui tingkah Milley yang beberapa hari ini terlihat berbeda membuat Dylan terusik untuk mencari tahu. Beruntung, siang ini Kakek Chryst memerintahkan mereka berdua untuk pergi ke butik secara bersama.


"Milley kamu nggak keberatan, kan jika kita bertunangan dalam waktu dekat?"


"Dibilang keberatan jelas keberatan Dylan, bukankah kakek sudah memberiku kesempatan untuk melakukan sesuatu terlebih dahulu sebelum kita benar-benar terikat?"


"Apa kau tidak mencintaiku?"


Milley tergelak, ia memandang aneh pada Dylan.


"Sejak kapan kamu mengerti tentang cinta? Sudah menjadi perjanjian kita bukan, meskipun kita terikat tidak akan pernah melibatkan hati kita masing-masing? Apa kau lupa?"


Dylan sesaat teringat ucapan Milley beberapa waktu yang lalu.


"Oke, kita akan menjalani hubungan ini tetapi tidak boleh melibatkan hati."


Lalu keduanya bersalaman satu sama lain.


"Deal!"


Dylan seketika teringat semua yang telah ia ucapkan dulu. Memang ia akui saat itu, dia belum merasa tertarik pada Milley. Terlebih dengan latar belakang Milley yang sangat miskin. Korban kecelakan yang ia lakukan beberapa waktu lalu. Semua memory Dylan berputar-putar seketika.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Dylan sambil menyetir.


"Kini aku terjebak dalam pemikiranku sendiri?"


Dylan mengusap gusar wajahnya. Hampir saja ia menabrak karena kurang fokus.


"Dylan, stop!" teriak Milley saat menyadari jika mobil mereka hampir menabrak seorang pengendara motor dari arah berlawanan.


Beruntung Dylan sigap, hingga mobil yang mereka kendarai berhenti tepat sepuluh centi sebelum menyentuh motor tersebut. Dylan dan Milley menarik nafas lega kali ini.


"Kamu pengen mati? Kalau iya, jangan ngajak-ngajak gue, lah!" sarkas Milley.

__ADS_1


Bagaimana ia tidak marah saat Dylan membahayakan nyawanya. Saat itu pula, Milley menatap tajam Dylan, begitu pula dengan sebaliknya.


Tiba-tiba saja Dylan memegang tangan Milley.


"Sorry, gue harus melibatkan Lu dalam masalah gue!" ucapnya sungguh-sungguh.


Milley hanya mengangguk pelan. Dylan merutuki mulutnya, padahal yang ingin ia katakan bukan hal tadi, tetapi ternyata yang keluar malah perkataan itu.


"Iya, gue tahu masalah itu. Untuk itu aku tidak akan pernah protes dengan semua rencana kakek."


"Kamu sudah tenang? Kalau iya, ayo berangkat! Kasihan kalau pemilik butik lama menunggu."


"Oke."


Dylan segera menginjak gas mobilnya hingga melaju. Tidak di sangka letak butik sudah tidak terlalu jauh. Hingga beberapa saat, ia sudah sampai di butik.


Tidak seperti Michael yang membuka pintu untuknya. Milley dan Dylan keluar dari mobil secara bersamaan. Lalu keduanya mulai memasuki butik tersebut.


Para pelayan membungkuk hormat pada Dylan. Siapa yang tidak kenal dengan calon penerus Anggara Group Corp. tersebut. Hingga hampir di semua tempat, keluarga Chryst Andersoon selalu dihormati.


"Selamat datang Tuan Dylan, oh ya apakah ini Nona Milley? Kalau iya mari ikut saya memilih gaun yang cocok untuk Anda."


"Terima kasih," ucap Milley singkat.


Lalu keduanya memasuki sebuah ruangan yang penuh dengan gaun-gaun mewah.


"Nona Milley lebih suka gaya yang seperti apa?" tanya manager butik tersebut.


Belum sempat Milley menjawab ternyata Dylan sudah berada di belakang mereka.


"Biar saya saja yang memilihkan gaun untuknya."


Dylan ternyata mengekor di belakang mereka, hingga membuat Milley seketika menoleh. Kedatangan Dylan membuat manager itu mundur beberapa langkah agar Dylan bisa leluasa memilih.

__ADS_1


Ia yang sudah terbiasa memilih gaun sangat cepat dalam menentukan pilihan. Ada dua gaun yang sedari tadi mengusik pikirannya.


"Aku mau yang itu dan itu!" ucap Dylan sambil menunjuk ke sebuah gaun berwarna biru muda dan putih bertabur permata.


Dengan berlinang keringat dingin, manager itu memaksakan senyumannya. Meskipun ini sebuah hal yang mustahil, ia harus tetap mempertahankan gaun tersebut untuk si pemesan.


"Maaf Tuan, kedua gaun tersebut adalah rancangan khusus yang sudah dipesan selama beberapa bulan yang lalu, jadi maaf tidak bisa."


"Siapa yang berani menolak permintaanku. Kalau aku mau yang itu, ya harus yang itu!"


Milley yang melihat ketegangan itu hanya bisa meringis.


"Sepertinya egonya kembali meninggi. Sebelum terjadi hal-hal yang tidak aku inginkan, sebaiknya aku memisahkan mereka berdua."


Milley mendekati Dylan dan memegang salah satu tangannya.


"Aku nggak suka dengan gaun yang terlalu mewah, gimana kalau kita pilih yang lain?" ucap Milley manja.


Seorang Dylan tidak pernah mengulang kembali perkataannya untuk kedua kali. Lagi pula semua hal yang ia inginkan selalu ia dapatkan.


"Apa perlu aku ulangi sekali lagi!" gertak Dylan hingga membuat yang lain terdiam dan menegang.


"Nona, tolong saya," bisik manager buruk tersebut.


Milley yang mengerti hal tersebut mengangguk. Hingga sekali lagi ia mulai membujuk Dylan.


Rupanya gaun itu adalah pesanan khusus. Apakah Dylan akan mendapatkan gaun itu atau mengganti pilihannya?


.


.


...🌹Bersambung🌹...

__ADS_1


__ADS_2