NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 59. TERSIKSA


__ADS_3

..."Setiap luka yang telah tertoreh akan selamanya membekas di dalam dada. Tidak akan pernah hilang meskipun telah disembuhkan."...


...***...


Kekecewaan yang di alami Dylan belum seutuhnya sembuh. Semakin ia mencoba menghapus ingatannya saat bersama Milley, semakin terasa luka itu.


Belum sembuh luka yang diberikan oleh Milley datang lagi satu masalah baru. Rose mengaku telah dilecehkan oleh Dylan. Ia terlihat terpuruk dan malu untuk pergi ke kampus saat ini. Bahkan ia mengatakan jika ia merasa jijik pada tubuhnya yang telah dirusak oleh Dylan.


Dylan memijit pelipisnya yang terus berdenyut kencang. Efek dari minuman keras yang ia minum semalam belum sepenuhnya hilang. Saat ini yang bisa ia lakukan adalah membuat sebuah perhitungan dengan Rose.


"Beraninya ia menuduhku melecehkannya!"


Ruang kerja Dylan diketuk dari luar. Ternyata Nanni datang membawakan sebuah teh jahe hangat untuknya.


"Permisi Tuan, ini ada secangkir teh jahe hangat untuk mengurangi efek minuman kerasnya," ucap Nanni sambil membungkuk.


"Terima kasih Nanni, silakan kau keluar!"


Nanni menunduk lalu meninggalkan kamar Dylan. Kalau bukan karena perintah Milley ia sebenarnya enggan untuk masuk ke kamar Tuan Mudanya tersebut. Sayangnya ia harus tetap patuh padanya.


Meskipun ia bukan Nona Mudanya lagi, hubungan baik tetap dilakukan oleh Nanni dengan Milley. Tanpa sepengetahuan orang-orang di rumah, begitu pula dengan Jo.


Meskipun ini sangat beresiko tetapi ini lebih baik daripada hatinya terus bergejolak. Ia sama sekali tidak percaya jika Milley sampai hati berbuat serendah itu. Lagi pula Tuan Michael bukanlah typikal orang rendahan.


"Lebih baik aku tetap melaporkan semua hal yang terjadi di rumah ini," gumam Nanni sebelum ia benar-benar pergi dari depan kamar Dylan.


🍂Apartemen Michael.


"Selamat pagi, Pak Dosen."


Milley menyapa ramah Michael yang baru datang ke dapur. Senyumnya mengembang secerah mentari pagi. Hal itu sukses membuat Milley terlihat semakin cantik dengan wajah yang memerah.


"Pagi, gadis manis, sedang masak apa nih?"


Belum sempat aku menjawab pertanyaannya ia sudah berbicara kembali.


"Sepertinya mengerjaiku pagi-pagi membuat moodnya membaik."


"Rajin banget, jadi makin sayang," kelakar Michael.


"What? Fix nih dosen salah minum obat," gumamku.


Namun, bukan hanya itu yang ia lakukan. Dengan cekatan ia mengambil apron lalu mulai memainkan pisau yang berada di tangan kanannya. Ternyata dia menyiapkan salad buah pagi itu.


"Wow, sebagai seorang laki-laki, dia cukup cekatan sekali."


"Bagaimana, apa ada yang bisa aku bantu?"


Dia menatapku dengan cukup intens kali ini.


"Bagaimana bisa ia tetap tampan sesudah memasak, sementara aku terlihat buluk di sini?"


Pikiran-pikiran aneh mulai menyerang Milley saat ini, tetapi ia tidak tau perasaan apa yang menyerangnya saat ini.

__ADS_1


Terlebih lagi, saat ini hubungan Milley dan Michael sudah membaik. Kini bahkan keduanya saling membahu dalam mengurus apartemen Michael. Seperti pagi ini menyiapkan menu sarapan untuk berdua. Tanpa sebuah hubungan dan status yang jelas, tetapi mereka saling mengasihi.


Luka yang ditorehkan Dylan masih terasa, tetapi kesalahpahaman diantara dia dan Michael sudah clear. Setidaknya masih ada bahu lain untuk bersandar saat Dylan menyakitinya. Itulah yang dipikirkan oleh Milley.


Saat ini keduanya sudah duduk dan saling berhadapan di meja makan. Desain ruang makan yang minimalis membuat jarak keduanya tidak terlalu jauh.


"Mau makan yang mana dulu, nih?" tanya Milley tampak basa-basi.


"Terserah kamu aja, lah, yang penting kan ikhlas."


"Wkwkwk, oke kakak."


"Nah gitu dong, masa setiap hari barengan masih panggil Pak Dosen aja. Ini di rumah Milley!"


