
Beberapa minggu kemudian setelah Tuan Chryst berhasil di operasi. Michael lebih sering berkunjung ke Rumah Sakit, sama seperti hari ini. Selepas mengunjungi Tuan Chryst di jam makan siangnya, ia berniat segera kembali ke kantor.
Banyak pekerjaan yang membuat Michael harus bergerak cepat. Apalagi hal itu sudah diberi tahukan oleh Jo asisten Tuan Chryst. Ia tidak mau membuat kepercayaan yang diberikan kepadanya runtuh seketika jika ia hanya berleha-leha.
Setelah keluar dari ruang perawatan Tuan Chryst, Michael bergegas kembali ke rumah. Ia sama sekali tidak memperdulikan keberadaan Viola yang sekali lagi berada satu lift bersama Michael.
"Ha-ah, lelaki ini lagi," gumamnya sambil tersenyum simpul.
Namun, Viola memperhatikan hal tersebut. Sepertinya ia mulai tertarik dengan sosok laki-laki di hadapannya kali ini.
"Kenapa aku selalu bertemu dengan lelaki ini?" gumam Viola.
"Apakah aku akan bertemu dengan Virgo berkat bantuan lelaki ini?"
Lamunan Viola membuatnya tidak sadar jika pintu lift terbuka dan orang yang berdiri di sampingnya menyenggol bahu Viola yang secara tidak langsung membuatnya hampir oleng.
Sehingga secara tidak sadar Viola menarik lengan Michael untuk menjaganya agar tidak terjatuh. Tentu saja Michael terkejut dan menoleh ke arahnya.
"Hai, ketemu lagi, kamu tidak apa-apa?" sapa Michael ramah.
Viola tersenyum kaku lalu mulai melepaskan tautan tangannya. Ia segera merapikan penampilannya karena pandangan intens dari Michael cukup membuatnya tidak percaya diri.
"Terima kasih untuk tadi, maaf membuat kakak terkejut."
Michael tesenyum ramah, "It's ok, yang terpenting kamu tidak apa-apa, bukan?"
Secara tidak sadar, tangan Viola terulur pada Michael. Ia yang menyadari hal itu segera menjabat tangan Viola.
"Iya, maaf, bisakah kita berteman, sepertinya banyak sekali ketidaksengajaan yang membuat kita sering bertemu."
"Hahaha, betul sekali."
Viola mengulurkan tangannya kembali ke arah Michael sambil tersenyum.
"Hai, namaku Viola, kalau kamu?""
"Michael, panggil saja begitu."
"Senang berkenalan denganmu."
Viola tersenyum kepada Michael, lalu keduanya berbincang-bincang untuk sesaat sampai pintu lift terbuka.
"Setelah ini mau kemana?"
"Mungkin balik ke kantor, kalau kamu?"
__ADS_1
"Aku belum ada acara, jadi mungkin balik ke hotel."
"Ok. Mungkin lain kali kita bisa bertemu lagi."
"Iya. Ok, aku pamit."
Michael melangkah terlebih dahulu, sementara Viola hanya bisa memandangnya dari kejauhan. Keduanya berpisah menuju mobil masing-masing. Michael memang harus segera pergi kembali ke perusahaan. Sedangkan Viola sudah selesai dengan urusannya. Kini ia akan segera kembali ke hotel untuk beristirahat.
Michael segera masuk ke dalam mobilnya, dan sesaat kemudian terdengar bunyi notifikasi pesan masuk. Ia pun melihatnya sebentar.
"Jangan lupa untuk makan siang, Bro," bunyi pesan dari Adam.
Michael tersenyum ketika melihat pesan dari sahabatnya tersebut. Ia tidak menyangka jika bisa memiliki sahabat seperti Adam. Selain ia baik, ia juga merupakan teman berbagi cerita yang asyik.
"Oh, ya. Aku belum sempat bercerita tentang pertemuanku dengan Viola. Sebaiknya aku akan menceritakannya nanti."
Saat ini Michael sudah mengemudikan mobilnya keluar dari Rumah Sakit. Bahkan jaraknya sudah beberapa ratus meter karena Michael melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.
Saat itu ia masih asik berbalas pesan, sehingga Michael tidak fokus pada jalan. Secara tidak sengaja mobilnya keluar jalur dan dari arah depan ada sebuah mobil yang melaju kencang dan menabrak mobil Michael dengan tiba-tiba.
