
Selama dua puluh empat jam, Dylan sama sekali belum menemukan jejak Milley. Tuan Chryst sudah melaporkan hal tersebut ke kantor polisi. Namun, hasilnya sama saja.
Sementara itu, Milley masih belum bisa menerima hal tersebut. Apalagi di ranjangnya ada bekas noda. Anehnya ia bisa berjalan seperti biasa dan tidak merasakan sakit di area tersebut.
"Ada apa denganku, kenapa rasanya sama sekali tidak sakit, tapi ... Kak Michael juga tidak memakai pakaian sepertiku ...."
Milley masih berada di kamar mandi sambil berendam air hangat yang dipersiapkan Michael tadi. Perhatiannya masih sama dengan sebelumnya sama sekali tidak ada berubah, tetapi Milley masih belum menerima semuanya.
"Nggak, aku nggak boleh menerima semua perlakuan manisnya, apalagi ia sudah merebut mahkotaku dengan paksa," gumam Milley.
Milley memegang kepalanya mencoba mengingat sesuatu, sayang tidak ada yang bisa ia ingat. Ingatannya masih berputar pada saat ia terakhir kali berada di kamar mandi, setelahnya ia tidak bisa mengingat apapun.
"Mil ... Milley cepat keluar, ayo kita makan lebih dahulu."
Lamunan Milley buyar seketika, tetapi ia tidak mau menjawab panggilan Michael. Milley lebih memilih berdiam di kamar mandi. Jika semua ini adalah rencananya, maka sudah dipastikan ia akan membenci Michael untuk selamanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Cairan bening kristal itu keluar dari celah mata Milley. Entah kenapa ia merasa bingung dan cemas. Ia masih meringkuk di kamar mandi. Mencoba menyelami apa saja yang telah ia lakukan dengan Michael selama ini dan juga semalam.
Begitu pula dengan Michael, yang masih mencoba menenangkan Milley, tetapi Milley masih kecewa hingga ia lebih memilih untuk mengurung dirinya di kamar.
Tidak ada jawaban darinya, Michael lebih memilih pergi ke dapur. Mencoba mengolah apa yang ada untuk menjadi makanan pengganjal perut.
"Bagaimana pun caranya, aku akan bertanggung jawab padamu, Milley," gumamnya sambil mengaduk sup.
Sayang, tangannya terkena sudut panci yang panas karena ia melamun, tetapi itu bukanlah sebuah hal yang besar. Lebih baik ia melukai tangannya daripada melukai hati Milley.
Michael memperhatikan sekitarnya. Meskipun ia kehilangan semua barang-barang, anehnya ditempat itu ada barang-barang lain siap pakai, seperti makanan beku dan sayuran segar di kulkas. Semua itu memunculkan, sebuah kecurigaan di sana.
Sejenak terlintas sebuah pertanyaan, "Apa sebenarnya motif di balik semua ini? Kenapa semuanya tampak rapi."
__ADS_1
"Aku juga tidak merasakan telah melakukan apapun semalam."
"Sial, aku tidak bisa menemukan ponselku!"
Michael masih sibuk dengan pemikirannya, tetapi supnya telah matang. Ia segera memindahkan semuanya ke dalam dua buah mangkuk sedang dan bersiap untuk membawanya kembali ke kamar Milley.
Tiba-tiba saja terdengar suara mobil yang sampai di halaman rumah. Terdengar suara pintu depan yang dibuka secara paksa. Entah dari mana Dylan muncul bersama Tuan Chryst lalu menampar pipi Michael dengan sangat keras.
"Dasar ba**ngan berkedok! Beraninya kau merebut calon istriku, hah!"
Dylan memukul Michael secara membabi buta. Bahkan sup panas yang baru saja matang itu hampir mengenai wajahnya kalau ia tidak berhasil menghindar.
"Stop Dylan, kamu bisa membunuhnya!" teriak Tuan Chryst.
Dylan menoleh, lalu kembali mencengkeram kaos yang dipakai oleh Michael.
"Dimana Milley?"
"Dylan ...." teriak Milley.
Dylan yang mendengar suara Milley menoleh dengan tatapan penuh amarah. Bukannya memeluk Milley ia malah mendorong tubuh Milley hingga jatuh.
"Ka-kau, wanita murahan! Jangan sekali-kali kau mendekatiku kembali!"
Tentu saja ucapan Dylan menyakiti hatinya. Michael yang mendengar hal itu segera menghampiri Milley dan memeluknya.
Dylan menoleh, "Dan kau! Cepat bawa pergi wanita murahan ini, kalian lebih pantas menjauh dariku untuk selamanya!"
"Baiklah, sejak saat ini aku akan mengatakan padamu, jika aku akan mempertanggungjawabkan semuanya dan menikah dengan Milley."
Dylan tertawa perih. Ia terluka akan penghianatan ini.
__ADS_1
🍂Beberapa jam lalu.
Dylan masih memperhatikan dengan seksama ponsel yang ia pegang, sepertinya ia familiar dengan hal tersebut. Laporan kesaksian Lea mengatakan jika Milley di culik membuat Dylan semakin murka.
"Apa kau tidak bisa melihat dengan jelas siapa mereka?"
"Maaf, Tuan saya tidak bisa melihat dengan teliti karena sesaat kemudian saya pingsan."
"Baiklah, apapun kesaksianmu aku sangat berterima kasih kepadamu!"
Lea menunduk hormat lalu pergi dari hadapan Dylan dan Tuan Chryst. Meskipun sangat khawatir, tetapi ia yakin jika Milley baik-baik saja. Belum reda kekhawatirannya, ada seseorang utusan datang.
Ia membawa sebuah paket yang berisi video panas antara Milley dan Michael. Tentu saja Dylan marah dan meradang. Apalagi bersamaan dengan video tersebut ada tulisan yang mengatakan, "Jika kamu tidak percaya, datanglah ke alamat berikut!"
Dengan segera ia membawa orang-orangnya menuju ke alamat yang dimaksud. Ternyata benar apa yang tertulis di sana. Ia menemukan Milley beesama dengan Michael.
Seperti seorang kekasih, ia bahkan sempat membuatkan makanan untuk Milley. Dari sana kepercayaan Dylan runtuh sudah. Tuan Chryst tidak bisa berbuat apa-apa.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
.
.
Selamat malam minggu. Jangan lupa mampir di karya teman literasi Fany ya. Makasih.
__ADS_1