Michael tampak seolah menyadarkan hubungan kami, saat di kampus memang hubungan mereka adalah dosen dan murid, tetapi ketika berada di luar itu, harusnya hubungan kami lebih dari sekedar teman biasa. Kalau dari mata orang lain, memang keduanya lebih terlihat sebagai sepasang kekasih.


"Iya, iya Milley salah, aku ngaku deh, maaf ya."


"Oke."


Michael segera memasukkan satu suapan ke mulutnya, setelah itu baru ia memulai kembali pembicaraan lagi.


"Lalu, bagaimana kelanjutan hubungan kita?"


"Uhuk!"


Milley yang baru saja menyeruput sup hangat menjadi tersedak akibat pertanyaan tidak terduga dari Michael. Hidung Milley bahkan terlihat memerah, Michael yang melihatnya bergegas mendekati Milley dan memberikan segelas air putih dan menepuk perlahan punggungnya.


"Pelan-pelan kenapa sih, suka banget bikin orang khawatir," ucap Michael keceplosan.


Hanya saja perbedaan tinggi dan latar belakangnya yang terkadang membuat Milley minder. Kontak mata mereka terputus karena tiba-tiba ponsel Michael berdering.


"Sorry, bentar ada telepon, kelihatannya penting."


"Iya."


Detak jantung Milley yang sedang jogging tadi kini sudah berangsur normal. Hanya dengan perhatian Michael sekecil itu sungguh berhasil memporak-porandakan hatinya.


"Andai Dylan bisa bersikap seperti itu, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi."


Sontak Milley menggeleng-gelengkan kepalanya agar bayangan Dylan menghilang. Michael yang baru saja pulang dari balkon heran pada tingkah Milley.


"Hallo, Mill ... kamu kenapa, nggak oleng, kan?"


"Oleng bosku, tadi abis makan anggur buat pencuci mulut eh malah bijinya ketelen."


"Wkwkwk, kurang kerjaan banget sih. Yuh ah, berangkat!"


"Lah, kan belum cuci piring?"


Milley masih melihat beberapa makanan belum ia makan, tetapi Pak Dosen sudah mengajaknya pergi ke kampus. Untung Michael tau arah pemikiran Milley.


"Tenang aja, sebentar lagi ada orang yang bersih-bersih rumah, kok. Jadi buruan kita berangkat biar cepat sampai."

__ADS_1


"Siap, lah. Yuk cap cuzz."


Tanpa Milley sadari, tangannya menggandeng mesra salah satu lengan Michael. Sebuah senyum terbit di ujung bibir Michael.


"Semoga aku bisa seterusnya melihat senyuman di wajah cantik kamu, Milley."


.


.


Dylan yang melihat perhatian dari Nanni seolah seperti mendapatkan perhatian dari Milley.


"Kenapa perhatian kecil seperti ini mengingatkanku pada dia," gumam Dylan sambil menyeruput teh jahenya.


Dylan menutup wajahnya untuk sementara waktu. Bayangan Milley seolah enggan pergi dari kamar itu. Ranjang yang berjumlah dua, meja belajar yang sama, harum parfum yang biasa digunakan olehnya bahkan masih bisa tercium dengan jelas.


"Andai kamu kembali, apakah rasa ini akan tetap sakit seperti ini?"


Ada sebuah amplop yang tidak sengaja ia ambil dari dalam laci. Dipandanginya seorang wajah bayi perempuan cantik dengan mata berwarna emerald.


Meskipun masih kecil tetapi bayi tersebut sudah kelihatan cantik.


"Siapa sebenarnya kamu? Kenapa kamu disandingkan bersamaku?"


.


.


Rose sedang tertawa senang, ia berkali-kali tertawa renyah karena ia bisa mendapatkan Dylan. Namun, tawanya mereda ketika ia merasakan mual.


Rose segera berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Rasanya sangat tidak nyaman. Seolah-olah perutnya serasa diaduk-aduk saat ini.


"Hoek ... hoek ... hoek ...."


Rose memuntahkan apa yang berada diperutnya. Namun, bukannya makanan yang keluar hanyalah cairan berwarna kuning di sana. Lalu mulutnya terasa sangat masam.


Kepala Rose seketika menjadi pening dan pusing. Dengan berpegangan erat pada tembok ia berjalan menuju ranjangnya.


"Pusing sekali," keluhnya.


.


.


...🌹Bersambung🌹...


Selamat hari senin guys, oh ya kebetulan di bulan Juni othor belajar nulis horor nih, siapa tau kalian mau mampir.


"WANITA BAHU LAWEYAN"



Kalau suka horor tapi agak lucu boleh mampir di sini kak, "HANTU GESREK"

__ADS_1


Semoga suka dengan karya Fany kakak semuanya,


__ADS_2