
Betapa beruntungnya Milley saat memiliki orang-orang yang sangat menyayanginya. Ia tidak pernah membayangkan jika hari ini ia bisa memiliki keluarga yang utuh.
"Apakah ini mimpi, tetapi kenapa rasanya sangat nyata. Bahkan sentuhannya seperti nyata."
Milley mencubit lengannya lalu meringis ketika kesakitan. Sedangkan Dylan menatap istrinya dengan berjuta pertanyaan.
"Ada apa dengan istriku? Apa ia tidak bahagia dengan perjamuan malam ini? Ah sebaiknya aku pergi mendekatinya."
Memiliki suami yang begitu mencintainya dan juga menjadi teman berbagi suka dan duka, sungguh membuat Milley tidak berhenti bersyukur. Meskipun terkadang ada sikap Dylan yang sangat menyebalkan untuknya.
Namun, ternyata hal itu menjadi bumbu manis di dalam pernikahannya yang sebentar lagi akan menginjak tujuh tahun. Pelengkap kisah cinta mereka yang perjalanannya tidak semulus jalan tol.
Hal itu sangat lumrah dilakukan dirasakan oleh setiap pasangan. Ketika sebuah cinta diuji maka kekuatan cinta di antara mereka akan semakin tumbuh dengan kuat.
"Terima kasih, ya Allah, karena telah mengirimkan orang-orang yang baik di dalam hidupku," ucap Milley di dalam hatinya.
Namun sesaat kemudian, Dylan muncul ia terlihat sangat memikat untuk semua orang. Saat ia mendekati istrinya, Dylan terlihat sangat gagah dan berkharisma.
Padahal usia Dylan saat ini sudah menginjak angka kepala tiga, namun pesonanya tidak terbantahkan sama sekali. Tidak luntur dimakan usia dan juga polusi Ibu Kota.
Setelah sampai di hadapan Milley, tanpa aba-aba Dylan berjongkok dan memegang kedua tangan istrinya.
"Sayang, lihatlah diriku," ucap Dylan sambil berjongkok.
Milley segera menatap suaminya yang sedang ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Melihat keromantisan yang akan diperlihatkan oleh kedua pasangan serasi dan fenomenal itu, membuat detak jantung para tamu undangan ikut bergetar dan berharap-harap cemas.
"Jika ada sesuatu hal yang pernah aku lakukan hingga membuat kamu terluka, maka aku meminta maaf," ucap Dylan sambil memegang kedua tangan Milley dan menciumnya penuh kasih sayang.
"Tidak perlu meminta maaf, sudah pasti aku memaafkan semuanya, Mas. Akan tetapi tidak perlu bersikap seperti ini, bukan?" ucap Milley melirik ke kanan dan ke kiri.
Ekspresi yang ditujukkan Milley malam itu begitu menggemaskan. Hampir saja Dylan hilang kendali, beruntung para keluarganya segera datang menghampiri.
Dylan tersenyum lalu berdiri.
"Aku tidak pernah malu jika disuruh menunjukkan rasa cintaku kepadamu, kenapa justru kamu yang malu-malu?" tanya Dylan seolah mengerjai keberadaan Milley.
"Mas ...."
__ADS_1
"Apa, Sayang, kamu mau aku cium?"
"Astaga," ucap Milley dengan kesal.
Seberapa kesal Milley, Dylan sudah tahu obatnya. Sehingga tidak berapa lama kemudian, mereka sudah terlihat mesra.
Di sudut lain ruangan itu, Jingga sedang bersiap memenuhi undangan dari Dylan untuk acara makan malam. Pada hari yang sama, Rain juga diundang oleh Milley.
"Semoga saja ada keajaiban setelah ini," gumam Jingga.
Milley yang merasa malu karena suaminya menunjukkan kemesraan di depan umum hanya bisa menahan rasa malu dengan menunduk.
"Mas, sudah. Malu dilihat orang banyak."
"Biarin," ucapnya sambil memeluk pinggang ramping milik Milley.
Dari arah kejauhan, terlihat jika Jord sudah digendong oleh Tuan Chryst. Sementara itu di bagian belakangnya ada Andreas dan juga Lena.
"Semoga kamu jadi yang terbaik ya cucuku, Nenek berharap jika semuanya akan baik-baik saja setelah ini."
