NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 126. SUKA ATAU BUTUH


__ADS_3

"Apa kamu sudah siap, Sayang?"


Rose mengangguk bahagia, tidak lupa ia mengulas senyum palsunya pada Alex.


"Ayo!" ajaknya sambil membuka pintu.


Ia dan suaminya bersiap untuk pergi ke salah satu Rumah Sakit terbaik di Ibu Kota. Kini kehamilan Rose telah memasuki usia sembilan bulan sepuluh hari. Saatnya ia bersiap untuk melahirkan putra pertamanya di Rumah Sakit.


Kondisi pinggul Rose yang kecil tidak memungkinkan jika ia bisa melahirkan secara normal. Maka diputuskan untuk melakukan operasi caesar.


"Apapun yang terjadi sebelum ini, Dylan dan Milley harus membayarnya dengan harga yang sangat tinggi. Aku tidak akan membuat mereka hidup tenang. Bagaimana pun caranya kalian harus menderita!" gumam Rose sambil memegang lengan suaminya.


Sementara itu segala bentuk perhatian diberikan Alex untuk Rose dengan segenap jiwa raga. Ia sangat mencintai Rose melebihi segalanya. Apalagi saat ini ia sedang mengandung putranya.


"Apapun akan aku lakukan asalkan kamu bahagia bersamaku, Sayang."


Alex, suaminya sudah menyetujui untuk melakukan prosedur tersebut karena Rose yang notabene tidak ingin merasakan sakit saat melahirkan. Sudah lama, Rose menginginkan proses melahirkan secara caesar. Oleh karena itu, Adam menyetujuinya.


Setelah melahirkan nanti, Rose juga berencana untuk tidak memberikan ASI eksklusif untuk putranya tersebut karena Rose tidak ingin bentuk tubuhnya berubah setelah melahirkan. Apalagi sejak ia mengetahui kehadiran calon putranya tersebut, ia sama sekali tidak menginginkannya. Jadi, buat apa mengukir luka di hatinya.


Dengan berat hati, Alex menyetujui usulan Rose tersebut. Ia tidak akan membebani pikiran istrinya tersebut dengan hal-hal yang bisa membuatnya melarikan diri dari dirinya. Sedikit cinta dari Rose sudah membuatnya bahagia. Jangan sampai Rose pergi dengan membawa buah hatinya.


Meskipun tidak ada rasa cinta di hati Rose, tetapi ia menginginkan semua harta yang dimiliki Alex akan jatuh padanya. Terlebih Rose memiliki sebuah alasan yang kuat. Ia bisa mempunyai anak dari lelaki di hadapannya saat ini. Tidak ada pilihan lain kecuali menerima cinta Alex dan menjadi istrinya.


"Kamu memang lelaki terbaik Alex, sayang aku tidak pernah sekalipun mencintaimu karena cintaku sudah aku berikan pada Dylan. Namun, berpura-pura untuk mencintaimu bukanlah sebuah kecurangan, bukan?"


"Salah siapa kamu mencoba menjeratku, jadi mau tidak mau kamu pun harus menanggung apa yang aku rasakan saat ini!"

__ADS_1


Empat puluh hari setelah melahirkan, mereka akan melangsungkan pernikahan secara resmi secara hukum dan agama. Hal tersebut sudah direncanakan jauh-jauh hari, sebelum rencana persalinan yang akan dilakukan Rose hari ini.


Meskipun wajahnya agak ketakutan, tetapi Rose berusaha untuk menyembunyikan hal tersebut. Alex menggenggam tangan Rose, berusaha untuk selalu ada di samping calon istrinya tersebut.


"Kamu jangan kuatir, setelah ini pasti kita akan liburan dan melakukan apapun yang kamu suka," ucap Alex menghibur istri kecilnya itu.


Seketika mata Rose berbinar bahagia. Liburan adalah sesuatu hal yang paling ia inginkan saat ini. Tidak ada sesuatu yang membahagiakan kecuali liburan dan shopping.


"Hm, apapun itu aku sangat senang dan berterima kasih kepadamu, Sayang."


Rose pun dengan semangat empat lima membuat ucapan-ucapan manis tapi palsu untuk Alex. Baginya memanfaatkan kebaikan hati Alex bukanlah sesuatu yang salah. Justru hal itu sengaja ia lakukan agar Alex semakin jatuh ke dalam jerat cinta palsu dari Rose.


