NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 76. CINTA TAPI TERPAKSA


__ADS_3

Sambil menahan pusing, Dylan meneruskan perjalanannya ke rumah. Akan tetapi kepalanya terus berdenyut hingga membuatnya harus menghentikan laju mobilnya di tepi jalan.


Pandangannya mengabur sempurna. Ia tidak bisa melihat kemana-mana. Sejenak ia mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan.


Tiba-tiba kaca mobilnya diketuk dari luar. Secara tidak sengaja, Ryo melihat Dylan yang sedari tadi memegangi kepalanya, karena merasa kasihan, ia pun mencoba membantunya.


Beruntung Dylan masih dalam keadaan setengah sadar. Ia pun membuka pintu mobilnya lalu tanpa sengaja ia pingsan di bahu Ryo. Kaget dan gugup inilah yang dirasakannya saat ini.


"Astaga, kenapa orang ini malah pingsan?" ucapnya terkejut.


Tidak mau menunggu lama, Ryo mengembalikan posisi duduk Dylan. Hanya saja karena saat ini jalanan sedang ramai, Ryo harus menyetir dan memindahkannya pergi.


"Semoga orang ini segera siuman!" ucap Ryo di dalam hati.


Tujuan utamanya adalah Rumah Sakit. Untung saja Ryo bisa menyetir, meski dengan sangat hati-hati ia melakukannya, tetapi pada akhirnya mereka sampai di lokasi.


"Pak tolong bantu pasien di dalam mobil, tadi ia pingsan," ucapnya ketakutan.


"Baik, antar saya!"


Beberapa orang petugas medis sedang berjalan bersamaan dengan Ryo. Ia tidak ikut masuk karena ia beranggapan bukan bagian lain."


Sementara itu Milley sedang bersiap untuk pergi jalan-jalan bersama Michael. Sesampainya di depan pintu kamar Milley, tidak lupa ia mengetuk pintu.

__ADS_1


"Milley, sudah siapkah? Ibuku dan ibumu sudah berangkat terlebih dahulu."


"Iya, Kak. Sebentar lagi turun."


Belum sempat Milley keluar ia malah terpeleset hingga ia menjerit.


"Aarrgghh ...."


Michael belum beranjak pergi, karena mendengar teriakan dari Milley ia sengaja mendorong pintu untuk melihat keadaannya. Dilihatnya Milley sedang terbaring di lantai karena terpeleset.


"Kamu kenapa? Ada yang sakit? Aku panggilin dokter, ya?"


"Nggak usah, Kak. Aku diurut aja, mungkin keseleo karena barusan terpeleset."


Milley menggeleng, mungkin karena terburu-buru makanya ia sampai tidak memperhatikan jalan. Michael yang tidak tega dengan keadaan Milley segera menggendongnya.


"Lain kali, nggak usah buru-buru, kan aku setia menunggumu, Sayang."


"Iya, aku aja yang ceroboh."


Tidak sengaja Michael menoleh dan dilihatnya sepatu high heels milik Milley tertinggal di sana. Dari hal itu, Michael bisa menyimpulkan jika Milley berusaha tampil cantik dengan menggunakan sepatu itu. Padahal tanpa memakai sepatu tersebut, ia juga tidak keberatan.


Dengan cepat Michael menelpon orang di dapur untuk membawakan beberapa air hangat untuk mengompres luka terkilir di kaki Milley. Tidak berapa lama kemudian, akhirnya pelayan tersebut segera membawakan satu baskom air ke hadapan Michael. Kaki Milley yang berwarna putih kini terlihat kemerahan.

__ADS_1


"Biar nggak bengkak, aku ijin untuk mengompres kaki kamu, ya?"


Milley menolak, "Nggak usah repot-repot, takutnya malah membuat kamu ...."


"Nggak boleh protes, diam aja!"


Michael dengan cekatan memasukkan kain handuk ke baskom lalu sedikit memeras, dan segera dikompres dengan air hangat. Dengan telaten, Michael merawat Milley. Hal begini saja tidak perlu panik, karena sesungguhnya Michael adalah lelaki idaman sejuta umat. Namun hatinya begitu lembut dan penuh kasih sayang.


"Gimana, sudah enakan belum?"


"Sedikit, tetapi sangat suka. Makasih banyak Pak Dosen eh mantan dosenku yang kece."


Michael tersenyum puas lalu mengacak gemas rambut Milley.


"Love you Milley."


"Love you too."


.


.


...🌹Bersambung🌹...

__ADS_1


__ADS_2