NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 120. TERNYATA


__ADS_3

Ternyata gadis yang berada di samping Michael saat di pesawat adalah Viola. Gadis yang bernama Viola ini adalah kerabat dekat Milley. Ia adalah sepupu Virgo lebih tepatnya. Robby ayah kandung Virgo mempunyai adik perempuan dan ia adalah ibunya Viola.


"Viola, maaf karena ibu kamu harus banyak berkorban dalam hal ini, ibu hanya ingin memastika bahwa kakak kandung ibu dan keluarganya masih hidup," ucapnya sambil tertunduk.


Wanita cantik yang tidak pernah terlihat menua itu adalah Angel, adik kandung Robby sekaligus ibu dari gadis cantik bernama Viola Jasmine Alazza.


Sejak kecil Viola dan keluarganya tinggal di Swiss sama seperti negara asal ayah Virgo. Namun karena sesuatu hal mereka harus pindah ke Paris. Sejak saat itu mereka membuka bisnis fashion. Sejak saat itu pula, Angel harus berpisah dan kehilangan komunikasi dengan Robby.


Karena Robby yang memilih menikah dengan Lena, akhirnya mereka pergi ke Indonesia. Padahal ia pernah berjanji, jika nanti mereka sampai, Robby akan menghungi Angel. Rupanya nasib baik tidak berpihak padanya. Ponselnya hilang saat masih berada di bandara.


Oleh karena itu, ia harus mencoba peruntungan dengan bekerja di salah satu perusahaan. Hal itu ia lakukan agar perekonomian keluarga kecilnya membaik. Namun, lagi dan lagi karirnya tidak juga membaik.


Robby dipecat, ia pun menjadi frustasi karena beban perekonomian Ibu Kota mencekik leher. Belum lagi saat itu ia sedang hamil Virgo. Sementara itu Lena diusir dari keluarga besarnya karena berani menikah dengan orang asing.


Latar belakang Lena yang berasal dari panti asuhan lalu diadopsi oleh keluarga kaya raya, ternyata tidak menjamin jika ia akan hidup bahagia. Sejak Robby melamar Lena, keluarga angkatnya sudah mencoret nama Lena dari silsilah keluarga.


Ibu angkat Lena tidak suka putrinya gagal menjadi menantu dari Keluarga Anggara. Karena kecewa maka sejak itu pula kebencian ibu angkat Lena bertambah. Lalu ditambah lagi ia menikah dengan orang asing yang miskin. Oleh karena itu, ia pun kembali menjadi anak yatim piatu.


Akan tetapi, jodohnya ternyata bukanlah orang baik. Robby ternyata semakin hari semakin berulah. Ia menganggap Lena sebagai pembawa sial, karena sejak menikah selalu terjadi musibah. Padahal hal itu terjadi karena Robby penyebabnya.


Di tambah lagi dengan kebiasaan suka minum-minuman dan berjudi membuat Lena harus membanting tulang untuk menghidupi keluarganya. Hingga lahirlah Virgo, di saat yang sama, adik perempuan Robby juga melahirkan Viola.


Mungkin karena keduanya mewarisi gen keluarga dari Robby akhirnya kedua gadis itu berwajah hampir mirip, itulah yang menjadi alasan kenapa Viola dan Virgo sama-sama mempunyai iris mata emerald dan struktur wajah yang sama.


Saat ini Viola sedang bekerja sama dengan salah satu designer di Indonesia, oleh karena itu ia pergi ke Indonesia untuk mengunjunginya. Lagi pula ia juga mengemban sesuatu hal dari mendiang ibunya untuk mencari keluarga pamannya yang tinggal di Indonesia. Berbekal foto Lena dan Robby ia akan mencari keberadaan mereka.


Setelah pesawat mereka mendarat, Viola bergegas pergi menuju hotel tempat ia tinggal. Sementara itu, Michael langsung menuju apartemennya. Selepas ia bersih-bersih dan berganti pakaian ia akan langsung pergi ke perusahaan milik keluarga Anggara.


KEDIAMAN TUAN CHRYST


“Selamat pagi, my hubby.”


“Selamat pagi, my wife.”

__ADS_1


Milley sudah menyiapkan beberapa menu makanan untuk sarapan suaminya. Hari ini dengan di dampingi Jo, Dylan akan pergi ke perusahaan untuk rapat pemegang saham. Ia tidak tahu jika Michael juga bersiap untuk hadir di sana.


