
Akhirnya Viola mengatakan keinginannya ingin bertemu dengan pamannya Robby. Sebenarnya ia sangat ingin segera bertemu dengan pamannya karena ada sesuatu hal yang penting yang harus ia sampaikan kepada beliau. Hanya saja Viola masih menahannya.
Saat ini ia sedang bersama Michael dan berada di dalam ruang kerjanya. Dengan segenap keberanian yang terkumpul ia pun mulai berbicara.
"Besok apa kamu mempunyai waktu senggang?"
"Maaf, aku belum melihat jadwal, tapi nanti aku pasti menanyakannya pada Jovan."
Michael masih fokus pada layar laptop miliknya.
"Aku harap kau mempunyai waktu untuk mengantarkan aku pergi menemui paman Robby," ucap Viola seolah memaksa Michael menuruti keinginannya.
"Maksud kamu untuk menemui ayahnya Milley?" tanya Michael sambil melihat Milley.
Viola mengangguk setuju. Lalu menoleh ke arahnya. Kini tatapan mereka saling bertemu satu sama lain.
"Kamu tidak keberatan, bukan?"
"Sedikit."
Ucapan Michael yang singkat, padat dan jelas membuat Viola kecewa. Maka dari itu ia menanyakan arti tentang ucapannya.
"Loh kok keberatan? Aku marah kalau begitu," ucap Viola sambil bersedekap dada.
"Syukurlah kalau kamu ngambek," ucap Michael berpura-pura.
"Kalau begitu biarkan aku pergi."
Viola yang sudah kesal hendak beranjak pergi. Rasanya kesabarannya sudah hilang saat ini.
"Pergilah kalau begitu!"
Mendapat respon yang begitu acuh, sungguh membuat Viola kecewa. Ingin rasanya ia segera meninggalkan lelaki di hadapannya saat ini. Karena Michael tampak tidak ada niatan meminta maaf, Viola akhirnya pergi.
"Ya, sudah. Biarkan aku pergi," ucapnya penuh rasa kecewa.
Sesaat kemudian terdengar jika Viola membanting pintu ruangannya. Hingga membuat Michael menutup kedua telinganya.
"Dasar wanita bisanya cuma marah!" seru Michael dengan nada kesal.
Michael benar-benar tidak menyangka jika Viola mudah marah. Tidak seperti Milley yang selalu bisa membuatnya nyaman. Ia juga jarang marah. Akan tetapi jika sekalinya ia dibuat kecewa maka jangan harap ada kata kembali.
Sebenarnya ia sengaja membuat Viola marah. Hal itu ia lakukan untuk menguji tingkat kesabaran yang dimiliki Viola. Jika saya Michael membuat jalan Viola susah tentu saja ia sangat bahagia.
Merasa jika Michael tidak mengejanya membuat Viola geram. Ia bahkan mengomel sepanjang jalan keangangan yang tersimpan rapi di perusahaan itu.
"Dasar lelaki tidak peka sama saja dengan pria yang lainnya."
Mulut Viola tidak berhenti sepanjang jalan. Ia terus memaki nama Michael di sana.
__ADS_1
Saat ini, Viola sedang melangkah kasar menuju tempat parkir. Akan tetapi ia tidak tahu jika Michael mempunyai jalan pintas agar cepat sampai ke tempat parkir.
Ternyata saat merasa jika Viola hampir sampai di tempat parkir, Michael sudah bisa memprediksinya. Ia segera menggunakan jalan pintas itu untuk membuat kejutan pada Viola.
Sementara itu Viola masih mengomel sepanjang jalan. Ia terus merasa marah sampai ia tidak sadar jika Michael sudah duduk di kursi penumpang bagian belakang saat Viola membuka pintu mobilnya.
Barulah saat menoleh ke samping, ia baru menyadari jika ada orang lain di mobilnya. Seketika bulu kuduknya meremang. Lalu ia melihat kaca mobilnya, terlihat bayangan hitam di kursi belakang. Sesaat kemudian ia berteriak.
"Aaaa ....setaaan!"
Sontak saja Michael tepingkal-pingkal mengetahui tingkah Viola. Tentu saja Viola sangat hafal dengan suara barusan. Ia mengintip dari celah tangannya.
"Kak Michael?"
"Iya ini aku, kenapa? Masih marah, kah?"
"Dasar jahat!" pekik Viola.
Secara tidak sadar, Viola terus memukul tubuh Michael hingga membuatnya semakin bahagia.