Akhirnya suntik epidural berhasil diberikan pada Rose. Alex akhirnya bisa bernafas dengan lega. Setidaknya setelah ini ia bisa melihat kehadiran buah hatinya yang sudah lama ia nantikan.


"Sayang, ada aku di sini tidak akan terjadi apa-apa. Percayalah pada dokter!"


Rose setelah terus membuang muka setelah kembali dari lamunannya. Tanpa harus mempercayai ucapan Alex, sebenarnya dia juga mengetahui kalau hal tersebut tidak akan menyakitinya. Lagi pula ia juga percaya karena rumah sakit yang dipilih merupakan rumah sakit terbaik di Ibu Kota.


"Setelah ini, aku bisa bebas berkeliling, shopping, kumpul-kumpul. Semuanya deh, pokoknya aku sangat suka semua hal, ha ha ha ...." batin Rose senang.


Sepertinya setelah putranya lahir, cinta untuk Dylan sudah ia lupakan. Toh, ia mendapatkan imbalan lelaki yang jauh lebih kaya dibandingkan Dylan.


Saat ini, Rose terlihat sangat menyukai Alex. Ia kembali mengulas senyum palsu untuk Alex. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.


"Sorry, Dylan. Kau hanya masa lalu untukku, jadi tidak usah berharap banyak setelah ini," gumam Rose bangga.


Mendapatkan senyuman dari Rose sudah membuat hati Adam bahagia. Setidaknya ia merasa jika Rose sudah membuka hati untuknya.

__ADS_1


Sementara itu di dalam jeruji besi, Rebecca terlihat sangat kacau. Penampilannya tidak secantik saat menjadi nyonya besar. Baju branded yang biasa melekat pada tubuhnya kini berganti dengan seragam berwarna biru tua yang sama dengan tahanan wanita lainnya.


Bibir merah delima itu kini terlihat pucat tanpa sebuah polesan apapun. Perhiasan diamond yang menghiasi tubuhnya sudah tidak ada lagi. Sungguh hal tersebut membuat harga diri Rebecca benar-benar jatuh.


Beberapa tuntutan yang diberikan oleh jaksa penuntut umum, justru semakin memberatkan dirinya. Sementara itu, kekasih gelapnya tidak membelanya atau menyediakan pengacara terbaik. Sehingga, mau tidak mau Rose harus mendekam di penjara selama enam bulan masa kurungan.


Ketukan palu hakim membuat Rose sangat marah. Ia tidak menyangka jika saat ini, ia harus terjebak di dalam penjara. Terlebih orang-orang yang biasa dekat dengannya kini telah menghilang.


Selama itu pula, ia juga tidak bisa menghubungi Rose mantan menantunya.


"Kemana lagi wanita itu, bisanya merepotkan saja. Saat aku kesusahan seperti ini, ia malah menghindariku. Awas aja kau, Rose!"


"Aku nggak mungkin minta tolong sama Milley, karena dia yang membuatku mendekam di sini. Dasar, ibu dan anaknya sama-sama wanita ja**ng!" umpat Rebecca kasar.


Satu hal yang dapat ia pahami saat ini adalah takdir buruk telah sampai kepadanya. Akan tetapi ada satu hal yang membuat senyum Rebecca muncul, kesehatan Tuan Chryst semakin menurun setiap harinya. Setidaknya, jika ia keluar nanti, mungkin saja situasi tua bangka itu sudah meninggal.


"Tunggu saja pembalasanku, Milley!"


Itulah sesuatu hal yang dapat membuat sedikit rasa bahagia. Rebecca berencana jika nanti ia keluar, semua rencana yang telah ia susun bisa berhasil.


"Dan kau, setelah aku keluar aku juga akan membalas dendam kepadamu, Sayang."


Rasa ingin balas dendam begitu terasa kuat hingga membuat Rebecca terlihat sangat kacau. Setelah mengetahui hal itu ternyata, sesekali ia tersenyum lalu kepada Rose yang telah mengabaikan dirinya.


"Tunggu kedatanganku wahai menantu tidak berguna!" ucapnya lebih kesesalan.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2