Ia yang baru menyadari hal itu terlambat menginjak rem, sehingga sebuah kecelakaan hebat tidak bisa terhindarkan.
"Aaaa ...."
Tabrakan terjadi begitu cepat hingga decitan ban mobil yang terdengar memekakkan telinga. Beruntung Michael tidak terlempar keluar setelah mobilnya sempat terseret beberapa meter.
"Bukankah itu mobil Michael?" gumam Viola.
Buru-buru Viola menghentikan mobilnya di tepi jalan. Ia segera berlari ke arah mobil Michael untuk memeriksa kondisi penumpang di dalamnya. Setelah memastikan jika itu mobil yang dipakai Michael, ia segera masuk dan bersiap untuk menolongnya.
"Ya Tuhan, itu benar-benar dia, kenapa bisa terjadi seperti ini?"
Viola menoleh ke kanan dan kiri. Mungkin karena ia bukan warga negara Indonesia, maka Viola hanya bisa meminta tolong pada warga untuk menghubungi Rumah Sakit terdekat.
Ia juga belum fasih berbicara dengan Bahasa Indonesia, sehingga ia hanya menggunakan bahasa isyarat.
Tubuh Michael yang penuh luka di bagian wajah membuat Viola khawatir, terlebih lagi ada pecahan kaca yang tertancap ke bagian mata Michael.
"Semoga ia baik-baik saja!" ucap Violla di dalam hati sesaat setelah tubuhnya dibawa masuk ke dalam ambulance.
Setelah itu ia menyusul mobil ambulance dari belakang. Pada saat yang sama, gelas yang dipegang Milley terjatuh saat ia hendak membawakan minuman kopi untuk suaminya dan Michael.
Dylan yang melihat hal tersebut segera menghampiri Milley.
"Ada apa, Sayang?"
__ADS_1
"Sepertinya aku merasakan firasat buruk."
"Tapi aku baik-baik, saja."
"Iya, tetapi ini gelas kopi untuk Kak Michael. Bukankah katamu ia akan segera kembali ke sini?"
"Maksudmu kau menyiapkan hal ini untuk dia?"
Milley mengangguk, sementara Dylan memeluk tubuh istrinya itu.
"Semoga saja tidak terjadi hal yang buruk kepadanya."
Meskipun Milley merasa tidak nyaman, tetapi ia tidak berani mengatakan isi hatinya takut Dylan akan semakin cemburu terhadap Michael.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa aku merasa tidak nyaman?" gumam Milley.
Entah kenapa satu minggu ini Milley merasa ia mudah sekali merasakan hal-hal aneh. Entah itu mudah marah, ataupun tiba-tiba tidak suka ketika mencium bau-bau tertentu.
"Dylan sayang, bolehkah aku minta sesuatu?"
"Apapun keinginanmu, pasti akan selalu aku usahakan yang terbaik."
"Serius?"
"Really, mau apa aja pasti selalu ada cara untuk mewujudkan."
"Aku mau bebek betutu, tapi belinya langsung di Bali."
"Ha-ah?" Dahi Dylan mengeryit.
Sementara itu, Milley yang melihat Dylan seolah tidak percaya akan keinginannya itu segera berbalik badan.
"Kenapa sih, kamu tidak semanis Michael? Ia saja yang bukan suamiku selalu bersikap manis, tetapi kamu tidak!"
"Astaga, Sayang. Kamu merajuk, bukannya aku tidak percaya, cuma aneh aja gitu."
"Ya sudah, kalau kamu nggak bisa mengabulkan keinginanku, biar aku minta tolong Kak Michael."
"Ja-jangan begitu, Sayang. Besok kita ke Bali, oke."
"Kenapa Milley moodnya sering berubah-ubah," batin Dylan sambil memeluk gemas istrinya itu.
Milley semakin terlihat manis ketika merajuk, belum lagi bibirnya yang sengaja di monyong-monyongkan ke depan semakin membuat Dylan gemas. Akan tetapi sebuah pertanyaan besar menghampiri Dylan.
"Semoga saja keinginanmu kali ini tidak semakin aneh, karena entah kenapa aku semakin tidak mau berpisah denganmu," gumam Dylan sembari mengeratkan pelukannya pada Milley.
__ADS_1
Kira-kira apa yang terjadi?
BERSAMBUNG