
"Laki-laki itu adalah calon suamiku," jawab Milley jujur.
Sontak saja Evan meremas ujung kain selimutnya. Dadanya bergemuruh mendengar jika wanita yang ia sukai akan menjadi milik orang lain. Namun, Evan teringat akan sesuatu.
"Mungkinkah ini berkaitan dengan Robby ayah Virgo? Lelaki itu terlihat sangat kaya, kontras dengan latar belakang Virgo saat ini. Pasti semua ini ada hubungannya dengan uang," ucap Evan di dalam hati.
"Ke-kenapa harus dia?" ucap Evan lirih.
"Kalau aku menceritakan semuanya pasti akan lama, Van."
"Tapi aku nggak rela Virgo, hidupku hanya untukmu, aku sangat mencintaimu."
Deg.
"Gue ditembak sahabat gue?" batin Virgo.
"Tapi Van, ini nggak seperti yang kamu bayangkan, semuanya akan tampak rumit jika kamu sampai ikut campur di dalamnya."
"Virgo semua akan membaik jika kita bersama, jadi please, tinggalin dia untuk aku. Aku juga nggak bisa hidup lama."
Evan menunduk, rasanya sakit sekali saat ini. Namun, bukan hanya ia yang bingung, Virgo jauh lebih banyak hal yang harus ia pikirkan saat ini. Jika ia salah langkah ia bisa kehilangan ibunya.
Belum sempat ia berpikir lebih lama, Dylan masuk ke dalam ruangan itu dan mendekati wanitanya. Evan menatap tajam ke arah Dylan. Ia tau jika Dylan lelaki yang tidak pantas untuk bersanding dengan Virgo.
Saat Dylan datang, Milley sadar saat ini ia harus segera kembali, kalau tidak kakek akan marah. Milley menatap lembut ke arah Evan.
"Aku pulang dulu, lain kali kita bicara lagi, kamu cepat sembuh ya."
Meskipun ada rasa tidak rela, tetapi Evan tidak bisa berbuat banyak. Terlebih lagi, Dylan seolah ingin menunjukkan jika Virgo adalah miliknya.
__ADS_1
"Kalau kau benar lelaki sejati, seharusnya kau tidak perlu merubah nama Virgo menjadi Milley seperti yang keluargamu minta," ucap Evan sambil memandang sendu atas kepergian mereka.
Dylan tidak peduli dengan pemikiran orang lain, yang ia suka pasti akan menjadi miliknya akan selalu ia pertahankan. Lagi pula saat ini Milley terikat kontrak perjanjian dengan kakeknya. Jadi, kemungkinan besar ia akan menjadi miliknya ketimbang pecundang tadi.
Di perjalanan, Milley menginjak kaki Dylan hingga ia mengaduh.
"Apa-apaan sih lo, nggak terima sama sikapku tadi!" gertak Dylan marah.
"Ya, aku nggak suka kamu ikut campur atas urusanku. Lagi pula ia sakit, kenapa kamu malah membuat dirinya semakin drop!"
"Cih, terserah apa mauku, kenapa? Kamu nggak terima? Harusnya kamu bangga bisa bersanding denganku!"
"Kalau bukan karena perjanjian dengan kakek, aku nggak sudi dekat denganmu!"
"Dasar kau!" ucapnya geram.
Dylan tidak habis pikir dengan sikap Milley yang terkadang terlihat manis, tetapi ada saatnya ia terlihat garang. Meskipun begitu terlihat jika Milley sangat berbeda dengan para wanita yang telah ia kencani selama ini.
Saat ini Dylan merasa sangat jenuh, apalagi sebelum ini ia melihat cara menatap Evan pada Milley terlihat penuh cinta. Tentu saja ia cemburu.
"Bagaimana caranya aku mendapatkan perhatian gadis ini, ya?"
"Ngapain lihat-lihat! Jangan bilang kalau kau bahagia telah merusak soreku yang indah."
"Buahahaha ... ya, aku merasa sangat bahagia akan hal ini. Apalagi melihat laki-lakimu tadi berwajah masam saat melihatku mencium kepalamu."
Wajah Milley memerah, ingin rasanya ia menonjok wajah sombong Dylan, tetapi ia mengurungkannya.
"Ah, lama-lama bersama lelaki ini bisa membuat aku gila," pekik Milley dalam hatinya.
__ADS_1
🍂Kediaman Tuan Chryst.
"Kemana lagi bocah tengik itu pergi!"
"Jam segini belum juga pulang!"
"Menurut laporan Lea dan Leo, saat ini mobil Tuan Muda menuju ke taman kota setelah dari Rumah Sakit."
"Mau apa lagi dia? Apa menurutmu Dylan sudah mencintai Virgo?" tanya kakek pada Jo asisten setianya.
"Kalau menurut saya, sepertinya sudah Tuan, tetapi Nona Virgo tidak ada rasa cinta sama sekali di dalam sorot matanya."
Tuan Chryst memutar kursinya.
"Kenapa, apa kepribadian Dylan sama sekali bukan kriteria Milley?"
"Sepertinya begitu, kalau menurut pandangan saya, Nona Milley bersikap profesional kali ini. Baginya kesehatan ibunya lebih utama daripada perasaannya."
Tuan Chryst menghela nafasnya, "Semoga aku bisa menjadikannya menantuku. Setidaknya rasa bersalahku pada Lena berkurang akan hal ini."
"Semoga begitu Tuan."
Tuan Chryst memandang hamparan halaman rumahnya yang penuh dengan kerlap-kerlip lampu taman. Ada banyak hal yang ia sembunyikan saat ini. Ia sungguh ingin memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan menantu dan istrinya pada Lena di masa lampau. Meski saat ini Morena sudah meninggal tetapi hal itu tidak menyurutkan impiannya.
Akankah ada rasa cinta yang akan menghubungkan mereka berdua di masa depan?
...🌹Bersambung🌹...
.
__ADS_1
.