NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 108. MAAF SAYANG


__ADS_3

Melihat raut kecewa dari suaminya, Milley menjadi tidak enak hati. Bagaimana ia bisa lupa jika Dylan sudah menjadi suaminya. Mungkin ini yang dinamakan takdir. Milley dan Dylan sudah terbiasa bersama tetapi sebagai musuh sehingga saat disandingkan seperti ini, kebiasaan yang terjadi membuat Milley suka lupa akan status baru mereka.


"Sayang, sorry ... serius aku nggak ingat kalau kita sudah menikah, aku kira itu mimpi," ucap Milley duduk menempel di belakang Dylan.


Saat ini Dylan masih asyik membuang muka karena ia masih marah dengan Milley. Ia tidak mau melihat Milley agar ia sadar dengan statusnya saat ini. Bagaimana tidak kesal, sudah dua kali ia melupakan statusnya sebagai suami istri.


"Dylan, Sayang ...."


Dylan beranjak pergi meninggalkan Milley untuk ke balkon. Milley yang tidak terbiasa merayu menjadi bingung sendiri saat ini.


"Aduh, dengan cara apa biar tuh songong bisa maafin gue, ya?"


Milley menggaruk kepalanya. Sesaat ia melihat ke arah cermin.


"Masa iya, gue pakai pakaian seksi, trus gimana kalau nanti dia pengen itu?"


Tiba-tiba saja, sebuah ide unik terlintas di sana. Milley tidak jadi mengejar Dylan ke balkon tetapi memilih pergi ke dapur. Di sana ada beberapa pelayan yang sedang menyiapkan makanan untuk pengantin baru tersebut.


Melihat Milley datang, semua pelayan menunduk hormat. "Selamat pagi, Nyonya."

__ADS_1


"Pagi ...." Milley tersenyum ramah pada mereka semua.


Sementara itu Dylan kebingungan saat menyadari Milley sudah tidak berada di kamar. Dylan tampak celingukan melihat ke sekelilingnya. Ia benar-benar mati kutu ketika kehilangan Milley.


"Astaga tuh cewek ya, kenapa nggak nyusul gue ke balkon sih, trus di mana dia sekarang?"


Dylan membuka kamar mandi, dan tidak menemukan Milley di sana."


"Kemana sih?"


Sesaat kemudian sudah tercium aroma masakan yang sangat mengugah selera. Harum masakan seperti ini pernah ia rasakan saat di Indonesia. Pikirannya langsung tertuju pada Milley.


Tidak mau menunggu lama, Dylan segera menuruni tangga dan menuju ke dapur. Ternyata di sana terlihat istri tercinta sedang memainkan peralatan masak. Harum masakan khas Milley semakin membuat cacing di perut Dylan meronta.


Seperti tersihir, Dylan melangkah mendekati Milley dan melingkarkan tangannya ke pinggang ramping milik Milley.


"Sayang, ternyata kamu di sini."


Sentuhan tangan dan hembusan nafas Dylan membuat Milley menegang. Akan tetapi, ia lebih malu pada semua pelayan yang berjajar rapi di pinggir dapur.

__ADS_1


Milley seketika menoleh, dan ternyata mereka semua sudah menunduk hormat. Tidak ada yang berani mengintip kegiatan mereka. Setidaknya Milley bisa bernafas lega kali ini.


"Untung mereka peka, kalau enggak bisa malu gue," gumam Milley.


Sayang, bukannya melepas tautan tangannya, Dylan semakin bergelayut manja.


"Suamiku tersayang, bisa nggak melepas tangannya sebentar, mau angkat wajannya dulu, nih."


"Eh, nggak usah, biar pelayan aja yang menyiapkan sarapan kita. Tuh dia sudah siap buat angkat wajannya."


Milley menghela nafasnya, "Dasar kelakuan orang kaya."


"Ya sudah kalau begitu, Mbak tolong angkat wajannya. Makanannya taruh di mangkuk yang aku siapkan, ya."


"Baik, Nyonya."


Milley melepas celemek lalu mengikuti Dylan yang terus menggandengnya tangannya dan mengajak ke depan.


Ternyata Dylan membawa Milley menikmati pemandangan laut yang sungguh memukau mata. Semalam ia melewatkan hal tersebut karena Dylan mengurungnya di dalam kamar, tetapi pagi ini hamparan pantai yang indah tersaji di hadapannya.

__ADS_1


Dylan berdiri di belakang Milley dan kembali menyandarkan dagunya ke bahu Milley. Menikmati indahnya lukisan alam karya Sang Pemilik Kehidupan.


__ADS_2