Di bagian paling belakang terlihat jika Jo dan Eva berjalan berdua secara beriringan. Eva yang mendorong kursi roda milik Jo. Sementara Jo terlihat tidak nyaman karena perlakuan istimewa dari Eva.
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya lebih memilih untuk tetap menemani Anda saja, lagi pula kenalan saya tidak terlalu banyak."
"Ya, sudah kalau Anda memaksa, saya tidak bisa menghalangi niat Anda."
"Terima kasih, Tuan."
Betapa bahagianya Eva saat itu, ketika ia menyadari jika Jo melunak untuk dirinya. Setidaknya ia tidak mengusir saat itu.
Merasa jika keluarganya akan segera datang, Milley mencoba melepaskan tangan Dylan, tetapi bukannya melepas, Dylan justru menarik pinggang ramping milik MIlley hingga membuat keseimbangan tubuh Milley berkurang.
Beruntung Dylan bisa menangkap tubuh Milley. Justru hal itu membuat para tamu undangan yang datang bisa melihat keromantisan dari pasangan Dylan dan Milley.
"Syukurlah kami datang di saat yang tepat," ujar Tuan Chryst yang baru saja tiba.
Sontak Milley mendorong tubuh istrinya itu, sementara Dylan seolah tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
"Bos, kalau mau menunjukkan keromantisan sebaiknya di dalam kamar saja, jangan di muka umum."
Sontak saja Dylan menoleh ke arah sumber suara. Hingga ternyata ia menemukan sosok Kean asisten serbaguna yang tadi baru saja bersuara.
"Sudah bosan hidup, Kean?"
"Ampun, Bos. Saya tidak berani," ucap Kean sambil mengarahkan jarinya ke arah Dylan seolah meminta pengampunan baginya.
Para anggota keluarga tergelak karena tingkah atasan dengan asistennya yang sangat lucu menurut mereka. Namun, mereka bersyukur akhirnya kehidupan mereka bisa bahagia dan bersatu.
Dari tempat duduknya, Jord tersenyum ketika melihat ibu dan ayahnya bersatu. Tidak ada hal yang membahagiakan kecuali memiliki keluarga utuh dan bahagia. Sudah lama ia memimpikan hal ini.
Tuan Chryst yang gemas dengan tingkah polah Jord akhirnya membisikkan sesuatu pada cicitnya tersebut.
"Bagaimana kalau kamu minta seorang adik sama Papa dan Mama?"
Seketika Jord menoleh ke arah kakeknya dan tersenyum bahagia.
"Boleh, Kek. Asalkan aku tidak kekurangan kasih sayang dari mereka, aku mau!" ucapnya bersemangat.
Ucapan Jord yang sedikit berteriak membuat atensi semua anggota keluarga yang hadir dalam makan malam tersebut menjadi melihat ke arah Jord. Tentu saja Jord menjadi salah tingkah. Sukses tingkah lucu dan polos Jord membuat semuanya tertawa.
"Ha ha ha ...." tawa bahagia semua anggota keluarga.
Saat Jingga sudah sampai di sana, secara kebetulan kembali pandangan mata Rain dan Jingga bertemu. Seolah sedang menyampaikan sebuah rasa kerinduan yang mendalam di antara keduanya tidak dapat di abaikan begitu saja.
"Jinggaku telah kembali, aku sangat merindukanmu," ucap Rain di dalam hati.
"Mas Rain, akhirnya tibalah di ujung penantian cintaku, aku sangat merindukanmu, Mas."
Tampak kedua mata pasangan yang terpisah itu saling berbicara satu sama lain. Hingga tiba saatnya ketika Tuan Chryst mempersilakan semua tamu undangan untuk makan malam.
"Ya, ampun Jingga kamu itu sangatlah cantik dan berkelas, seharusnya kamu sudah membawa pendamping saat ini," ujar Tuan Chryst.
"Seperti yang biasa aku katakan kepadamu, seharusnya kamu sudah memiliki pendamping."
Jingga hanya bisa tersenyum ketika menanggapi ucapan dari mereka. Akan tetapi jika Jingga boleh memilih seharusnya ia duduk berdampingan dengan pujaan hatinya saat ini.
__ADS_1
Sayang, semua berjalan seperti mimpi, karena sampai akhir perjamuan, Jingga dan Rain tidak bisa saling berbicara satu sama lain.
BERSAMBUNG