"Jahil, nyebelin pokoknya paket lengkap!" gerutu Viola.
Namun, hal itu sukses membuat kemarahan di hati Viola menguap. Michael memang sengaja membuat kejutan tadi. Setelah mengetahui Viola marah dan terkejut. Ia semakin membuat Viola malu-malu.
"Tapi sayang, kan?" tanya Michael sambil menarik turunkan alisnya.
Blush seketika rona pipi Viola memerah karena malu. Akan tetapi ia tidak bisa marah lama-lama.
Dengan raut wajah memerah, Viola hanya mampu mengangguk setuju.
"Ya sudah, cuz kita pulang."
Bahkan saat Michael menawarkan untuk mengantarnya pulang, Viola langsung mengangguk setuju. Itu artinya Viola sangat sayang padanya.
"Tuker posisi ya, Sayang."
"Iya."
Sesaat kemudian, Michael berpindah tempat duduk. Kini ia duduk di kursi kemudi lalu Viola duduk di kursi penumpang.
"Oke, Nona. Mari kita berangkat!" seru Michael dengan sangat bahagia.
......................
Usia kandungan Milley yang sudah memasuki usia tujuh bulan membuatnya susah bergerak. Terlebih lagi ia masih dalam masa pemulihan akibat salah sasaran tembak.
Meskipun begitu ia dan bayinya dinyatakan sehat. Besok adalah waktu kontrol bulanan baginya, tetapi rasanya perutnya sangat tidak nyaman.
"Aduh keluhnya sambil memegangi perutnya bagian bawah.
__ADS_1
"Nanni ...." panggilnya setengah berteriak.
Sesaat kemudian ia mendengar derap langkah dari tangga. Ia berharap jika itu adalah Nanni. Akan tetapi ternyata bukan Nanni melainkan itu adalah Rebecca.
Dengan senyum menyeringai ia berjalan mendekati Milley.
"Hai menantuku tersayang, eh kenapa itu?" ucapnya sambil tersenyum jahat.
"I-ibu?"
Tentu saja Milley tidak menyangka jika ibunya akan datang di saat tidak tepat seperti ini. Bagaimana bisa ia tenang jika tahu ibunya sangat tidak mengharapkan kehadirannya.
"Hei-hei, jangan memanggilku Ibu? Karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah menganggap jika kau adalah menantuku."
Tawa dari Rebecca sama sekali tidak terdengar bahagia hingga semakin membuat Milley cemas.
"Kenapa kau terlihat sangat takut kepadaku? Bukankah kita tidak ada dendam?"
Rebecca semakin melangkah maju. Milley semakin kesakitan dengan perutnya.
"Tuhan, tolong selamatkan kami," rintihnya sekali lagi.
Nanni yang baru sampai menghentikan langkahnya sesaat. Setelah ia sampai di ambang pintu, samar-samar ia bisa mendengar percakapan mereka berdua.
Nanni akhirnya mengintip apa yang sebenarnya terjadi di dalam. Terlihat dari sana, jika Rebecca sudah berdiri di hadapan Milley yang sedang duduk di kursinya.
"I-itu kenapa dengan Nona Milley?" ucap Nanni khawatir.
Untung suaranya begitu lirih. Namun ia tidak bisa membayangkan rasa sakit yang dialami oleh Milley.
Terlihat aliran da-rah di kaki Milley bagian kiri. Tentu saja hal itu membuat kekhawatirannya semakin bertambah. Di sisi lain, Milley sudah tidak kuat dengan kontraksi yang dialaminya.
Melihat hal itu, Nanni segera mengambil inisiatif. Ia segera melangkah keluar sambil menelpon Tuan Mudanya.
"Semoga Tuan Dylan segera mengangkatnya, semoga saja, Aamiin."
Nanni tidak henti-hentinya berdoa agar ada seseorang yang datang ke rumah dan menolongnya.
"Ya, Tuhan kenapa belum diangkat?" gumamnya ketakutan.
Sementara itu, entah kenapa Viola ingin mampir ke rumah Milley. Ia pun langsung meminta Michael untuk melajukan mobilnya ke sana.
"Ha ha ha, kita lihat siapa yang akan menolongmu, Milley!"
"Kau datang ke rumah ini dan merebut semua perhatian dariku, bahkan kini semuanya membenciku, maka kau harus membayar mahal untuk semua itu!
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG