NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 133. PASTI AKU BISA


__ADS_3

Tidak ada kandungan yang baik-baik saja. Semuanya pasti ada setiap fase yang harus dilewati. Entah itu menyakitkan atau tidak terasa sama sekali alias kehamilannya berjalan lancar.


Setelah mengetahui jika Milley hamil dan kandungannya lemah, membuat Dylan waspada. Sementara itu Milley merasa bahagia akhirnya sesuatu yang ditunggu sudah hadir di dalam perutnya. Meskipun ucapan dokter yang mengatakan kandungannya lemah, Milley tidak putus asa.


"Apapun perkataan dari dokter, tetapi sampai kamu lahir, Mama akan selalu melindungi kamu bahkan mempersiapkan segalanya yang terbaik untukmu, Sayang."


Milley tampak mengelus perutnya yang buncit. Ia sungguh menikmati semua fase ibu hamil dengan penuh rasa syukur. Merasakan setiap pergerakan dari bayinya bahkan selalu menyempatkan waktu untuk berbicara dengannya.


Seperti biasanya, sore itu Milley menghabiskan waktunya dengan duduk bersantai di balkon sambil memandang langit senja. Entah kenapa pemandangan cakrawala membuat hatinya tenang. Lukisan dari langit mampu memberikan semangat tersendiri untuknya.


Di saat Milley melamun, Dylan sudah berdiri di belakangnya. Ia merasa sakit saat tahu istrinya menyembunyikan hal sebesar ini. Namun, ia tidak mau membuat istrinya terbebani dengan sikapnya yang sudah berubah. Oleh karena itu ia pun bersikap seolah tidak tahu apa-apa.


Saat ini Dylan hendak memberikan sebuah kejutan pada Milley. Namun sayang, ternyata Milley membuat sebuah perkataan yang membuat kening Dylan berkerut tajam.


"Sayang, kenapa kau menyembunyikan hal sepenting ini dariku?" tanya Milley menatap lembut kelopak mata Dylan.


"Ha-ah, Milley sedang membicarakan hal apa, ya?" gumam Dylan.


Milley beranjak dari kursinya lalu berjalan masuk ke dalam kamar. Salah satu tangannya meraih remote televisi dan sesaat kemudian ia mulai menyalakan televisi di depannya. Tampilan berita terkini memperlihatkan tentang situasi terkini di perusahaannya.


Dylan bisa bernafas lega karena istrinya sedang membahas topik lain. Setidaknya tidak akan membahas tentang kehamilannya saat itu.


"Maaf, aku ingin sekali memberi tahumu, Sayang, tetapi kamu selalu membuatku tidak bisa mengatakan apa yang menjadi keinginanku," ucap Dylan bersandiwara.


"Maksudnya?" kening Milley berkerut.


Dylan menatap mesra ke arah mata Milley yang berwarna emerald itu.


"Belum sempat aku berbicara, kamu sudah marah-marah kepadaku, apakah aku masih punya kesempatan?"


Entah kenapa Milley seolah luluh dengan ucapan Dylan, terlebih tidak terlihat kebohongan di sana.


Milley menunduk malu lalu mencium pipi Dylan.


"Maaf, sayang. Bukan maksudnya aku ingin berbuat seperti itu, hanya saja ada sesuatu hal yang membuat mood aku tiba-tiba memburuk. Maaf, ya ...."


Dylan mengecup mesra tangan Milley lalu mengecup bibir istrinya yang menjadi candu untuknya.


"Love you Chamomile Milley."


"Love you too, Sayang."


"Iya, mulai sekarang tidak ada hal apapun yang akan aku sembunyikan lagi setelah ini."


"Janji?" ucap Milley sambil mengarahkan jari kelingkingnya ke arah Dylan.


"Janji!"


Dylan akhirnya mengaitkan jari kelingkingnya ke arah Milley.


Akhirnya suami istri tersebut kembali akur. Meskipun begitu Dylan masih merasa belum nyaman, tetapi apapun itu selama Milley masih mau berjuang Dylan akan terus menemaninya sampai kebahagiaan yang sesungguhnya datang kepada keluarga kecilnya.

__ADS_1


.


.


Keesokan harinya.


Suasana kediaman Tuan Chryst lumayan ramai. Pemilik rumah sudah kembali dari Rumah Sakit meskipun ia masih berada di atas kursi roda.


"Selamat pagi, Kek."


Sapa Milley dan Dylan secara bersama-sama.


"Selamat pagi."


