NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
EPISODE 52. GAGAL


__ADS_3

Merasa belum puas dengan yang dinikmati Milley saat ini, ia pun merencanakan sesuatu. Melihat hubungan Milley dan Michael yang dekat sepertinya memudahkan langkahnya melakukan jebakan.


"Kalau Dylan nggak bisa aku dapatkan, maka kau pun akan merasakan nasib yang sama denganku."


Rose mulai mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Kebetulan ia relasi di tempat kerja ayahnya dan sangat mengenal Michael. Sebagai pebisnis muda ia sangat disegani dan dirahasiakan identitasnya. Tidak mau melewatkan hal tersebut Rose mulai melakukan rencananya.


"Oke, aku akan membantumu, tetapi itu tidak gratis. Datanglah ke apartemenku setelah rencana kita berhasil."


"Sip, yang penting aku mendapatkan apa yang aku mau."


"Deal."


Malam itu perjanjian terlarang di antara mereka sudah terjadi. Rose sama sekali tidak tau akan jaminan yang akan diberikan kepadanya, yang ia tau hanyalah keinginannya bersama Dylan terpenuhi. Di sisi lain, orang yang membantu Rose menyeringai senang.


"Rose, yang kamu lakukan memang sesuatu yang salah, tetapi aku suka caramu bermain."


Akhirnya waktu yang ditunggu telah tiba. Kini Michael sedang makan malam dengan para kolega bisnisnya. Sementara itu Dylan sengaja makan malam bersama dengan Milley di luar.


"Bisa nggak, nggak usah ngajak aku keluar! Aku lagi mode males."


"Kan, cari suasana baru, masa makan di rumah terus."


"Begitu ya, tapi itu namanya pemborosan."


"Suka-suka gue, lah. Uang juga uang gue, masalah buat Lu?"


Milley sebenarnya bukan tidak suka diajak keluar, hanya saja tempat yang digunakan olehnya lumayan mewah, sehingga rasa tidak nyaman seketika menyelimutinya.


Terlihat beberapa kali ia menyembunyikan wajahnya di sana. Namun, dengan sengaja Dylan membuat Milley harus menatap ke arahnya. Sebenarnya bisa saja Milley bertingkah, tetapi ia tidak suka pura-pura.


Selepas makan malam, keduanya langsung pulang. Dylan merasa puas dengan apa yang dilakukannya barusan. Bisa kencan sekaligus makan malam bersama Milley tanpa ada gangguan.


Rose sudah bersiap menunggu hasil rencana kolaborasi yang ia lakukan dengan rekan bisnis ayahnya. Beberapa kali ia terlihat mondar-mandir di dalam kamarnya.


"Jangan sampai rencana kali ini gagal, kalau sampai cara ini gagal maka dengan sangat terpaksa aku harus melakukan rencana B," gumamnya khawatir.

__ADS_1


Tiba-tiba saja mobil yang mereka kendarai dihadang oleh beberapa orang. Mereka terlihat seperti preman terlatih. Pertama mobil Dylan dipepet sampai tepi jalan. Lalu kemudian memaksa mereka untuk keluar dari sana.


"Mereka siapa?" tanya Milley waspada.


"Nggak tau."


"Kamu di dalam mobil saja, jangan keluar!" pinta Dylan.


Sepertinya ia lupa jika Milley bisa bela diri, tetapi ia tidak gegabah. Milley masih membaca situasi di sekitarnya.


Saat mereka mulai menyerang Dylan, Milley keluar dari dalam mobil. Ia melakukan serangan dengan cepat dan penuh perhitungan. Dylan sebagai lelaki hanya bisa melongo ketika Milley mulai beraksi.


Satu persatu dari mereka mulai dapat dipatahkan olehnya. Akhirnya semua preman tersebut lari pontang-panting karena ketakutan.


"Sebaiknya kita lari dan segera lapor pada Boss."


Seorang lelaki yang mendapatkan laporan tersebut hanya bisa mengepalkan tangannya karena geram. Kejadian ini sungguh di luar prediksinya. Satu hal lagi yang membuatnya kecewa, Michael meminta ijin untuk pulang lebih dahulu dan tidak mengikuti pesta yang sudah direncanakan olehnya.


"Sial, kenapa seperti ini? Sebenarnya sehebat apa Milley itu?"


"Kamu gimana? Masih bisa menyetir nggak?"


Dylan menggeleng. Secara kebetulan mobil Michael melewati mereka. Sosok Michael yang sangat hafal dengan Milley segera menghentikan mobilnya tepat di depan mobil Dylan.


Ia keluar dari dalam mobil dan mendekatinya. Awalnya Michael mengetuk pintu sebelah kemudia, tempat Dylan duduk. Mata Milley berbinar ketika melihat Michael ada di sana.


"Kak Michael, kebetulan banget," ucap Milley senang.


Michael membalas senyuman dari Milley, tetapi Dylan sama sekali tidak menampilkan kebahagiaannya. Siapa yang suka jika rivalnya datang di saat tidak tepat seperti ini.


"Maaf, apa mobil kalian mogok? Kenapa berhenti di sini?"


Michael melihat ke arah wajah Dylan yang lebam.


"Loh, kamu kenapa?"

__ADS_1


Arah pandang Michael berpindah ke arah Milley.


"Aku nggak kenapa-napa, hanya saja ta—"


Mulut Milley tiba-tiba saja dibekap oleh salah satu tangan Dylan. Sehingga membuat Milley terpaksa menggigit tangan Dylan.


"Awh ...."


"Kenapa kamu mengigitku?" ucap Dylan kesal.


Mulut Milley mengerucut sebal. Bagaimana bisa Dylan bertingkah seolah tidak terjadi apapun padahal kenyataannya ia membutuhkan bantuan.


"Tadi ada perampok, Kak. Trus Dylan terluka, nah masalahnya sekarang kami nggak bisa pulang karena aku nggak bisa menyetir!" ucap Milley jujur.


"Ya, sudah. Ayo ikut aku pulang, mobil kalian biar diambil supir, bagaimana?"


"Aku ikut," ucap Milley senang.


"Kenapa orang ini selalu muncul di saat yang tidak tepat sih?" ucap Dylan tidak terima.


"Entahlah, yang terpenting kesempatan emasmu kini sudah mulai menghilang lagi."


Akhirnya dengan sangat terpaksa, Milley dan Dylan satu mobil dengan Michael. Meski dengan mulut menggerutu, Michael sama sekali tidak keberatan. Ia tau jika Dylan dalam mode cemburu, oleh karena itu ia membiarkannya saja.


.


.


...🌹Bersambung🌹...


Satu kesempatan gagal bukan berarti tidak ada kesempatan yang kedua kalinya. Hati-hatilah Dylan dan Milley.


Sambil nunggu up jangan lupa mampir ke sini kakak


__ADS_1


__ADS_2