
Mungkin cinta sejati akan menemukan jalannya sendiri. Sejauh apa hati kita terpisah, maka suatu saat pasti akan bersatu.
"Jadi ini tempat tinggal ia sementara ketika berada di Bali?"
Michael memandang bangunan besar di depannya ini. Sebuah vila yang berada di salah satu gunung membuat keberadaan Viola sulit dideteksi.
"Seperti orang penting saja, mencarimu sampai ke pedalaman."
Michael tersenyum tipis saat melihat ada celah untuk masuk ke dalam sana. Dari dalam mobil, Michael membuat jejak noda di wajahnya. Tidak lupa is memakai sebuah rambut palsu dan mengganti pakaiannya. Mobil Michael sudah dirancang sedemikian rupa agar bisa digunakan dalam berbagai situasi.
"Andai Milley yang aku temui mungkin rasanya akan sedikit berbeda."
Michael sudah berpakaian rapi ala seorang utusan. Dia mengetuk pintu dengan sedikit keras sehingga membuat derap langkah Viola yang sedang menuruni tangga menjadi terhenti.
"Siapa yang bertamu sepagi ini?"
Meskipun digelayuti perasaan was-was, Viola tetap berjalan membuka pintu. Ia mempercepat langkahnya agar tamunya tidak begitu lama saat menunggunya.
Cekrek!
__ADS_1
"Ada apa ini? Kamu siapa?"
Michael terpaku untuk sesaat. Lama tidak melihat Viola ia semakin cantik saja. Michael yang masih terdiam membuat Viola naik darah.
"Kalau kamu tidak mengatakan apa keperluanmu, lebih baik kamu pergi!"
Viola hendak menutup pintu dengan paksa, akan tetapi tangan Michael mencegahnya. Tanpa mengucap kata-kata, Michael melepas luka di wajahnya lalu melepas rambut palsu yang ia pakai.
"Mi-Michael?" ucap Viola terbata.
"Iya ini aku!"
Buru-buru Viola menutup pintu tetapi Michael berhasil masuk dan mendorong tubuhnya hingga jatuh terjerembab. Mau tidak mau tubuh Michael menimpa tubuh Viola hingga tubuh mereka bertumpang tindih.
"Jangan pergi dariku, aku membutuhkanmu."
Viola yang masih rapuh hatinya segera mendorong tubuh Michael.
"Pergilah, aku bukan Milley. Aku Viola wanita yang berbeda dengan yang kamu cari!"
__ADS_1
Viola hendak berlari ke lantai atas, tetapi Michael berhasil menangkapnya.
"Maafkan aku, aku bukan membutuhkan Milley melainkan dirimu."
"Aku tidak percaya, dan aku sangat membencimu Michael!"
Viola sama sekali tidak mau menatap wajah Michael dan lebih memilih untuk membuang muka. Akan tetapi Michael tidak berhenti berusaha. Ia tetap meyakinkan Viola agar mempercayai perkataannya.
Viola tetap menolak semua perkataan Michael, meskipun hatinya masih rapuh. Tidak mau melihat Viola semakin ragu, Michael memegang wajah Viola lalu mengecup keningnya.
Tentu saja tindakan Michael barusan membuat Viola terkejut. Ingin hati dia menolak tetapi perlakuan Michael barusan membuat hati Viola luluh. Tanpa ia sadari tangannya terulur lalu memeluk tubuh Michael.
Mendapat pelukan dari Viola, Michael percaya bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Keduanya saling menikmati moment tersebut untuk beberapa saat.
"Aku mencintaimu Viola, bukan sebagai bayang-bayang Milley melainkan sebagai Viola wanita yang aku sayangi."
"Apa perkataan darimu itu sungguh-sungguh? Atau hanya sekedar untuk menenangkan hatiku saja?"
"Aku sungguh-sungguh mencintaimu, jika kamu tidak percaya maka ikutlah denganku untuk menemui kedua orang tuaku."
__ADS_1
Kedua mata Viola berkaca-kaca, ia tidak menyangka perasaannya berbalas saat ini. Tidak ada hal lain yang lebih membahagiakan kecuali ungkapan hati Michael.
"Aku harap semua ucapanmu adalah benar-benar cinta dan bukan karena kasihan," gumam Viola di dalam hati.