“Bagaimana enak nggak?” tanya Milley saat Dylan menyuapkan satu sendok makanan ke mulutnya.


“Hm, enak banget. Semua masakan kamu pasti selalu enak,” puji Dylan.


“Kalau begitu biar nanti sewaktu makan siang, aku akan membawakannya satu untukmu.”


“Siap, biar nanti sopir yang menjemputmu.”


“Terima kasih, Sayang. Aku berangkat dulu.”


Setelah berpamitan dan mengecup kening Milley, Dylan segera pergi ke perusahaanya. Sementara itu, Rebecca sedang bersiap untuk masuk ke kediaman Tuan Chryst setelah melihat mobil Dylan pergi.


Sepertinya ini waktu yang tepat, Dylan sudah berangkat ke kantor.


“Pak, segera kemudikan mobilnya masuk, sekarang!”


Setelah Dylan pergi, Milley mulai merapikan meja makan. Derap langkah dari pintu depan membuatnya menghentikan aktivitasnya.


“Siapa yang datang?” gumam Milley.


Belum sempat ia beranjak, suara Rebecca menggelegar di sana. Ditambah lagi tepukan tangan yang diberikannya saat ini.


“Wow, menantu kesayangan sedang apa nih?” tanya Rebecca sambil tersenyum menyeringai.


“Ma-mama, silakan duduk Ma. Maaf Milley tidak menyambut Mama.”


Buru-buru Milley mendekati Rebecca hendak menyalami beliau, tetapi ia mengibaskan tangan Milley saat hampir sampai.


“Tidak perlu basa-basi. Kedatanganku ke sini hanya untuk meminta hakku.”


“Maksud Mama, apa?”

__ADS_1


“Ya, aku minta ku keluar dari sini, karena sejak saat ini, rumah ini telah menjadi milikku Milley.”


“Loh, bukankah sejak dulu rumah ini memang milik Mama?”


“Kalau kamu tahu diri, harusnya kamu ke luar dari sini, dengan begitu aku bebas berada di sini.”


Milley tersenyum kecut, rasanya ia ingin merobek mulut Rebecca saat ini. Untung saja ia ingat kalau wanita di hadapannya saat ini adalah ibunya Dylan. Itu artinya dia ibu mertua Milley yang harus dihormati.


“Kenapa diam, masih tidak tau harus berbuat apa saat ini?”


Ucapan Rebecca mengisyaratkan bahwa dirinya benar-benar hina sekali, padahal ia tidak pernah berpikiran seperti itu. Milley berada di dalam rumah itu karena ia merupakan istri Dylan dan ia menghormati suami dan juga Tuan Chryst.


“Apa Mama menyuruhku untuk pergi dari sini?”


Rebecca tertawa senang.


“Tentu saja, kenapa kamu tidak peka dari tadi!”


Milley tidak menyangka, jika dirinya tidak pernah diterima di hati Rebecca. Padahal sedari dulu ia tidak pernah saling bersinggungan, tetapi saat ini membuatnya sadar jika tidak akan pernah ada tempat di hati Rebecca untuk dirinya.


“Perlu kau ingat Milley, sampai kapan pun yang menjadi menantuku hanyalah Rose seorang!”


“Dan kau, gadis perebut suami orang, sebaiknya kau meminta maaf pada menantuku! Tidak sepantasnya anak seorang yang kotor berada di sini!”


“Apa maksud Nyonya? Apa yang Anda katakan tidak terbalik? Bukankah Nyonya yang menyebut calon suami orang? Oh ya, satu lagi. Rose juga wanita perebut calon tunangan orang?”


Rebecca tersentak oleh ucapan Milley barusan. Bagaimana bisa ia mengucapkan hal tersebut? Padahal kenyataannya memang demikian.


Rebecca yang sudah dikuasai kebencian segera mendekati Milley dan mencekiknya. Tentu saja Milley kesakitan, sebenarnya ia ingin melawannya tetapi kenyataannya Milley tidak bisa melawan karena ia masih menghormatinya.


Lalu sesaat kemudian datanglah seseorang yang berdiri di depan pintu.


"Nona Milley ...." teriaknya.

__ADS_1


__ADS_2