"Wah, apakabar calon cicitku?" kekeh Tuan Chryst pada Milley.


Dylan mengusap perut Milley yang masih rata sambil tersenyum.


"Kami sangat baik, Kek."


"Mulai sekarang, ibu hamil harus mengkonsumsi banyak makanan yang mengandung asam folat dan zat besi, ya."


"Loh, Kakek kok bisa tahu?"


"Bisa dong, kan kakek sudah berpengalaman."


"Nah, betul itu, Sayang. Kamu harus menjaga kandunganmu mulai sekarang."


"Terima kasih, Nanni."


Tiba-tiba saja, pandangan mereka semua terfokus pada kedatangan kedua penjaga Milley sebelumnya.


"Selamat pagi, Nona dan Tuan Muda."


"Selamat pagi, Tuan Besar."


Lea dan Leo saling mengucapkan salam kepada junjungan mereka.


"Lea, Leo ...." sapa Milley.


"Kalian datang kembali?"


"Iya, Milley, kedua pengawalmu aku kembalikan lagi padamu. Apalagi saat ini kamu sedang mengandung, oleh karena itu kakek sengaja mengundang kembali mereka untuk mengabdi padamu."


Dylan dan Milley saling berpandangan dan mengulas senyum. Lalu berterima kasih kepada Tuan Chryst.


"Terima kasih banyak, kakek. Kebaikan kakek akan kami kenang selalu," ucap Milley dan Dylan secara bersama-sama.


Kehamilan Milley sudah menginjak minggu ke enam. Saat ini Lea dan Leo secara khusus mengawal Milley kemanabpun ia pergi.


Milley memang belum mengalami perubahan bentuk tubuh. Akan tetapi ia tidak ingin menyenangkan hatinya sebelum hasil di memeriksaan dari dokter turun dan menyatakan kandungannya baik-baik saja.

__ADS_1


Ingin rasanya Milley bersama ibunya Lena. Mimpi semalam membuat Milley bingung dan khawatir. Terlebih lagi saat ini, Lena belum memberikan kabar terbaru. Sudah dua hari beliau tidak menelpon.


"Sayang, hari ini chek up jam berapa?"


"Jam sepuluh pagi, kenapa?"


Dylan melihat agenda meetingnya. Lalu menatap sendu ke arah Milley.


"Sayang, maaf aku tidak bisa menemani kamu jam segitu, ada rapat penting saat ini. Maaf."


Milley tersenyum kecil, ia menepuk halus bahu suaminya itu.


"Tidak usah, Sayang. Kan sudah ada Lea dan Leo," ucap Milley dengan tersenyum


Dylan menghembuskan nafasnya secara kasar.


"Ya, sudah kalau begitu. Aku berangkat dulu, Sayang."


Milley merapikan dasi milik suaminya lalu mengecup tangan Dylan. Sementara itu Dylan mengecup kening Milley dan langsung berpamitan.


.


.


Akhirnya waktu yang ditunggu tiba. Milley sudah berada di ruang praktek dokter SPOG.


"Selamat pagi, dokter."


"Selamat pagi, Nona Milley."


"Sudah siap dengan pemeriksaan kami?"


"Iya, dokter."


Milley akhirnya berbaring dan suster mulai meminta Milley untuk membuka sedikit kemejanya.


"Maaf, Nyonya. Bolehkah saya mengoleskan gel ini ke perut Anda?"


"Silahkan."


Suster mulai mengoleskan gel tersebut lalu sesudahnya suster mulai menggerakan sebuah alat untuk membantu memonitor janin yang dikandung Milley. Dokter mulai mengamati hal itu di dalam monitor di depannya.


"Selamat, Nyonya. Kandungan Anda mulai memasuki minggu ke enam. Bentuknya masih sangat kecil sekali. Namun, jika Anda mengonsumsi semua vitamin dan makanan sehat sudah dipastikan bahwa kandungan Anda akan baik-baik saja."


"Betulkah, dokter?"


"Ya, tentu saja. Kenapa tidak?"


"Alhamdulillah kalau begitu."


Saat ini Milley sangat bersyukur karena ternyata memang dia dinyatakan telah hamil 5 minggu berarti beberapa hari ini mood-nya naik turun itu karena hormon kehamilan. Mungkin karena Milley tidak tahu saat dia hamil dan kapan hari ia masih mengerjakan pekerjaan rumah hingga akhirnya terjadilah tragedi itu.

__ADS_1


"Semoga kamu baik-baik di sana, ya Sayang."


__ADS_2